Persaingan sengit perebutan gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 memasuki babak baru yang penuh ketegangan setelah sang pemuncak klasemen, Arsenal, dipaksa berbagi angka oleh Brentford dalam laga pekan ke-26 yang berlangsung di Stadion Gtech Community pada Jumat dini hari, 13 Februari 2026. Hasil imbang 1-1 ini menjadi pukulan telak bagi ambisi skuad asuhan Mikel Arteta untuk memperlebar jarak dari kejaran rival terdekatnya, Manchester City. Padahal, The Gunners memiliki peluang emas untuk mengamankan poin penuh demi menjaga momentum kemenangan, namun ketangguhan lini pertahanan The Bees serta atmosfer intimidatif di markas lawan membuat Meriam London harus puas membawa pulang hanya satu poin. Dampak langsung dari hasil ini adalah terpangkasnya keunggulan Arsenal di puncak klasemen menjadi hanya empat poin saja, sebuah margin yang sangat rawan mengingat kompetisi masih menyisakan banyak pertandingan krusial hingga akhir musim nanti.
Pertandingan yang berjalan dengan intensitas tinggi tersebut memperlihatkan bagaimana Arsenal sempat kesulitan membongkar rapatnya barisan belakang tuan rumah pada babak pertama. Kebuntuan baru berhasil pecah pada menit ke-61 melalui aksi gemilang Noni Madueke. Pemain sayap lincah ini berhasil menyambut umpan silang presisi yang dikirimkan oleh bek sayap Piero Hincapie dengan sebuah sundulan mematikan yang tidak mampu dihalau oleh penjaga gawang Brentford. Gol tersebut sempat membangkitkan asa pendukung tim tamu yang memadati tribun tandang, membayangkan kemenangan tipis yang krusial. Namun, kegembiraan Arsenal tidak bertahan lama karena Brentford memberikan respons yang sangat cepat dan agresif. Hanya berselang sepuluh menit setelah gol Madueke, tepatnya pada menit ke-71, Keane Lewis-Potter berhasil menyamakan kedudukan lewat penyelesaian akhir yang tenang, memanfaatkan celah di lini pertahanan Arsenal yang sedikit lengah dalam mengantisipasi transisi cepat lawan. Skor imbang 1-1 ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memaksa kedua tim harus puas dengan hasil yang sangat kontras bagi ambisi masing-masing.
Analisis Taktis dan Dominasi Brentford di Gtech Community
Secara statistik, jalannya pertandingan menunjukkan bahwa Brentford bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata, terutama saat bermain di hadapan pendukung sendiri. Tim asuhan Thomas Frank tersebut tampil sangat dominan dalam menciptakan peluang berbahaya, di mana mereka tercatat melepaskan total 12 tembakan ke arah gawang David Raya. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya dikategorikan sebagai peluang emas (big chances) yang nyaris berbuah gol tambahan. Sebaliknya, Arsenal yang biasanya tampil dominan dalam penguasaan bola justru terlihat kesulitan mengembangkan permainan kreatif mereka. The Gunners hanya mampu mencatatkan tujuh tembakan sepanjang 90 menit pertandingan dengan hanya satu peluang besar yang berhasil dikonversi menjadi gol. Ketidakmampuan Arsenal untuk merespons tekanan fisik dan duel-duel udara yang ditawarkan oleh pemain Brentford menjadi catatan merah bagi Mikel Arteta, yang mengakui bahwa timnya tidak cukup solid dalam menghadapi skema high press yang diterapkan tuan rumah secara konsisten sejak awal laga.
Mikel Arteta, dalam konferensi pers pascapertandingan, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas permainan Brentford yang dinilainya sangat terorganisasi dengan baik. Pelatih asal Spanyol tersebut menyoroti bagaimana lawan mampu mengeksekusi transisi dari bertahan ke menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, serta kemampuan mereka dalam membawa jalannya pertandingan ke area-area yang membuat Arsenal merasa tidak nyaman. Menurut Arteta, Brentford memiliki struktur permainan yang sangat jelas, terutama dalam memanfaatkan situasi bola mati dan serangan balik cepat. “Mereka sangat bagus. Ketika harus membangun serangan, mereka punya banyak area dalam high press yang sangat efektif. Mereka juga luar biasa dalam serangan balik dan memiliki kemampuan untuk mendikte permainan ke arah yang mereka inginkan. Mereka dilatih dengan sangat baik, dan posisi mereka di klasemen saat ini adalah cerminan dari kualitas kerja keras mereka,” ujar Arteta dengan nada tegas, mengakui bahwa hasil imbang ini adalah konsekuensi logis dari performa lawan yang impresif.
Mikel Arteta Menekankan Pentingnya Ketenangan Mental
Menghadapi situasi di mana keunggulan poin mulai terkikis oleh Manchester City, Mikel Arteta dengan cepat menginstruksikan anak asuhnya untuk tidak panik dan tetap menjaga ketenangan mental. Ia menegaskan bahwa dalam perburuan gelar juara Liga Inggris yang melelahkan, fluktuasi poin adalah hal yang lumrah terjadi. Fokus utama tim saat ini bukanlah melihat papan klasemen setiap saat, melainkan bagaimana meningkatkan level permainan baik secara kolektif maupun individual di setiap sesi latihan dan pertandingan. Arteta menekankan bahwa untuk menjadi juara, sebuah tim harus mampu tampil lebih baik dari lawan mereka setiap minggunya tanpa terkecuali. “Itulah yang harus kami lakukan. Kami akan bersiap untuk memenangkan setiap pertandingan, dan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah fokus pada itu. Kami perlu meningkatkan level kami untuk menjadi lebih baik dari lawan. Persaingan ini akan terus berlangsung ketat seperti ini sampai bulan Mei mendatang,” tuturnya, mencoba meredam spekulasi negatif yang mungkin muncul pasca hasil imbang tersebut.
Lebih lanjut, Arteta juga menepis anggapan bahwa performa anak asuhnya terbebani oleh kemenangan meyakinkan Manchester City atas Fulham yang terjadi sehari sebelumnya. Bagi Arteta, tekanan dari rival adalah bagian tak terpisahkan dari kompetisi kasta tertinggi di Inggris, dan Arsenal sudah sering membuktikan bahwa mereka bisa menang meski bermain setelah rival mereka meraih hasil positif. Ia menolak mencari alasan eksternal dan lebih memilih untuk mengevaluasi apa yang terjadi di dalam lapangan hijau. “Ini bukan tentang hasil pertandingan tim lain. Kami juga pernah bermain setelah mereka dan tetap berhasil meraih kemenangan. Hari ini murni tentang apa yang kami lakukan di lapangan, tentang bagaimana kami merespons tantangan yang diberikan Brentford, dan sayangnya hari ini kami tidak mencapai standar yang kami inginkan,” tegasnya untuk memutus narasi bahwa Arsenal mulai goyah secara psikologis.
Menatap Fase Krusial dan Tantangan di Muka
Dalam diskusinya mengenai selisih poin, Arteta memberikan perspektif menarik tentang dinamika kompetisi yang panjang selama sepuluh bulan. Ia enggan terjebak dalam skenario “jika” yang sering dilemparkan oleh media dan pengamat sepak bola. Menurutnya, spekulasi mengenai seberapa besar seharusnya jarak poin di puncak klasemen tidak akan membantu tim dalam mempersiapkan laga berikutnya. Ia mencontohkan bagaimana hasil-hasil di masa lalu, seperti kekalahan dari Newcastle atau persaingan dengan Liverpool pada bulan Oktober, telah membentuk posisi mereka saat ini. “Saya paham orang bilang jaraknya bisa lebih besar, tetapi itu hanyalah pengandaian. Ada banyak ‘jika’ dalam kompetisi selama sepuluh bulan ini. Anda tidak bisa hidup dalam pengandaian tersebut; Anda hanya bisa fokus pada apa yang harus dilakukan sekarang dan melakukannya sebaik mungkin,” tambah Arteta, menunjukkan kedewasaan taktis dan manajerial dalam menghadapi tekanan media.
Kini, dengan koleksi 57 poin di kantong, Arsenal harus segera mengalihkan fokus mereka ke jadwal padat yang menanti di depan mata. Sebelum kembali bertarung di kancah Liga Inggris melawan Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, The Gunners terlebih dahulu harus melakoni laga krusial di putaran keempat Piala FA dengan menjamu Wigan Athletic di Stadion Emirates. Pertandingan melawan Wigan diharapkan bisa menjadi momentum bagi Arsenal untuk kembali ke jalur kemenangan dan mengembalikan kepercayaan diri para pemain sebelum memasuki fase akhir musim yang menentukan. Arteta menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci utama, dan menaikkan level permainan secara bersama-sama adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi jika mereka ingin mengakhiri musim dengan mengangkat trofi bergengsi di hadapan para pendukung setianya.
Pilihan Editor: Iqbal Iskandar, Sosok Kunci Timnas Futsal Indonesia

















