Ringkasan Berita:
- Trump menuai kecaman luas setelah mengunggah video di Truth Social yang menampilkan Barack dan Michelle Obama secara rasis, dinilai sebagai simbol penghinaan terhadap warga kulit hitam.
- Kontroversi membesar karenaGedung Putih sempat membela sebelum akhirnya menghapusnya di tengah tekanan, termasuk kritik dari Partai Republik.
- Trump menolak meminta maaf dan mengaku tidak bersalah, menyebut dirinya “presiden paling tidak rasis”, sementara pengamat menilai sikap itu berisiko memperdalam polarisasi.
Gelombang kecaman keras kembali menerpa mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah ia mengunggah sebuah video yang sarat akan nuansa rasisme di platform media sosialnya, Truth Social. Konten digital tersebut, yang secara eksplisit menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama dengan penggambaran yang sangat merendahkan, memicu badai kritik dari berbagai spektrum politik dan masyarakat luas. Insiden ini, yang terjadi di tengah dinamika politik AS yang sudah terpolarisasi, menyoroti kembali sensitivitas isu rasial dan standar komunikasi para pemimpin publik. Awalnya, pihak Gedung Putih sempat membela unggahan kontroversial ini, namun kemudian menghapusnya di bawah tekanan publik dan bahkan kritik dari internal Partai Republik. Meski demikian, Trump tetap pada pendiriannya, menolak untuk meminta maaf dan bersikeras bahwa ia tidak melakukan kesalahan, sebuah sikap yang menurut banyak pengamat justru berpotensi memperdalam jurang polarisasi di Amerika.
Video yang menjadi inti kontroversi tersebut menampilkan visualisasi yang menyamakan Barack dan Michelle Obama dengan kera, sebuah representasi yang dalam sejarah Amerika Serikat memiliki konotasi rasial yang sangat mendalam dan menyakitkan. Penggambaran semacam ini bukan hanya sekadar karikatur, melainkan sebuah bentuk dehumanisasi yang telah lama digunakan sebagai alat penghinaan dan penindasan terhadap warga kulit hitam. Dalam konteks sosial dan sejarah bangsa, visual tersebut membangkitkan memori kelam perbudakan dan era segregasi, di mana orang kulit hitam seringkali digambarkan sebagai makhluk inferior atau sub-manusia untuk membenarkan diskriminasi sistemik. Publikasi konten semacam ini, apalagi dari akun yang berafiliasi dengan seorang mantan presiden, sontak memicu gelombang kecaman yang meluas dari berbagai kalangan, mulai dari politisi, akademisi, aktivis hak sipil, hingga masyarakat umum yang merasa terganggu oleh pesan kebencian yang tersirat di dalamnya. Kontroversi ini semakin membesar karena unggahan tersebut berasal dari platform Truth Social, yang merupakan kanal komunikasi utama Trump, sehingga dianggap mencerminkan standar komunikasi dan sikap kepemimpinan yang seharusnya dipegang oleh seorang tokoh nasional.
Reaksi awal dari pihak Gedung Putih terhadap unggahan tersebut menambah lapisan kompleksitas pada polemik ini. Pada mulanya, ada indikasi pembelaan atau setidaknya minimnya respons cepat untuk menarik konten tersebut. Namun, seiring dengan meningkatnya gelombang kritik yang tak terbendung, termasuk dari tokoh-tokoh berpengaruh di dalam Partai Republik sendiri, konten rasis itu akhirnya ditarik dari peredaran. Langkah penghapusan ini merupakan tindakan yang tergolong jarang terjadi, mengingat reputasi Donald Trump yang dikenal seringkali mempertahankan pernyataan atau unggahan kontroversialnya, bahkan ketika menghadapi tekanan publik yang kuat. Setelah penghapusan, pemerintah kemudian mencoba meredakan situasi dengan menyebut bahwa unggahan tersebut berasal dari staf yang tidak disebutkan namanya, sebuah penjelasan yang gagal sepenuhnya meredakan kemarahan publik. Kecaman tidak hanya datang dari kubu oposisi, Partai Demokrat, tetapi juga dari kalangan internal Partai Republik. Senator Tim Scott dari Carolina Selatan, seorang politikus kulit hitam terkemuka yang selama ini dikenal sebagai sekutu setia Trump, secara tegas menyebut unggahan tersebut sebagai “hal paling rasis” yang pernah ia lihat dari Gedung Putih, menggarisbawahi betapa seriusnya pelanggaran etika dan moral yang terjadi.
Implikasi Politik dan Kerusakan Citra Kepresidenan
Selain isi kontennya yang sangat ofensif, kritik juga diarahkan pada standar komunikasi seorang presiden di ruang publik. Para pengamat politik dan komunikasi menilai bahwa penggunaan media sosial untuk menyebarkan materi bernuansa rasis secara terang-terangan dapat merusak citra institusi kepresidenan dan memperburuk polarisasi politik yang sudah sangat tinggi di Amerika Serikat. Tindakan semacam ini tidak hanya menciptakan perpecahan, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan publik terhadap integritas kantor kepresidenan dan kemampuan seorang pemimpin untuk menyatukan bangsa. Lebih lanjut, kritik juga diarahkan pada penanganan awal Gedung Putih yang sempat membela unggahan tersebut sebelum akhirnya menghapusnya beberapa jam kemudian di tengah tekanan publik yang memuncak. Langkah tersebut dinilai menunjukkan kurangnya respons cepat dan sensitivitas terhadap isu-isu rasial yang sangat peka, serta mengindikasikan adanya disfungsi dalam tim komunikasi presiden. Insiden ini juga bukan yang pertama kali. Trump memiliki sejarah panjang dalam menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten provokatif dan kontroversial, termasuk video deepfake atau AI yang menggambarkan Barack Obama ditangkap dan dijebloskan ke penjara, yang juga memicu kecaman luas. Pola perilaku ini memperkuat persepsi bahwa Trump sengaja menggunakan retorika dan citra yang memecah belah untuk tujuan politik tertentu.
Penolakan Minta Maaf dan Strategi Komunikasi Trump
Meskipun unggahannya menuai badai kecaman dari berbagai lapisan masyarakat, Donald Trump dengan tegas menolak untuk menyampaikan permintaan maaf. Sikap tersebut ia sampaikan secara terbuka saat ditanya oleh awak media, bahkan di tengah tekanan politik yang signifikan, termasuk desakan dari sejumlah tokoh penting Partai Republik. Ketika ditanya apakah ia akan meminta maaf atas kontroversi yang memanas ini, Trump dengan lugas menegaskan bahwa dirinya tidak merasa melakukan kesalahan. “Tidak. Saya tidak membuat kesalahan,” ujar Trump, mencerminkan sikap defensif yang konsisten dan keyakinan bahwa kritik terhadap dirinya tidak berdasar. Meskipun demikian, saat didesak lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak mendukung unsur rasis dalam video tersebut dan menegaskan mengutuk bagian yang dianggap bermuatan rasial. Namun, pernyataan ini tidak diikuti dengan pengakuan tanggung jawab atau penyesalan atas unggahan yang telah memicu polemik besar dan melukai banyak pihak. Trump juga menolak anggapan bahwa kontroversi semacam ini dapat berdampak negatif terhadap elektabilitas Partai Republik, khususnya di kalangan pemilih kulit hitam. Ia justru membela rekam jejak pemerintahannya, menyatakan bahwa kebijakan yang ia jalankan selama menjabat menunjukkan komitmennya terhadap semua kelompok masyarakat. “Ngomong-ngomong, saya adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” klaim Trump, sebuah pernyataan yang kontras dengan persepsi publik dan analisis para pengamat.
Para pengamat politik dan ahli strategi komunikasi menilai ada beberapa alasan kuat di balik penolakan keras Trump untuk meminta maaf. Pertama, Trump dikenal konsisten dengan gaya komunikasi politiknya yang jarang sekali mengakui kesalahan secara terbuka. Bagi Trump dan basis pendukungnya, mengakui kesalahan seringkali dianggap sebagai tanda kelemahan, yang dapat merusak citra kepemimpinan yang tegas dan tak tergoyahkan. Kedua, dengan menolak meminta maaf, ia berupaya menjaga citra seorang pemimpin yang kuat dan tidak tunduk pada tekanan politik maupun media, sebuah persona yang sangat disukai oleh basis pendukung intinya. Strategi ini juga dilihat sebagai upaya untuk mempertahankan basis pendukung inti yang selama ini melihat kritik terhadap Trump sebagai serangan politik yang bermotivasi partisan. Dengan menolak permintaan maaf, Trump justru memperkuat narasi bahwa ia adalah korban “perburuan penyihir” yang dilakukan oleh media dan lawan politiknya. Namun, di sisi lain, keputusan untuk tidak meminta maaf berpotensi memperluas kritik dari kelompok moderat, pemilih independen, dan bahkan sebagian konservatif yang menghargai sensitivitas rasial dan etika komunikasi publik. Sikap ini diperkirakan akan memperdalam polarisasi politik yang sudah mengakar di Amerika Serikat, menjauhkan kelompok-kelompok yang mungkin mencari titik temu.
Kontroversi ini menambah panjang daftar polemik komunikasi publik yang melibatkan Donald Trump, dan diperkirakan masih akan menjadi sorotan utama dalam dinamika politik nasional, terutama menjelang pemilihan umum mendatang. Dampaknya tidak hanya terbatas pada persepsi pemilih terhadap citra kepemimpinan Trump, tetapi juga pada bagaimana isu sensitivitas rasial dan akuntabilitas dalam penggunaan media sosial akan diperdebatkan di panggung politik. Insiden ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi masyarakat Amerika dalam mengatasi perpecahan rasial dan politik, serta pentingnya kepemimpinan yang mampu menyatukan, bukan memecah belah. Debat seputar konten rasis, respons Gedung Putih, dan penolakan Trump untuk meminta maaf akan terus bergema, membentuk diskusi tentang masa depan politik dan kohesi sosial di Amerika Serikat.

















