Di tengah gemuruh sorak kemenangan telak 4-0 atas Wigan Athletic yang dengan meyakinkan mengamankan tiket ke putaran kelima Piala FA pada Senin dinihari, 16 Februari 2026, di Stadion Emirates, Arsenal justru dihadapkan pada bayang-bayang krisis yang mengancam. Pelatih Mikel Arteta secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya atas ‘badai cedera’ yang kini melanda skuadnya, sebuah situasi genting yang berpotensi menggagalkan ambisi The Gunners untuk meraih trofi di musim krusial ini. Kemenangan meyakinkan tersebut, yang seharusnya menjadi momentum positif, justru diselimuti kecemasan mendalam mengenai kedalaman skuad yang menipis, memunculkan pertanyaan besar tentang daya tahan Arsenal di tengah persaingan ketat di Premier League, Piala FA, dan Liga Champions, mengancam misi ‘quadruple’ yang tengah mereka kejar.
Daftar pemain yang masuk ruang perawatan Arsenal kini semakin mengkhawatirkan dan terus bertambah panjang, mencerminkan kerentanan tim di berbagai lini. Bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan, bek anyar yang digadang-gadang menjadi solusi di lini belakang, Riccardo Calafiori, terpaksa ditarik dari daftar starter setelah mengalami cedera saat sesi pemanasan. Insiden tak terduga ini menjadi pukulan telak mengingat ekspektasi tinggi terhadap kontribusinya. Tak lama berselang, di tengah jalannya pertandingan babak kedua, Ben White, salah satu pilar pertahanan yang konsisten dan serbaguna, juga harus meninggalkan lapangan karena masalah fisik, menambah daftar panjang pemain belakang yang absen. Absensi kapten tim, Martin Odegaard, yang sebelumnya mengalami benturan serius dalam laga imbang 1-1 melawan Brentford di Liga Inggris pada Kamis sebelumnya, juga sangat terasa. Kreativitas, visi, dan kepemimpinan Odegaard di lini tengah menjadi elemen krusial yang hilang, memengaruhi alur serangan tim. Situasi ini diperparah dengan kabar bahwa gelandang serang Kai Havertz dipastikan menepi setidaknya hingga akhir bulan ini, membatasi opsi taktis Arteta di sepertiga akhir lapangan. Pukulan terberat datang dari Mikel Merino, yang terancam absen hingga akhir musim setelah menjalani operasi kaki, sebuah cedera jangka panjang yang akan sangat memengaruhi kedalaman lini tengah The Gunners. Kombinasi cedera ini, meliputi berbagai posisi kunci mulai dari bek hingga gelandang, secara signifikan mengikis kekuatan dan fleksibilitas skuad Arsenal di fase paling krusial musim ini, seperti yang juga disoroti oleh berbagai media olahraga.
Arteta’s Dilema: Kedalaman Skuad di Tengah Badai Cedera
Mikel Arteta tidak menampik kekhawatirannya yang mendalam ketika mendapatkan pertanyaan apakah skuadnya mulai menipis dan kehilangan keseimbangan. “Ya. Sebelumnya penyerang, lalu bek, sekarang gelandang yang cedera. Kami mencoba mengatasinya,” ujar Arteta, seperti dikutip dari ESPN, dengan nada serius. Ia menekankan bahwa kebutuhan tim bukan hanya sekadar jumlah pemain, tetapi juga ketersediaan opsi yang beragam dan sesuai dengan lawan yang dihadapi. “Tapi kami butuh beberapa pemain kembali dan dalam kondisi fit, bukan hanya soal jumlah, tetapi juga opsi berbeda sesuai lawan yang kami hadapi. Semakin cepat mereka kembali, semakin baik,” tambahnya, menggarisbawahi urgensi pemulihan pemain kunci. Badai cedera ini, yang mulai menghantui Arsenal di fase krusial musim ini, telah memicu kecemasan Arteta tentang kemampuan timnya untuk mempertahankan performa puncak di tiga kompetisi besar: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Kedalaman skuad yang baik adalah prasyarat untuk bersaing memenangi gelar, dan kondisi saat ini dapat mengganggu ambisi ‘quadruple’ The Gunners.
Implikasi strategis dari krisis cedera ini sangat signifikan, terutama mengingat jadwal padat dan krusial yang menanti Arsenal. Saat ini, mereka unggul empat poin di puncak klasemen Liga Inggris, sebuah posisi yang rapuh jika kedalaman skuad terus terkikis. Tengah pekan ini, The Gunners akan menghadapi ujian berat dengan bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers di Molineux, sebuah laga tandang yang selalu menantang. Setelah itu, tekanan akan semakin meningkat dengan digelarnya derbi London Utara yang krusial melawan rival abadi, Tottenham Hotspur, akhir pekan mendatang. Pertandingan-pertandingan ini membutuhkan skuad yang bugar dan penuh opsi taktis, sesuatu yang kini menjadi kemewahan bagi Arteta. Kehilangan pemain-pemain kunci di berbagai lini dapat memaksa Arteta untuk melakukan rotasi yang tidak ideal atau mengandalkan pemain muda yang belum berpengalaman, berpotensi memengaruhi konsistensi performa tim di momen-momen penentuan.
Kebangkitan Eberechi Eze: Dari Kritik Menuju Kontribusi Vital
Di tengah daftar cedera yang menggunung dan kekhawatiran yang melanda, Arsenal tetap melaju mulus di Piala FA, menjaga peluang meraih empat gelar musim ini. Kemenangan 4-0 atas Wigan Athletic adalah bukti ketangguhan tim, setidaknya di lini serang. Empat gol ke gawang Wigan tercipta hanya dalam rentang 17 menit babak pertama, menunjukkan efektivitas serangan The Gunners. Gol-gol tersebut dicetak oleh Noni Madueke, Gabriel Martinelli, gol bunuh diri Jack Hunt, serta Gabriel Jesus. Namun, sorotan khusus tertuju pada performa Eberechi Eze, rekrutan bernilai 68 juta pound sterling dari Crystal Palace. Eze sebelumnya sempat menjadi sasaran kritik tajam karena performanya yang dianggap kurang meyakinkan, bahkan ditarik keluar saat jeda dalam laga melawan Brentford, yang merupakan starter liga pertamanya dalam dua bulan.

















