Dunia akademisi dan pertahanan Indonesia kembali menoleh ke belakang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh di tanah air. Prof. Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan RI, dikenang oleh banyak kalangan sebagai sosok yang meletakkan fondasi penting bagi transformasi pertahanan Indonesia. Salah satu tokoh yang memberikan testimoni mendalam adalah Mahfud MD, mantan Menko Polhukam yang juga memiliki rekam jejak beririsan dengan mendiang.
Penghormatan Mahfud MD untuk Sang Guru Bangsa
Di tengah suasana duka yang menyelimuti bangsa, Mahfud MD memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Juwono Sudarsono. Bagi Mahfud, sosok yang akrab disapa Prof. Juwono ini bukan sekadar pejabat publik, melainkan seorang ilmuwan besar yang memiliki kedalaman pemahaman luar biasa.
Mahfud MD secara khusus menyoroti kemampuan almarhum dalam membedah isu-isu pertahanan dari kacamata geopolitik global. Menurut Mahfud, jarang ada tokoh yang mampu mengintegrasikan teori akademis dengan realitas pertahanan negara secara begitu presisi. Kemampuan inilah yang membuat Juwono Sudarsono disegani, baik di lingkungan kampus maupun di panggung diplomasi internasional.
Rekam Jejak yang Beririsan: Dari Era Gus Dur hingga Transformasi Pertahanan
Hubungan antara Mahfud MD dan Juwono Sudarsono bukan sekadar hubungan sesama pejabat. Mahfud mengungkapkan fakta sejarah yang menarik, yakni ketika dirinya menggantikan posisi Prof. Juwono di awal masa pemerintahan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/424330/original/071004aKabinet.jpg)
Transisi kepemimpinan tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh intelektual yang ditinggalkan oleh Juwono. Mahfud mengakui bahwa ia banyak belajar dari cara Juwono memandang kedaulatan negara. Berikut adalah beberapa poin kunci mengapa Juwono Sudarsono dianggap sebagai tokoh sentral:
- Pakar Geopolitik: Mampu membaca peta kekuatan global dan dampaknya terhadap stabilitas keamanan dalam negeri.
- Reformasi Pertahanan: Menjadi arsitek penting dalam memisahkan peran militer dan sipil di masa transisi demokrasi Indonesia.
- Intelektual Humanis: Dikenal sebagai pendidik yang tetap rendah hati meskipun memegang jabatan strategis.
Warisan Pemikiran Juwono Sudarsono bagi Generasi Mendatang
Sebagai sosok yang berkiprah di tahun 2026, kita dapat melihat bahwa pemikiran Juwono Sudarsono masih sangat relevan. Di tengah dinamika keamanan global yang semakin kompleks, pendekatan “pertahanan berbasis ilmu pengetahuan” yang ia usung menjadi semakin krusial.

Mahfud MD menekankan bahwa ilmuwan seperti Juwono adalah aset bangsa yang langka. Mereka tidak hanya bekerja untuk kepentingan sesaat, tetapi membangun kerangka berpikir jangka panjang bagi pertahanan Indonesia. Warisan ini bukan hanya berupa kebijakan, tetapi juga integritas moral dalam menjalankan tugas negara.
Mengapa Juwono Sudarsono Tetap Relevan di Tahun 2026?
Di tahun 2026, tantangan pertahanan tidak lagi hanya berkutat pada kekuatan fisik militer, melainkan pada ketahanan siber, ekonomi, dan pengaruh geopolitik. Juwono Sudarsono, jauh sebelum zamannya, telah menekankan pentingnya diplomasi sebagai bagian integral dari pertahanan.
- Integrasi Sipil-Militer: Beliau adalah sosok yang memastikan bahwa otoritas sipil memiliki kendali penuh atas kebijakan pertahanan negara.
- Wawasan Global: Kemampuannya berkomunikasi dengan negara-negara besar memberikan posisi tawar yang kuat bagi Indonesia di forum internasional.
- Keteladanan Akademisi: Beliau membuktikan bahwa seorang intelektual bisa menjadi praktisi kebijakan yang efektif dan dihormati.
Kesimpulan
Kepergian Juwono Sudarsono meninggalkan lubang besar dalam dunia pemikiran pertahanan Indonesia. Namun, seperti yang ditegaskan oleh Mahfud MD, warisan intelektualnya akan terus hidup melalui para murid dan kebijakan yang telah ia tanamkan. Sebagai bangsa, kita patut bersyukur pernah memiliki sosok yang mampu memadukan ketajaman analisis geopolitik dengan pengabdian tulus kepada negara.
Mengenang Juwono Sudarsono adalah cara kita menghargai sejarah. Semoga generasi penerus bangsa, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, dapat meneladani integritas dan kapasitas intelektual beliau untuk menjaga kedaulatan Indonesia di masa depan yang penuh tantangan.

















