Dalam sebuah langkah strategis yang menggarisbawahi komitmen serius PSSI terhadap pengembangan Tim Nasional Indonesia, juru taktik baru, John Herdman, resmi didampingi oleh tiga sosok pelatih lokal berpengalaman. Pengumuman ini menjadi sorotan utama, menandai era baru dalam kepelatihan Garuda yang memadukan visi internasional dengan pemahaman mendalam tentang karakter sepak bola domestik. Ketiga asisten pelatih yang ditunjuk adalah Nova Arianto sebagai asisten pelatih utama, Sofie Imam Faizal yang akan mengemban tugas sebagai pelatih fisik, serta Dzikri Lazuardi yang dipercaya mengisi posisi vital sebagai video analis. Keputusan ini, yang diumumkan di tengah padatnya agenda Timnas Indonesia sepanjang tahun 2026, mencerminkan upaya PSSI untuk memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus sekaligus mengoptimalkan potensi lokal dalam mendukung performa tim di kancah internasional dan regional.
Penunjukan trio pelatih lokal ini datang pada waktu krusial, mengingat Timnas Indonesia di bawah asuhan John Herdman akan menghadapi serangkaian turnamen penting. Mulai dari FIFA Series 2026, Piala AFF 2026, hingga FIFA Matchday 2026, setiap agenda menuntut persiapan matang dan sinergi tim pelatih yang solid. Kehadiran Nova Arianto, Sofie Imam Faizal, dan Dzikri Lazuardi diharapkan mampu menjembatani komunikasi, mempercepat adaptasi Herdman dengan kultur sepak bola Indonesia, serta memberikan analisis mendalam yang hanya bisa diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun di lingkungan sepak bola Tanah Air. Ini adalah kolaborasi yang dirancang untuk menciptakan fondasi kuat bagi ambisi Timnas Indonesia di panggung global.
Nova Arianto: Dari Pelatih U-20 Menuju Tangan Kanan Herdman
Nova Arianto, nama yang tak asing lagi di kancah sepak bola nasional, ditunjuk sebagai asisten pelatih utama bagi John Herdman. Penunjukan ini menarik perhatian karena Nova sejatinya baru saja dipercaya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia U-20. Namun, mengingat tidak adanya agenda resmi untuk Timnas U-20 pada tahun 2026, PSSI mengambil langkah pragmatis dengan meminta Nova untuk sementara waktu mendampingi Herdman. Keputusan ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejak Nova yang sangat mumpuni. Pria berusia 45 tahun ini bukanlah sosok baru di lingkungan Timnas senior; ia telah mengabdi sebagai asisten pelatih lokal selama lima tahun penuh di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong, salah satu era paling transformatif bagi sepak bola Indonesia.
Selama masa kepelatihannya bersama Shin Tae-yong, Nova Arianto terlibat langsung dalam berbagai persiapan dan pertandingan, mulai dari Kualifikasi Piala Dunia, Piala Asia, hingga turnamen regional. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang metodologi kepelatihan modern, strategi taktis tingkat tinggi, serta dinamika ruang ganti tim nasional. Kemampuannya dalam menjembatani komunikasi antara pelatih asing dan pemain lokal, serta pemahamannya akan karakter dan budaya pemain Indonesia, akan menjadi aset tak ternilai bagi John Herdman. Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, secara khusus menekankan bahwa peran Nova Arianto bersifat sementara, namun kontribusinya diharapkan signifikan untuk membantu Herdman menavigasi padatnya jadwal dan ekspektasi tinggi yang menyelimuti Timnas Indonesia di tahun 2026. Fleksibilitas ini menunjukkan kepercayaan PSSI terhadap kapasitas Nova untuk beradaptasi dan memberikan dampak positif di level tertinggi.
Sofie Imam Faizal dan Dzikri Lazuardi: Pilar Penunjang Kinerja Tim
Selain Nova Arianto, John Herdman juga akan didampingi oleh dua sosok penting lainnya yang akan mengisi peran spesifik dalam staf kepelatihan. Sofie Imam Faizal dipercaya untuk menjadi pelatih fisik. Peran pelatih fisik dalam sepak bola modern sangat krusial, terutama untuk menjaga kebugaran, daya tahan, dan performa puncak para pemain di tengah jadwal pertandingan yang padat. Sofie Imam Faizal juga bukan nama baru di skuad Garuda; ia dikatakan pernah menjadi asisten pelatih fisik Timnas Indonesia. Pengalamannya ini memberinya keunggulan dalam memahami kondisi fisik dan kebutuhan spesifik para pemain Indonesia, serta bagaimana merancang program latihan yang efektif untuk memaksimalkan potensi mereka. Sumardji, Ketua BTN, mengisyaratkan bahwa keterlibatan Sofie adalah bagian dari upaya PSSI untuk merangkul sosok-sosok tepat yang sudah mengenal seluk-beluk Timnas.
Sementara itu, posisi video analis akan diisi oleh Dzikri Lazuardi. Berbeda dengan Nova dan Sofie, Dzikri Lazuardi merupakan wajah baru di staf pelatih Timnas Indonesia senior. Namun, minimnya pengalaman di level tim nasional tidak berarti ia kekurangan jam terbang. Pria asal Bandung ini telah malang melintang di berbagai klub lokal, menjabat sebagai video analis. Terakhir, ia mengabdi untuk Persija Jakarta, salah satu klub papan atas di Liga 1. Sebelumnya, Dzikri juga pernah bekerja di Persis Solo, Persipura Jayapura, dan Sulut United. Pengalaman di berbagai klub dengan karakter dan filosofi permainan berbeda ini memberinya perspektif luas dalam menganalisis pertandingan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan lawan, serta memberikan masukan taktis yang berharga kepada Herdman dan stafnya. Peran video analis menjadi semakin vital di era sepak bola modern, di mana setiap detail kecil bisa menjadi penentu hasil pertandingan. Kombinasi pengalaman Nova, Sofie, dan “darah segar” Dzikri diharapkan mampu menciptakan tim pelatih yang komprehensif dan adaptif.
Sumardji dan Sanksi FIFA: Komitmen di Balik Keterbatasan















