Dalam lanskap geopolitik Arktik yang semakin memanas, suara-suara dari Greenland muncul dengan ketegasan yang tak terbantahkan, menuntut kedaulatan penuh atas wilayah dan sumber dayanya. Sebuah pernyataan keras dari anggota parlemen Greenland telah mengguncang diskusi internasional, menegaskan bahwa tidak ada entitas eksternal, termasuk Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), yang berhak menegosiasikan urusan yang berkaitan dengan Greenland tanpa partisipasi dan persetujuan eksplisit dari rakyatnya. Pernyataan ini bukan sekadar penolakan, melainkan manifestasi mendalam dari keinginan Greenland untuk mengukir jalannya sendiri di panggung global, terutama saat perhatian dunia semakin terfokus pada potensi strategis dan kekayaan mineral di wilayah Arktik yang sebelumnya terpencil. Ini menandai titik penting dalam perdebatan tentang hak penentuan nasib sendiri dan pengelolaan sumber daya di salah satu wilayah paling sensitif di dunia.
Aaja Chenmitz, seorang tokoh terkemuka dan salah satu dari dua perwakilan terpilih Greenland di parlemen Denmark, menjadi corong utama dari sentimen kedaulatan ini. Chenmitz, yang dikenal atas advokasinya yang gigih untuk hak-hak Greenland dan otonomi yang lebih besar, dengan tegas menyatakan, “Tidak ada yang berkaitan dengan kami tanpa kami.” Pernyataan ini menggarisbawahi prinsip fundamental penentuan nasib sendiri dan menolak segala bentuk intervensi atau negosiasi di balik pintu tertutup yang dapat mempengaruhi masa depan Greenland. Sebagai anggota parlemen dari sebuah wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri namun masih berada di bawah Kerajaan Denmark, suara Chenmitz membawa bobot representasi ganda: ia berbicara untuk konstituennya di Greenland sekaligus mempengaruhi kebijakan di tingkat nasional Denmark, yang secara langsung berkaitan dengan hubungan luar negeri dan pertahanan Greenland. Penolakannya terhadap campur tangan NATO bukan hanya retorika politik, melainkan cerminan dari kekhawatiran mendalam akan potensi pengabaian kepentingan lokal demi agenda geopolitik yang lebih besar, yang dapat mengancam identitas dan keberlanjutan Greenland.
Kedaulatan Greenland dan Kepentingan Strategis Arktik
Komentar Chenmitz yang menyebut intervensi NATO sebagai “hal yang benar-benar gila”


















