Jakarta, IDN Times – Sebuah pernyataan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss, telah menarik perhatian global. Dalam pidatonya, Trump secara spesifik menyinggung nama Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dan melontarkan kritik tajam terkait kontribusi Kanada terhadap proyek sistem pertahanan misil yang diberi nama sandi “Golden Dome.”
Trump menegaskan bahwa proyek Golden Dome, yang ia klaim dibangun sebagian besar untuk melindungi Kanada dari potensi serangan misil, seharusnya mendapatkan apresiasi yang lebih besar dari pihak Kanada. Menurut pandangan Trump, Kanada dianggap tidak bersyukur atas manfaat yang mereka terima secara cuma-cuma dari inisiatif pertahanan Amerika Serikat ini. “Kita sedang membangun Golden Dome yang akan melindungi Kanada juga. Kanada juga mendapat banyak keuntungan cuma-cuma dari kita. Mereka seharusnya juga berterima kasih. Tapi mereka tidak. Saya menonton Anda, Perdana Menteri (Carney) kemarin. Dia tidak begitu berterima kasih,” ujar Trump, menyiratkan kekecewaannya terhadap sikap Perdana Menteri Kanada.
Lebih lanjut, Presiden Trump menekankan ketergantungan Kanada pada Amerika Serikat, menyatakan bahwa keberadaan dan kemakmuran negara tetangganya itu sangat bergantung pada kekuatan dan dukungan AS. Ia kemudian memberikan peringatan langsung kepada Perdana Menteri Carney, mengingatkannya untuk berhati-hati dalam setiap pernyataan publik yang dibuatnya. “Kanada ada karena Amerika Serikat. Ingat itu Mark saat lain kali Anda menyampaikan pernyataan Anda,” tegas Trump, sebuah pesan yang sarat makna dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik.
Reaksi dan Pernyataan Perdana Menteri Kanada
Menariknya, pada hari yang sama, Selasa, 20 Januari 2026, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, juga menjadi salah satu kepala negara yang menyampaikan pandangannya di forum bergengsi tersebut. Meskipun dalam pidatonya ia tidak secara eksplisit menyebut nama Donald Trump atau merespons langsung tudingan tersebut, Carney memberikan sinyal kuat mengenai pandangannya terhadap lanskap geopolitik global yang sedang berubah. Ia merujuk pada fenomena “hegemoni Amerika” yang semakin terasa dampaknya.
Carney mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai pergeseran paradigma keamanan dan ekonomi global. Ia menyatakan bahwa asumsi-asumsi lama yang selama ini dianggap memberikan rasa aman dan kemakmuran bagi Kanada, seperti keuntungan geografis dan kekuatan aliansi, kini tidak lagi dapat diandalkan sepenuhnya. “Warga Kanada tahu bahwa asumsi lama soal letak geografis yang memberikan kenyamanan, aliansi yang memberikan kemakmuran dan keamanan, kini tak lagi valid,” ujarnya, menggarisbawahi ketidakpastian yang dihadapi Kanada di tengah dinamika internasional yang kompleks.
Tantangan Era Isolasionisme dan Kebutuhan Kolaborasi Global
Dalam analisisnya, Perdana Menteri Carney menyoroti konsekuensi negatif dari pendekatan yang semakin mengarah pada isolasionisme. Ia menggambarkan sebuah skenario “dunia benteng” di mana negara-negara cenderung menutup diri, yang menurutnya akan berujung pada kondisi yang lebih buruk bagi semua pihak. “Pendekatan yang lebih isolasionis, di mana ada ‘dunia benteng’, akan membuat negara-negara menjadi lebih miskin, rapuh, dan tidak berkelanjutan,” jelasnya. Meskipun demikian, Carney mengakui bahwa tren ini tampaknya tak terhindarkan dan akan terus terjadi.
Menghadapi realitas ini, Carney menekankan pentingnya Kanada untuk menjalin kerja sama yang erat dengan negara-negara sekutu yang memiliki visi serupa. Tujuannya adalah untuk secara kolektif dapat melawan dominasi yang mungkin timbul dari negara-negara yang memiliki kekuatan lebih besar, baik dari segi ekonomi maupun militer. “Tetapi, kata dia, hal itu tetap akan terjadi. Oleh sebab itu, Kanada harus bekerja sama dengan sekutu yang berpikiran sama bahwa memungkinkan untuk melawan dominasi oleh negara-negara yang lebih besar, lebih kaya, dan bersenjata lengkap.” Pernyataan ini mengindikasikan strategi Kanada untuk memperkuat posisinya di panggung dunia melalui solidaritas multilateral.
Lebih lanjut, Perdana Menteri Carney memberikan pandangan optimis namun realistis mengenai masa depan. Ia menegaskan bahwa tatanan global yang lama tidak akan kembali, dan meratapinya bukanlah solusi. “Tatanan lama tidak akan kembali. Kita tidak seharusnya meratapinya. Nostalgia bukanlah strategi,” tegasnya. Sebaliknya, ia mengajak untuk melihat perpecahan dan tantangan yang ada sebagai peluang untuk membangun sesuatu yang lebih baik. “Tetapi dari keretakan ini, kita dapat membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih adil,” tuturnya, sebuah seruan untuk inovasi dan rekonstruksi tatanan dunia yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan pasca-perubahan paradigma global.
Klaim Trump Mengenai Greenland
Di luar perdebatan mengenai sistem pertahanan dan aliansi internasional, Presiden Donald Trump juga sempat melontarkan klaim lain yang menarik perhatian, meskipun tidak terkait langsung dengan pidato Carney. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekerasan untuk mengambil alih Greenland. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap spekulasi dan diskusi yang beredar mengenai kemungkinan AS mengakuisisi wilayah strategis tersebut. Meskipun Trump sebelumnya pernah mengungkapkan ketertarikannya untuk membeli Greenland, kali ini ia menekankan pendekatan damai dalam mewujudkan aspirasinya, jika memang ada kemungkinan untuk itu. Pernyataan ini, meskipun terkesan sporadis, mencerminkan gaya komunikasi Trump yang seringkali tidak terduga dan mampu menarik perhatian media internasional.


















