Situasi geopolitik dunia pada tahun 2026 kembali memanas. Konflik yang melibatkan poros Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menciptakan riak besar pada stabilitas ekonomi global. Salah satu dampak paling nyata yang dirasakan Indonesia adalah ancaman terhadap ketahanan energi nasional.
Di tengah ketidakpastian ini, Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menyoroti satu solusi strategis yang mendesak: percepatan konversi kendaraan listrik. Menurutnya, ketergantungan pada bahan bakar fosil di tengah gejolak perang adalah jebakan yang bisa melumpuhkan ekonomi domestik.
Krisis Energi dan Ancaman Inflasi Global
Konflik yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama dunia secara otomatis mengganggu rantai pasok energi. Ketika jalur distribusi terhambat atau produksi minyak mentah terganggu akibat perang, harga minyak dunia akan melonjak drastis. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, ini adalah alarm bahaya.
Mengapa Harga Minyak Terus Bergejolak?
Kenaikan harga BBM bukan sekadar masalah di SPBU, melainkan pemicu inflasi sistemik. Hampir seluruh sektor industri, mulai dari logistik, manufaktur, hingga pertanian, sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ketika biaya energi naik, harga barang kebutuhan pokok pun akan ikut terkerek, yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat.
Didik Rachbini menekankan bahwa jika Indonesia lambat melakukan transisi energi, kita akan terus menjadi korban dari volatilitas harga energi global yang ditentukan oleh konflik di Timur Tengah.
Strategi Kendaraan Listrik: Lebih dari Sekadar Tren
Beralih ke kendaraan listrik (EV) bukan lagi sekadar upaya untuk mencapai target net zero emission atau mengikuti tren global. Di tahun 2026, adopsi kendaraan listrik telah bergeser menjadi strategi pertahanan ekonomi.
<img alt="Penembakan Nduga: Urgensi dan dampak jika Papua jadi daerah operasi …" src="https://ichef.bbci.co.id/news/1024/brandedindonesia/15830/production/104721188_gettyimages-108872729.jpg” style=”max-width:100%; height:auto; border-radius:8px; margin: 1rem 0;” />
Pandangan INDEF: Merendam Risiko Ekonomi
Senada dengan Didik Rachbini, Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, menyatakan bahwa percepatan adopsi EV adalah langkah krusial. Strategi ini berfungsi sebagai “bantalan” untuk meredam dampak lonjakan harga minyak mentah dunia. Dengan mengurangi ketergantungan pada BBM, Indonesia dapat menekan defisit neraca perdagangan yang sering tertekan oleh impor minyak.
Pemerintah perlu memberikan insentif lebih agresif agar masyarakat beralih dari kendaraan konvensional ke motor atau mobil listrik. Akselerasi infrastruktur pengisian daya (SPKLU) di seluruh wilayah menjadi kunci utama agar adopsi ini berjalan masif.
Tantangan dan Peluang di Tengah Geopolitik 2026
Dunia saat ini tidak hanya menghadapi perang energi, tetapi juga perang dagang dan persaingan teknologi yang semakin sengit. Posisi Indonesia dalam peta geopolitik harus dimanfaatkan dengan cerdas.

Membangun Kemandirian Industri EV
Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa cadangan nikel yang melimpah, bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Namun, sekadar menjadi penambang tidaklah cukup. Kita harus mampu melakukan hilirisasi industri agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri.
- Investasi Infrastruktur: Mempercepat pembangunan ekosistem baterai listrik nasional.
- Kebijakan Fiskal: Memberikan insentif pajak bagi produsen dan konsumen kendaraan listrik.
- Diplomasi Energi: Menjalin kerja sama strategis dengan negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik guna menjamin pasokan teknologi.
Kesimpulan: Momentum untuk Berbenah
Situasi geopolitik yang memanas akibat perang Iran-Israel-AS memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Ketergantungan pada energi fosil adalah kerentanan yang harus segera diakhiri.
Sebagaimana disampaikan oleh Didik Rachbini, percepatan konversi ke kendaraan listrik adalah jalan keluar yang paling logis dan mendesak. Dengan menjadikan transisi energi sebagai prioritas nasional, Indonesia tidak hanya akan lebih mandiri secara ekonomi, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian dunia di masa depan. Tahun 2026 harus menjadi titik balik di mana Indonesia berhenti menjadi penonton dan mulai memimpin transisi energi di kawasan Asia Tenggara.

















