Kunjungan kenegaraan yang sarat dengan tensi diplomatik dan manuver politik terselubung mewarnai agenda internasional menjelang keberangkatan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuju Davos, Swiss. Laporan eksklusif dari Channel News Asia (CNA) mengungkap serangkaian pernyataan kontroversial yang dilontarkan Trump sehari sebelum ia dijadwalkan menginjakkan kaki di tanah Alpen. Dalam sebuah pidato yang disiarkan dari Gedung Putih, Trump tidak segan-segan melontarkan sindiran tajam yang ditujukan kepada para pemimpin negara-negara Eropa. “Saya akan pergi ke tempat yang indah di Swiss, dan saya yakin saya akan disambut dengan sangat gembira,” ujar Trump, menyiratkan adanya potensi sambutan yang tidak sepenuhnya hangat atau bahkan penuh keraguan dari pihak tuan rumah. Jadwal resminya mencakup penyampaian pidato kunci di forum ekonomi dunia di Davos pada pukul 14.30 waktu setempat, sebuah panggung yang biasanya menjadi ajang dialog konstruktif, namun kali ini diwarnai oleh nada provokatif dari orang nomor satu di Amerika Serikat.
Tekanan Diplomatik dan Strategi Keamanan Arktik
Inti dari friksi diplomatik ini berakar pada ambisi Trump untuk mengakuisisi Greenland, sebuah wilayah otonom yang secara geografis berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark. Trump secara konsisten menegaskan bahwa Greenland, dengan kekayaan sumber daya mineralnya yang melimpah, memegang peranan krusial dalam menjaga keamanan strategis Amerika Serikat dan aliansi NATO. Kepentingan ini semakin mendesak mengingat dinamika geopolitik yang berkembang pesat di kawasan Arktik. Mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim secara progresif membuka jalur pelayaran baru dan akses ke sumber daya alam yang sebelumnya sulit dijangkau, menjadikan Arktik sebagai arena persaingan strategis baru antara kekuatan global, terutama Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Ketika ditelisik lebih jauh mengenai sejauh mana langkah konkret yang akan ditempuh AS untuk mewujudkan akuisisi Greenland, Trump hanya memberikan jawaban samar, “Kalian akan mengetahuinya,” sebuah respons yang semakin memicu spekulasi dan kegelisahan di kalangan diplomat internasional.
Respon Bersatu Eropa dan Ancaman Tarif
Menghadapi pendekatan yang dianggap agresif oleh Trump, para pemimpin negara-negara Eropa tidak tinggal diam. Mereka menunjukkan sikap solidaritas dan persatuan yang kuat. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara terbuka menyatakan komitmennya untuk melawan segala bentuk upaya “menggertak” yang dilancarkan oleh AS. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Eropa terhadap potensi distabilisasi tatanan internasional akibat kebijakan unilateral Amerika Serikat. Lebih lanjut, Uni Eropa sebagai entitas politik dan ekonomi yang besar, berjanji akan memberikan respons yang tegas dan terukur terhadap setiap bentuk tekanan yang dilancarkan oleh pihak Amerika Serikat. Kesiapan Eropa untuk bersatu ini menjadi sinyal bahwa ancaman Trump tidak akan dianggap enteng. Trump, sebagai respons terhadap penolakan dan sikap bersatu Eropa, meningkatkan eskalasi dengan mengancam akan memberlakukan tarif impor hingga 25 persen terhadap delapan negara Eropa yang secara eksplisit mendukung Denmark dalam sengketa akuisisi Greenland. Ancaman tarif ini, yang merupakan instrumen kebijakan perdagangan yang kuat, memicu serangkaian peringatan balasan dari negara-negara Eropa. Namun, Trump tampaknya meremehkan potensi dampak dari kebijakan balasan tersebut. “Apa pun yang mereka lakukan terhadap kami, yang perlu saya lakukan hanyalah menandinginya dan itu akan kembali ke arah mereka,” ujar Trump, menunjukkan keyakinannya akan keunggulan strategis Amerika Serikat dalam perang dagang semacam itu.
Penolakan KTT G7 dan Insiden Air Force One
Konflik diplomatik ini semakin memanas ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam forum di Davos pada hari Selasa, melontarkan kritik pedas terhadap upaya Amerika Serikat yang dinilainya bertujuan untuk “menundukkan Eropa”. Macron secara tegas menyebut ancaman tarif yang dilayangkan oleh Trump sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” dan melanggar prinsip-prinsip hubungan internasional yang saling menghormati. Sebagai balasan, Trump dilaporkan mengejek Macron dengan membocorkan detail percakapan pribadi, yaitu pesan singkat dari Presiden Prancis yang mengusulkan penyelenggaraan KTT G7 di Paris. Tujuan pertemuan darurat tersebut adalah untuk membahas isu akuisisi Greenland dan situasi di Ukraina. Namun, Trump dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan menghadiri pertemuan tersebut, sebuah penolakan yang semakin menegaskan keretakan dalam hubungan transatlantik. Di sisi lain, perjalanan Trump menuju Davos tidak luput dari insiden teknis yang signifikan. Menurut laporan dari kantor berita Anadolu, pesawat kepresidenan Air Force One terpaksa melakukan pendaratan darurat dan kembali ke Joint Base Andrews sesaat setelah lepas landas akibat terdeteksinya masalah listrik. “Demi kehati-hatian, Air Force One kembali ke pangkalan. Presiden dan tim akan menggunakan pesawat lain untuk melanjutkan perjalanan ke Swiss,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis oleh akun Rapid Response Gedung Putih di platform X (sebelumnya Twitter). Insiden ini, meskipun tidak membahayakan keselamatan Presiden, menambah nuansa ketidakpastian pada kunjungan yang memang sudah diliputi kontroversi.
Sebelum kembali bertolak menuju Swiss dengan pesawat pengganti, Trump mengakui secara terbuka ketidakpastian yang menyelimuti lawatannya. “Ini akan menjadi perjalanan yang menarik. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kalian diwakili dengan baik,” ujarnya kepada para wartawan yang menunggunya, sebuah pernyataan yang mengindikasikan bahwa agenda sebenarnya di Davos kemungkinan besar akan melampaui sekadar pidato ekonomi, namun juga mencakup negosiasi dan konfrontasi diplomatik yang intens.
Pilihan Editor: Trump Unggah Gambar Dirinya Bawa Bendera AS di Greenland


















