Dalam sebuah gestur diplomatik yang sarat makna, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan kunjungan bersejarah ke Tiongkok pada Kamis, 29 Januari 2026, menandai pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak tahun 2018. Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen penting dalam memulihkan dialog antara London dan Beijing, tetapi juga diwarnai oleh sebuah hadiah simbolis yang menarik perhatian: sebuah bola sepak yang pernah digunakan dalam pertandingan Liga Primer Inggris. Bola tersebut, seperti yang dilaporkan oleh Anadolu dan dikonfirmasi oleh BBC, berasal dari laga akhir pekan sebelumnya antara dua raksasa sepak bola Inggris, Manchester United dan Arsenal. Pemberian bola ini, yang ditujukan kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping, seorang penggemar klub Manchester United, diduga kuat merupakan upaya untuk menumbuhkan hubungan yang lebih hangat dan membuka pintu kerja sama di berbagai sektor, termasuk olahraga yang memiliki potensi besar untuk menjembatani perbedaan budaya dan politik. Pertemuan ini menjadi fokus utama dalam upaya Inggris untuk memperkuat kemitraan strategis komprehensif dengan Tiongkok, sebagaimana diungkapkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, yang menggambarkan pertemuan tersebut sebagai “sukses” dan memberikan “harapan yang baik dan stabil untuk kerja sama antara berbagai sektor kedua belah pihak.”
Diplomasi Bola Sepak dan Aspirasi Tiongkok
Hadiah bola sepak dari Perdana Menteri Starmer kepada Presiden Xi Jinping lebih dari sekadar pertukaran suvenir. Ini mencerminkan strategi yang lebih luas yang dikenal sebagai “sepak bola diplomasi” yang telah lama diupayakan oleh Inggris, terutama melalui promosi Liga Primer Inggris yang sangat populer di kancah global. Tiongkok, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, memiliki ambisi besar untuk memajukan sepak bola nasional, sebuah impian yang dikenal sebagai “Soccer Dream” Xi Jinping. Keinginan ini tidak hanya sebatas peningkatan prestasi tim nasional, tetapi juga mencakup pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas liga domestik, dan pembinaan generasi muda. Kunjungan Starmer dan pemberian bola tersebut dapat dilihat sebagai upaya Inggris untuk memanfaatkan aspirasi ini, menawarkan dukungan dan keahlian dari kompetisi sepak bola terbaiknya, English Premier League, kepada Chinese Super League. Referensi dari berbagai sumber, seperti laporan tempo.co yang menyebutkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadiahkan bola sepak kepada Presiden Xi Jinping, dan skripsi yang membahas “Kebijakan Soccer Diplomacy Inggris terhadap Tiongkok,” menggarisbawahi pentingnya olahraga ini sebagai alat diplomasi. Kunjungan ke akademi Manchester City, seperti yang dilaporkan oleh Bola.com, di mana Xi Jinping dan David Cameron disambut Chairman klub, Khaldoon Al Mubarak, juga menunjukkan adanya ketertarikan yang mendalam dari pemimpin Tiongkok terhadap pengembangan sepak bola.
Perluasan Kemitraan Strategis dan Isu Global
Di luar konteks olahraga, pertemuan antara Keir Starmer dan Xi Jinping juga menyentuh berbagai isu bilateral dan global yang krusial. Kedua pemimpin sepakat untuk mengembangkan kemitraan strategis komprehensif yang bersifat jangka panjang dan konsisten, sebuah pernyataan yang mencerminkan keinginan kedua belah pihak untuk hubungan yang lebih stabil dan konstruktif. Pembahasan juga mencakup isu-isu sensitif seperti Taiwan dan Hong Kong. Mengenai Taiwan, Inggris menegaskan kembali kebijakan lamanya yang tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka dan tidak menjalin hubungan diplomatik, sebuah posisi yang konsisten dan tidak akan berubah. Sementara itu, kedua negara sepakat bahwa kemakmuran dan stabilitas Hong Kong merupakan kepentingan bersama. Inggris melihat Hong Kong sebagai “jembatan unik dan penting” yang menghubungkan kedua negara. Pertemuan ini juga melibatkan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, yang mendesak kedua belah pihak untuk “memanfaatkan keunggulan komplementer mereka untuk memperluas dan meningkatkan perdagangan bilateral.” Li menyatakan kesediaan Beijing untuk meningkatkan frekuensi pertukaran dan penyelarasan di bidang ekonomi, serta memperdalam kerja sama di sektor-sektor industri baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan manufaktur canggih. Penandatanganan beberapa perjanjian kerja sama setelah pertemuan ini menandai langkah konkret dalam upaya mempererat hubungan ekonomi kedua negara.
Kelonggaran Visa dan Perdagangan Bebas
Salah satu hasil konkret dari pertemuan ini adalah pemberian izin perjalanan bebas visa selama 30 hari bagi warga negara Inggris yang berkunjung ke Tiongkok. Kebijakan ini, yang merupakan bagian dari kesepakatan untuk memerangi kejahatan transnasional dan imigrasi ilegal, diharapkan dapat mempermudah perjalanan bisnis dan pariwisata. Pernyataan dari pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa aturan visa akan dilonggarkan, memungkinkan pengunjung untuk datang ke Tiongkok tanpa perlu visa untuk urusan bisnis maupun pariwisata selama periode tersebut. Tiongkok sendiri telah menerapkan kebijakan bebas visa secara sepihak kepada 48 negara, sebagai upaya untuk mendorong kedatangan wisatawan asing, yang tahun lalu mencapai 82 juta. Lebih dari 70 persen pelancong internasional kini menikmati akses bebas visa ke Tiongkok, menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok. Langkah ini sejalan dengan upaya Tiongkok untuk membuka diri lebih lebar terhadap dunia luar dan memfasilitasi pertukaran internasional, yang juga mencakup kolaborasi di sektor pendidikan, medis, keuangan, dan jasa, serta penelitian bersama dalam bidang-bidang strategis seperti AI, biosains, energi baru, dan teknologi rendah karbon.
Multilateralisme dan Tatanan Global
Dalam pertemuan yang berlangsung selama 80 menit, Presiden Xi Jinping menyerukan agar kedua negara mengadvokasi dan mempraktikkan multilateralisme sejati. Ia menekankan bahwa hukum internasional hanya akan efektif jika semua negara mematuhinya, dan negara-negara besar memegang peran penting dalam memimpin dengan contoh, agar dunia tidak kembali ke “hukum rimba.” Xi juga mendesak London dan Beijing untuk bekerja sama menjadikan tata kelola global “lebih adil dan merata,” serta mewujudkan “dunia multipolar yang setara dan tertib serta globalisasi ekonomi yang bermanfaat dan inklusif secara universal.” Pernyataan ini mencerminkan visi Tiongkok tentang tatanan global yang lebih berkeadilan dan multipolar, di mana kekuatan-kekuatan besar bekerja sama untuk menciptakan stabilitas dan kemakmuran bersama. Kunjungan Starmer ini terjadi di tengah lanskap geopolitik yang kompleks, termasuk ketegangan terkait tarif Amerika Serikat dan perdebatan di antara sekutu Barat mengenai berbagai isu, termasuk ambisi AS di Greenland. Kehadiran Starmer di Tiongkok, yang membawa serta delegasi 50 pengusaha, sebagaimana dilaporkan dalam “Pilihan Editor,” menunjukkan komitmen Inggris untuk menjaga dialog dan mencari peluang kerja sama di tengah tantangan global.
Potensi Kerja Sama dan Tantangan Masa Depan
Kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke Tiongkok pada Januari 2026, dengan hadiah bola sepak yang sarat makna, membuka babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Di satu sisi, ada optimisme terhadap potensi kerja sama di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, teknologi, hingga olahraga, yang didukung oleh kesepakatan bebas visa dan keinginan bersama untuk memperkuat kemitraan strategis. Di sisi lain, hubungan Inggris-Tiongkok tetap kompleks, dengan adanya perbedaan pandangan mengenai isu-isu hak asasi manusia, keamanan siber, dan isu-isu geopolitik lainnya. Keberhasilan diplomasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk menavigasi perbedaan tersebut sambil fokus pada area-area di mana kepentingan bersama dapat ditemukan. “Soccer Dream” Xi Jinping, yang didukung oleh diplomasi sepak bola Inggris, bisa menjadi salah satu jembatan potensial, namun tantangan struktural dalam pengembangan sepak bola Tiongkok tetap ada, seperti yang disinggung dalam analisis “Soccer Dream Xi Jinping Gagal Total?”. Kunjungan ini, meskipun diwarnai oleh simbolisme, juga memberikan kesempatan bagi kedua negara untuk membangun kembali kepercayaan dan mencari jalur kerja sama yang saling menguntungkan di panggung global yang semakin dinamis. Perluasan detail informasi mengenai pertemuan ini, termasuk diskusi mengenai Taiwan dan Hong Kong, serta penekanan pada multilateralisme, menunjukkan kedalaman dialog yang terjadi dan potensi dampaknya terhadap tatanan internasional.


















