Presiden Kelima Republik Indonesia yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan serta Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, melaksanakan kunjungan diplomatik tingkat tinggi dengan menemui Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Pertemuan strategis ini berlangsung di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan, Abu Dhabi, pada Rabu (4/2) waktu setempat, dengan agenda utama mempererat hubungan bilateral melalui kolaborasi riset, teknologi, dan inovasi berkelanjutan. Selama kurang lebih satu jam, kedua tokoh bangsa ini terlibat dalam diskusi mendalam yang mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari penguatan ekosistem riset nasional hingga adaptasi teknologi pengolahan air laut guna menghadapi tantangan krisis air global di masa depan.
Kunjungan Megawati kali ini membawa bobot politis dan strategis yang signifikan, mengingat ia didampingi oleh delegasi elit yang merepresentasikan struktur kepemimpinan dan pemikiran kebijakan di Indonesia. Tampak hadir mendampingi adalah putra beliau, Muhammad Prananda Prabowo yang menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan, beserta istri, Nancy Prananda. Selain itu, hadir pula Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, yang dikenal memiliki kedekatan kultural dan diplomatik dengan kawasan Timur Tengah, serta Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Strategis (BARIS) PDIP, Andi Widjayanto. Kehadiran Andi Widjayanto memberikan sinyal kuat bahwa pertemuan ini bukan sekadar kunjungan kehormatan (courtesy call), melainkan sebuah upaya sinkronisasi kebijakan strategis antara visi riset Indonesia dengan kemajuan teknologi yang telah dicapai oleh Uni Emirat Arab (UEA).
Sinergi Riset Global: Membedah 12 Sektor Strategis BRIN
Dalam dialog yang berlangsung hangat di salah satu ruangan megah Istana Qasr Al Watan, Megawati Soekarnoputri memberikan paparan komprehensif mengenai peta jalan riset Indonesia di bawah naungan BRIN. Sebagai Ketua Dewan Pengarah, ia menekankan bahwa Indonesia kini memiliki lembaga riset terintegrasi yang mampu memayungi berbagai disiplin ilmu. Megawati menjelaskan secara mendetail bahwa BRIN mengelola 12 bidang riset utama yang menjadi tulang punggung inovasi nasional. Bidang-bidang tersebut mencakup sektor pangan yang berfokus pada kedaulatan konsumsi, penelitian flora dan fauna untuk menjaga biodiversitas nusantara, hingga pengembangan energi baru terbarukan, kesehatan, dan teknologi antariksa.
Penjelasan mengenai 12 bidang riset ini menjadi poin krusial yang menarik perhatian Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Adapun rincian bidang riset yang dipaparkan antara lain meliputi:
- Pangan dan Pertanian: Fokus pada pengembangan bibit unggul dan ketahanan pangan nasional.
- Kesehatan: Riset obat-obatan berbasis bahan alam dan teknologi medis terkini.
- Energi dan Manufaktur: Transisi menuju energi bersih dan efisiensi industri.
- Kebumian dan Maritim: Eksplorasi potensi laut dan mitigasi bencana geologi.
- Lingkungan Hidup dan Ekologi: Konservasi ekosistem dan penanganan perubahan iklim.
- Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora: Studi mengenai dinamika masyarakat dan kebijakan publik.
- Arkeologi, Bahasa, dan Sastra: Pelestarian kekayaan budaya dan sejarah bangsa.
- Tenaga Nuklir: Pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai dan energi.
- Penerbangan dan Antariksa: Pengembangan satelit dan teknologi kedirgantaraan.
- Elektronika dan Informatika: Transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI).
- Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat: Optimalisasi sistem birokrasi dan ekonomi makro.
- Sains Biologi dan Lingkungan: Penelitian mendalam mengenai genetika dan ekosistem global.
Keluasan cakupan riset ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama investasi teknologi antara Abu Dhabi dan Jakarta, di mana kedua belah pihak dapat saling bertukar keahlian dan sumber daya manusia (SDM) unggul.
Salah satu topik yang paling menyita perhatian dalam diskusi tersebut adalah kekaguman Megawati terhadap transformasi dramatis Uni Emirat Arab. Ia mengamati bagaimana wilayah yang dulunya merupakan bentangan gurun pasir gersang, kini telah berubah menjadi kota modern yang hijau dengan tata kelola air yang sangat maju. Megawati secara khusus menyoroti keberadaan air mancur dan sistem irigasi kota yang tetap terjaga meskipun berada di lingkungan ekstrem. Hal ini memicu ketertarikannya untuk mempelajari lebih dalam mengenai teknologi desalinasi air laut yang diterapkan oleh UEA. Teknologi ini memungkinkan ekstraksi garam dari air laut untuk menghasilkan air tawar yang layak konsumsi maupun untuk keperluan pertanian, sebuah solusi yang dinilai sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan untuk menjamin pasokan air bersih di daerah pesisir dan pulau terluar.
Diplomasi Personal dan Harapan Masa Depan RI-UEA
Meskipun agenda yang dibahas bersifat sangat teknis dan strategis, suasana pertemuan tersebut digambarkan berlangsung dengan sangat cair, akrab, dan penuh kekeluargaan. Ini merupakan pertemuan kedua antara Megawati dan Sheikh Khaled, setelah sebelumnya mereka sempat bertemu dalam acara khusus keluarga pendiri Uni Emirat Arab. Keakraban ini terlihat dari durasi pertemuan yang melampaui jadwal protokoler biasanya. Megawati mengaku sempat terkejut ketika menyadari bahwa diskusi telah berlangsung selama satu jam penuh tanpa terasa. “Saya tidak lihat jam, ternyata sudah satu jam. Karena beliau banyak bertanya, saya jadi banyak menjawab,” ungkap Megawati dengan senyum khasnya, menunjukkan adanya ketertarikan intelektual yang tinggi dari pihak Putra Mahkota terhadap potensi Indonesia.
Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan sendiri menunjukkan memori yang kuat mengenai peran Megawati di Indonesia. Ia secara spesifik mengingat bahwa Megawati memegang peranan sentral dalam memimpin BRIN, yang menjadi landasan bagi beliau untuk menanyakan progres riset di tanah air. Ketertarikan Putra Mahkota ini bukan tanpa alasan; UEA saat ini tengah gencar melakukan diversifikasi ekonomi di luar sektor minyak dan gas, dengan menempatkan riset dan teknologi sebagai pilar utama pertumbuhan masa depan. Dengan demikian, sinkronisasi antara visi “Indonesia Emas 2045” dan visi masa depan Abu Dhabi menemukan titik temu yang sangat kuat dalam pertemuan ini.
Sebagai penutup, Megawati menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sambutan hangat dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh keluarga kerajaan Abu Dhabi. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab bukan sekadar hubungan diplomatik formal, melainkan hubungan persahabatan yang berakar pada rasa saling menghormati dan visi kemajuan bersama. Ke depan, diharapkan hasil dari pertemuan satu jam di Istana Qasr Al Watan ini segera ditindaklanjuti dengan kerja sama konkret, terutama dalam pertukaran peneliti, pengembangan teknologi desalinasi di Indonesia, serta kolaborasi lintas bidang dalam 12 sektor riset BRIN. Diplomasi riset ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi hubungan bilateral yang lebih kokoh dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

















