Kekalahan mengejutkan 2-4 dari Benfica di Estadio da Luz pada Kamis dini hari, 29 Januari 2026, memaksa raksasa Spanyol, Real Madrid, untuk berjuang melalui babak play-off Liga Champions 2025/2026. Hasil ini menggarisbawahi performa di bawah standar yang ditampilkan oleh Los Blancos dalam laga penutup fase liga, yang berujung pada kegagalan mereka menembus delapan besar klasemen dan harus menjalani dua pertandingan tambahan demi mengamankan tiket ke babak 16 besar. Pertandingan krusial ini, yang seharusnya menjadi penentu nasib Madrid di kompetisi elit Eropa, justru berakhir dengan kekecewaan mendalam bagi para pendukungnya, menyoroti kerentanan tim yang biasanya tak tergoyahkan.
Posisi akhir Real Madrid di klasemen fase liga menempatkan mereka di peringkat kesembilan dengan total 15 poin. Perolehan ini hanya terpaut satu angka dari Manchester City yang berhasil menduduki posisi kedelapan, sebuah gambaran betapa tipisnya perbedaan yang memisahkan mereka dari zona aman. Di sisi lain, Benfica berhasil mengamankan tiket play-off terakhir dengan menorehkan sembilan poin dari delapan pertandingan yang telah dilakoni. Keberhasilan mereka ini, yang juga unggul dalam selisih gol atas pesaing terdekatnya, Marseille, menunjukkan ketangguhan tim tuan rumah dalam memanfaatkan momentum di kandang sendiri. Hasil ini sekaligus menggarisbawahi bahwa di Liga Champions, tidak ada tim yang bisa dianggap remeh, bahkan bagi klub sekaliber Real Madrid.
Analisis Mendalam Kekalahan dan Pernyataan Arbeloa
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, secara terbuka mengakui bahwa performa timnya pada pertandingan tersebut jauh dari ekspektasi dan standar yang seharusnya dimiliki oleh sebuah klub dengan ambisi sebesar Real Madrid. “Jelas hari ini kami jauh dari apa yang kami inginkan,” ujar Arbeloa dalam kutipan resmi klub. “Mengingat kesulitan pertandingan, tuntutan lawan, atmosfer stadion, apa yang mereka perjuangkan, dan apa yang kami perjuangkan, saya rasa kami tidak mampu bermain 90 menit pada level yang kami perlukan.” Pernyataannya ini mencerminkan kesadaran akan kesenjangan kualitas antara harapan dan realitas di lapangan. Ia tidak mencari alasan, melainkan mengakui bahwa timnya gagal menyamai intensitas dan determinasi yang ditunjukkan oleh Benfica, terutama dalam menghadapi tekanan di kandang lawan yang dikenal angker.
Lebih lanjut, Arbeloa menegaskan bahwa kekalahan ini bukanlah hasil dari satu kesalahan tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang tidak berjalan sesuai rencana. “Untuk memenangkan pertandingan seperti ini, Anda harus melakukan banyak hal dengan baik, bukan hanya satu, dan Anda harus melakukannya selama 90 menit. Kami masih punya banyak hal yang perlu diperbaiki,” tegasnya. Analisis ini menunjukkan bahwa problem yang dihadapi Madrid bersifat multifaset, mencakup aspek taktis, teknis, dan mental. Kegagalan dalam menjaga konsistensi permainan sepanjang pertandingan menjadi sorotan utama. Di samping itu, ia juga menunjukkan sikap kepemimpinan yang kuat dengan mengambil tanggung jawab penuh atas hasil yang mengecewakan. “Saya merasa sepenuhnya bertanggung jawab ketika keadaan tidak berjalan baik dan kami tidak mencapai tujuan yang kami tetapkan,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perjuangan di Liga Champions belum berakhir. “Kami belum tersingkir dari Liga Champions. Kami masih punya dua pertandingan lagi, dan kami akan menghadapinya dengan tujuan lolos ke babak berikutnya,” tambahnya, memberikan sinyal bahwa fokus kini beralih ke babak play-off.
Jalannya Pertandingan yang Dramatis dan Gol Tak Terduga
Dalam upaya untuk meraih hasil positif, Arbeloa menurunkan trisula lini depan yang berisikan Franco Mastantuono, Kylian Mbappé, dan Vinicius Junior. Namun, Benfica justru menunjukkan dominasi sejak awal laga, beberapa kali menguji ketangguhan kiper Thibaut Courtois dengan serangan-serangan berbahaya. Meskipun berada di bawah tekanan, Real Madrid berhasil mencuri keunggulan pada menit ke-30. Melalui skema serangan dari sisi kiri, Raul Asencio melepaskan umpan silang akurat ke tiang jauh yang berhasil disambut sundulan mematikan dari Kylian Mbappé, mengecoh kiper Benfica, Anatoliy Trubin. Gol ini sempat memberikan angin segar bagi Los Blancos, namun euforia tersebut tidak berlangsung lama.
Hanya berselang enam menit, Benfica berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan Andreas Schjelderup, yang memanfaatkan umpan silang dari Vangelis Pavlidis. Kepercayaan diri tuan rumah semakin meningkat, dan mereka berhasil berbalik unggul menjelang akhir babak pertama. Vangelis Pavlidis sukses mengeksekusi tendangan penalti setelah Aurelien Tchouameni melakukan pelanggaran terhadap Nicolas Otamendi di dalam kotak terlarang. Memasuki babak kedua, Benfica semakin menjauhkan keunggulan. Pada menit ke-54, Schjelderup mencetak gol keduanya setelah menerima umpan matang dari Pavlidis, berhasil mengecoh Raul Asencio, dan melepaskan tembakan ke tiang dekat yang tak mampu dijangkau Courtois, menjadikan skor 3-1. Madrid sempat memberikan respons positif melalui gol kedua Mbappé pada menit ke-58, memanfaatkan umpan terobosan dari Arda Güler, yang memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2 dan membuka kembali asa Los Blancos.
Namun, nasib buruk kembali menimpa Madrid di menit-menit akhir pertandingan. Raul Asencio menerima kartu kuning kedua pada menit ke-92, yang berujung pada kartu merah. Situasi semakin memburuk ketika Rodrygo diganjar kartu merah langsung pada menit ke-97 akibat protes kerasnya terhadap keputusan wasit. Dalam kondisi bermain dengan sembilan orang, Benfica berhasil memastikan kemenangan 4-2 melalui gol yang sangat mengejutkan. Dalam sebuah situasi tendangan bebas, kiper Benfica, Anatoliy Trubin, turut maju ke kotak penalti dan berhasil menanduk bola kiriman Fredrik Aursnes. Gol langka dari seorang penjaga gawang ini sekaligus mengakhiri perlawanan Real Madrid. Menanggapi gol tak terduga dari kiper lawan, Arbeloa menilai bahwa situasi tersebut lahir dari pengambilan risiko oleh kedua tim. “Ini bukan pertama kalinya kiper mencetak gol ke gawang saya. Mereka harus mengambil risiko, kami juga mengambil risiko. Pada akhirnya mereka yang menang,” ujarnya, menunjukkan bahwa ia memahami dinamika permainan yang berisiko tinggi.


















