Sejarah Iran modern telah lama diwarnai oleh intrik geopolitik dan perjuangan internal yang kompleks, di mana pertempuran narasi seringkali sama sengitnya dengan konfrontasi fisik. Salah satu babak awal yang paling mencolok dalam perang informasi ini terungkap pada tahun 1986, ketika surat kabar bergengsi The Washington Post melaporkan sebuah operasi rahasia yang melibatkan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA). Menurut laporan tersebut, CIA tidak hanya terlibat dalam mendukung elemen-elemen oposisi Iran, tetapi juga secara aktif membekali sekutu-sekutu dari Reza Pahlavi – putra mendiang Shah Iran yang diasingkan – dengan pemancar televisi mini. Perangkat canggih pada masanya ini dirancang untuk memungkinkan siaran rahasia berdurasi 11 menit yang ditujukan langsung ke Iran, dengan tujuan membajak sinyal dari dua stasiun televisi negara. Operasi ini bukan sekadar tindakan sabotase teknis; ia merupakan upaya strategis untuk menembus sensor ketat rezim Republik Islam yang baru berdiri, menyebarkan pesan alternatif, dan mengikis legitimasi pemerintah di mata publik. Pada era Perang Dingin dan di tengah berkecamuknya Perang Iran-Irak, kontrol atas informasi menjadi aset krusial, dan pembajakan sinyal televisi adalah cara berani untuk menantang monopoli negara atas media.
Beranjak beberapa dekade kemudian, taktik serupa, meskipun dengan aktor dan konteks yang berbeda, kembali muncul ke permukaan. Pada tahun 2022, di tengah gelombang protes nasional yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dan meluasnya gerakan “Woman, Life, Freedom”, beberapa saluran televisi Iran secara mengejutkan menayangkan rekaman yang menunjukkan para pemimpin dari kelompok oposisi yang diasingkan, Mujahedeen-e-Khalq (MEK). Lebih jauh lagi, siaran tersebut menampilkan grafis yang secara eksplisit menyerukan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam perang informasi, menunjukkan bahwa kemampuan untuk menembus jaringan penyiaran negara tetap menjadi alat yang kuat bagi kelompok oposisi. MEK, sebuah organisasi yang memiliki sejarah panjang dan kontroversial dalam menentang pemerintah Iran, memanfaatkan momen ketidakpuasan publik yang meluas untuk menyampaikan pesan paling provokatif mereka. Pembajakan ini tidak hanya menunjukkan kerentanan sistem media Iran, tetapi juga menyoroti tekad kelompok oposisi untuk memanfaatkan setiap celah guna menantang otoritas rezim, bahkan dengan cara-cara yang dapat dianggap sebagai tindakan subversif oleh pemerintah.
Dinamika Oposisi: Peran Reza Pahlavi dan Seruan untuk Perubahan
Di tengah gejolak domestik yang terus-menerus, Reza Pahlavi II, putra terakhir dari dinasti Shah Iran, telah muncul sebagai salah satu suara terkemuka dari oposisi di pengasingan. Dengan latar belakang sejarah keluarganya yang pernah memimpin Iran, Pahlavi secara konsisten menyerukan transisi menuju sistem pemerintahan yang demokratis dan sekuler. Dalam salah satu seruannya yang paling signifikan, Pahlavi mendorong para demonstran untuk turun ke jalan pada tanggal 8 Januari, sebuah tanggal yang mungkin dipilih karena resonansi historis atau strategisnya, meskipun tahun pastinya tidak disebutkan secara eksplisit dalam konteks ini, namun sangat mungkin merujuk pada gelombang protes besar di tahun 2023. Seruan ini datang pada saat yang kritis, di mana pihak berwenang Iran merespons dengan mematikan akses internet secara luas. Pemadaman internet adalah taktik yang sering digunakan oleh pemerintah Iran untuk menghambat komunikasi di antara para demonstran, membatasi penyebaran informasi tentang protes, dan mempersulit organisasi perlawanan. Tindakan ini secara efektif mengisolasi warga dari dunia luar dan satu sama lain, menunjukkan betapa rezim sangat bergantung pada kontrol informasi untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah tekanan publik yang masif. Seruan Pahlavi, meskipun datang dari luar negeri, bertujuan untuk memberikan arah dan momentum bagi gerakan yang sebagian besar bersifat organik dan terdesentralisasi di dalam negeri.
Namun, terlepas dari profil publiknya di kalangan diaspora dan upayanya untuk menggalang dukungan, seberapa besar dukungan nyata untuk Reza Pahlavi di dalam Iran sendiri masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab secara pasti. Lingkungan politik Iran yang represif membuat survei opini publik yang independen hampir mustahil dilakukan, sehingga sulit untuk mengukur sentimen rakyat secara akurat. Masyarakat Iran terdiri dari berbagai spektrum ideologi dan aspirasi, termasuk mereka yang merindukan masa monarki, mereka yang menginginkan republik sekuler yang baru, serta kelompok-kelompok etnis dan agama yang memiliki tuntutan otonomi atau hak-hak khusus. Banyak warga Iran, terutama generasi muda yang tidak memiliki ingatan langsung tentang pemerintahan Shah, mungkin memiliki pandangan yang beragam atau bahkan skeptis terhadap kembalinya monarki. Selain itu, pemerintah Iran secara aktif menekan setiap bentuk ekspresi dukungan terhadap Pahlavi, sehingga menyulitkan siapa pun untuk secara terbuka menyatakan afiliasi mereka. Oleh karena itu, meskipun Pahlavi adalah figur penting dalam narasi oposisi di pengasingan, kemampuannya untuk menyatukan berbagai faksi oposisi di dalam negeri dan mengklaim dukungan mayoritas tetap menjadi tantangan besar dan poin perdebatan di antara para analis.
Korban Jiwa: Angka Tragis dan Pertarungan Narasi


















