Di jantung Kota Bandung, tepatnya di Jalan Braga yang bersejarah, GREY Art Gallery tak hanya menjadi tuan rumah sebuah pameran, melainkan sebuah manifesto visual yang merangkum esensi seni rupa kontemporer. Sejak 3 Februari hingga 30 April 2026, galeri ini membuka pintunya untuk “Monochrome as Manifesto,” sebuah perhelatan akbar yang menampilkan 66 karya seni rupa pilihan dari 60 seniman berbakat. Pameran ini merupakan puncak dari ajang kompetisi tahunan Grey Award 2026, sebuah platform bergengsi yang dirancang untuk mengidentifikasi, merayakan, dan mendorong para kreator seni. “Para pemenang nanti akan diumumkan akhir April,” ungkap Angga Aditya Atmadilaga, kurator sekaligus Manajer Umum Grey Art Gallery, dalam sebuah pernyataan pada Selasa, 3 Februari 2026. Acara ini bukan sekadar pajangan karya, melainkan sebuah dialog mendalam tentang bagaimana batasan visual dapat menjadi kekuatan konseptual, merangsang pemikiran kritis, dan memperluas pemahaman kita tentang seni.
Eksplorasi Mendalam Spektrum Monokrom: Dari Konsep Hingga Realisasi
Pameran “Monochrome as Manifesto” di GREY Art Gallery bukan sekadar perayaan estetika hitam-putih, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang bagaimana pendekatan visual monokromatik dapat menjadi sebuah pernyataan sikap, sebuah manifesto artistik. Angga Aditya Atmadilaga, kurator dan Manajer Umum galeri, menjelaskan bahwa sebanyak 931 karya dikirimkan untuk kompetisi Grey Award 2026, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para seniman. Meskipun jumlah ini sedikit berkurang dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1.200 karya, kualitas dan keragaman karya yang dipamerkan tetap memukau. Spektrum visual yang dihadirkan meliputi lukisan, instalasi, hingga patung, yang semuanya terikat pada tema monokrom. Proses seleksi yang ketat melibatkan tiga juri terkemuka: Wiyu Wahono, seorang kolektor seni ternama; Heri Pemad, seorang pelaku seni dan pendiri ArtJog; serta Angga Aditya Atmadilaga sendiri. Ketiga juri ini memiliki peran krusial dalam menyeleksi karya-karya yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman konseptual dan keberanian dalam menyampaikan pesan.
Lebih lanjut, tahapan seleksi tidak berhenti pada pemilihan karya. Dewan juri akan melanjutkan proses dengan memilih 10 finalis terbaik untuk mengikuti sesi wawancara kuratorial. Sesi ini menjadi ruang dialog yang sangat penting, memungkinkan para seniman untuk mengartikulasikan praktik artistik mereka, gagasan di balik karya, serta visi dan arah pengembangan karir mereka. Dari 10 finalis tersebut, akan dipilih 3 seniman terbaik yang akan diumumkan pada akhir April. Angga menekankan bahwa proses seleksi ini dirancang tidak hanya untuk menentukan pemenang, tetapi juga sebagai bentuk pendampingan dan pembacaan terhadap potensi artistik para seniman, memberikan mereka umpan balik yang berharga untuk pertumbuhan di masa depan.
Grey Award: Platform Kuratorial untuk Eksplorasi dan Pertumbuhan Seniman
Grey Award, sebagaimana diungkapkan oleh pemilik galeri Grace Christianti dan Elia Yoesman, adalah sebuah pameran dan penghargaan seni rupa yang secara fundamental berfungsi sebagai platform kuratorial. Inti dari penghargaan ini adalah penekanan pada eksplorasi, eksperimentasi, dan perumusan sikap artistik sebagai nilai utama. Pada penyelenggaraan tahun 2026, Grey Award mengusung tema “Monochrome as Manifesto,” sebuah pilihan tema yang sarat makna. Grace menjelaskan bahwa monokrom tidak dipandang hanya sebagai pendekatan visual atau gaya estetika semata, melainkan sebagai sebuah posisi konseptual yang kuat. “Monokrom kami tempatkan sebagai cara seniman mengambil sikap, merumuskan gagasan, serta menegaskan bagaimana karya hadir dan berinteraksi dengan konteks zamannya,” ujar Grace dalam sebuah keterangan tertulis.
Pembatasan kerangka karya pada spektrum monokromatik hitam-putih, yang meliputi gradasi abu-abu, adalah sebuah pilihan artistik dan sikap kuratorial yang disengaja. Grace menegaskan bahwa pembatasan ini bukanlah sebuah pengekangan, melainkan sebuah medan tantangan yang justru menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan yang tinggi terhadap elemen-elemen seperti struktur visual, permainan cahaya dan bayangan, tekstur, serta materialitas karya. Dengan membatasi palet warna, seniman didorong untuk mengeksplorasi kedalaman ekspresi melalui elemen-elemen lain yang seringkali terabaikan dalam karya berwarna. Hal ini menciptakan sebuah dialog visual yang kaya, memaksa penikmat seni untuk melihat lebih dari sekadar permukaan.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Grace memposisikan Grey Award sebagai sebuah jembatan krusial yang membantu para seniman, terutama seniman muda, untuk memasuki medan sosial seni rupa yang lebih luas. Platform ini membuka akses, memfasilitasi pembangunan jejaring yang kuat, serta memperkenalkan karya-karya mereka kepada berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem seni, termasuk publik, kolektor, kurator, dan institusi seni. Melalui pameran dan penghargaan ini, GREY Art Gallery berkomitmen untuk menumbuhkan generasi seniman baru dan memperkuat lanskap seni rupa kontemporer Indonesia. Pameran “Monochrome as Manifesto” dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00, dan khusus pada akhir pekan, jam operasional diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB, memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menyaksikan karya-karya inspiratif ini.












