Dalam sebuah dialog virtual yang krusial, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Rabu, 4 Februari, dilaporkan telah menjalin komunikasi yang konstruktif, menandai pertemuan virtual pertama mereka sejak November. Pertemuan ini menjadi sorotan utama karena membahas serangkaian isu sensitif yang selama ini menjadi sumber friksi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, termasuk status Taiwan, dinamika perdagangan, dan aspek keamanan yang kompleks. Pembicaraan ini tidak hanya menjadi ajang diplomasi, tetapi juga sinyal penting menjelang kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing dalam dua bulan ke depan, serta dalam konteks persiapan KTT global yang dijadwalkan pada bulan April.
Salah satu poin penting yang mengemuka dari pertemuan ini adalah potensi peningkatan signifikan dalam pembelian komoditas kedelai Amerika Serikat oleh China. Menurut laporan yang mengutip sumber terpercaya, Presiden Xi Jinping dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menaikkan volume pembelian kedelai AS dari angka 12 juta ton menjadi 20 juta ton pada musim tanam tahun ini. Perkembangan ini disambut positif oleh pasar komoditas global, yang tercermin dari kenaikan harga kedelai. Presiden Trump sendiri melalui platform media sosialnya, Truth Social, menyatakan apresiasinya terhadap hubungan yang terjalin baik dengan Presiden Xi, menekankan pemahaman bersama mengenai pentingnya menjaga hubungan bilateral yang stabil. Pernyataan ini mengindikasikan adanya upaya bersama untuk meredakan ketegangan dan membangun kembali kepercayaan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pergulatan Isu Taiwan dan Implikasi Penjualan Senjata
Isu Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling krusial dan berpotensi memicu ketegangan dalam hubungan AS-China. Ketegangan ini semakin diperparah dengan pengumuman Amerika Serikat pada bulan Desember lalu mengenai penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah kepada Taiwan, dengan nilai mencapai US$11,1 miliar. Paket penjualan ini mencakup sistem persenjataan canggih yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Taiwan, termasuk sistem yang dapat digunakan untuk menghadapi potensi serangan dari daratan China. Menanggapi langkah ini, Beijing secara tegas meminta Washington untuk “menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan hati-hati,” sebuah peringatan yang menggarisbawahi sensitivitas isu ini bagi China. Beijing memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan harus bersatu kembali dengan daratan, sebuah klaim yang secara konsisten ditolak oleh pemerintah Taiwan. Meskipun Amerika Serikat secara resmi mengakui kebijakan “Satu China” yang dianut Beijing, Washington tetap mempertahankan hubungan tidak resmi yang kuat dengan Taipei, termasuk menjadi pemasok utama sistem pertahanan bagi pulau tersebut. Sikap AS ini sering kali dipandang oleh China sebagai campur tangan dalam urusan internal mereka dan sebagai provokasi yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Upaya Menjaga Stabilitas dan Menghadapi Tantangan Global
Di tengah kompleksitas hubungan bilateral, para analis memberikan pandangan bahwa kedua belah pihak secara sadar berupaya untuk mengirimkan sinyal positif guna mempertahankan stabilitas hubungan AS-China. Bonnie Glaser, seorang pakar terkemuka dari German Marshall Fund of the United States, mengemukakan bahwa kedua negara menunjukkan keinginan untuk menjaga keseimbangan dan mencegah eskalasi konflik. Menariknya, Presiden Trump juga secara eksplisit menepis kekhawatiran yang mungkin timbul terkait investigasi terhadap Wakil Ketua Komisi Militer Pusat China, Zhang Youxia. Trump menegaskan bahwa di China, hanya ada satu pemimpin tertinggi, yaitu Presiden Xi Jinping, sebuah pernyataan yang dapat diartikan sebagai pengakuan terhadap otoritas tunggal Xi dan upaya untuk menyederhanakan dinamika kekuasaan di Beijing. Pernyataan ini juga bisa menjadi upaya untuk menghindari persepsi adanya perpecahan atau persaingan internal di dalam pemerintahan China yang dapat mempersulit negosiasi.
Lebih jauh lagi, pembicaraan ini juga menyentuh isu-isu keamanan global yang lebih luas. Berakhirnya perjanjian nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat telah meningkatkan risiko terjadinya perlombaan senjata baru. Dalam konteks ini, China, dengan stok nuklirnya yang terus berkembang, diperkirakan akan memainkan peran yang semakin signifikan. Presiden Trump menyatakan minatnya untuk melibatkan China dalam upaya pengendalian senjata global, sebuah langkah yang ambisius mengingat sejarah ketidakpercayaan dan persaingan strategis antara kedua negara. Di sisi lain, dalam beberapa bulan terakhir, terlihat adanya pelonggaran kebijakan AS terhadap Beijing. Meskipun sebelumnya AS kerap menuding China sebagai penyebab di balik kebijakan kerasnya di berbagai wilayah, kini Trump tampaknya mulai melonggarkan beberapa pendekatan, mulai dari tarif perdagangan yang sebelumnya membebani hingga pembatasan pada teknologi canggih seperti chip komputer dan drone. Perubahan sikap ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk menciptakan ruang bagi dialog yang lebih substantif dan kolaborasi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

















