Di tengah jadwal padat dan tuntutan fisik yang semakin meningkat dalam sepak bola modern, manajer Arsenal, Mikel Arteta, melancarkan seruan mendesak kepada Premier League untuk merevisi regulasi jumlah pemain dalam skuad pertandingan. Permohonan ini, yang diajukan menjelang laga tandang krusial, berakar pada keyakinan Arteta bahwa aturan yang membatasi hanya 18 pemain dalam daftar pertandingan, dua pemain lebih sedikit dibandingkan kuota Liga Champions UEFA, secara signifikan menghambat kemampuan klub dalam mengelola tim secara efektif dan berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis para pemain. Arteta berargumen bahwa peningkatan jumlah pemain yang diizinkan dalam skuad pertandingan, idealnya menjadi 20 orang seperti di kompetisi Eropa, akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar, menjaga nilai serta kesehatan mental para pemain, dan pada akhirnya, meningkatkan kualitas serta dinamika pertandingan.
Dampak Regulasi Skuad Terhadap Manajemen Tim dan Psikologi Pemain
Mikel Arteta secara gamblang menguraikan tantangan yang dihadapi klub-klub Premier League di bawah regulasi skuad pertandingan yang ketat. “Sekarang selalu ada dua atau tiga pemain yang harus dikeluarkan dari skuad. Itu kenyataannya. Saya tidak bisa mengubahnya,” ungkap Arteta, merujuk pada situasi yang seringkali memaksa pelatih untuk membuat keputusan sulit dalam menentukan siapa yang akan masuk daftar pemain untuk setiap pertandingan. Pembatasan ini, menurutnya, bukan hanya sekadar angka, melainkan sebuah realitas yang berdampak langsung pada pengelolaan tim secara keseluruhan. Setiap pekan, pelatih dihadapkan pada keharusan untuk mengumumkan kepada beberapa pemain bahwa mereka tidak hanya tidak akan bermain, tetapi bahkan tidak akan diikutsertakan dalam perjalanan tim ke stadion. Situasi ini, menurut Arteta, menciptakan ketidakpastian dan potensi rasa kecewa yang mendalam di kalangan pemain.
Lebih jauh, Arteta menekankan bahwa keputusan untuk mencoret seorang pemain dari skuad pertandingan memiliki implikasi psikologis yang signifikan. Ia menggambarkan betapa beratnya tugas ini, karena di satu sisi, peran pelatih memiliki potensi untuk mengubah hidup dan karier seseorang, namun di sisi lain, setiap minggu harus ada pemain yang diberitahu bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan “pekerjaan” mereka. “Kami punya pekerjaan yang sangat unik. Di satu sisi, kami bisa mengubah hidup dan karier seseorang. Tapi setiap pekan kami juga harus mengatakan kepada seseorang, ‘Besok kamu tidak melakukan pekerjaan itu. Kamu bahkan tidak diizinkan bepergian dengan tim,’” jelas Arteta. Perasaan tidak cukup baik atau terpinggirkan bisa muncul ketika keputusan pelatih secara implisit berarti memilih pemain lain di atas mereka. Arteta meyakini bahwa situasi ini dapat dikurangi secara signifikan jika ada penambahan jumlah pemain yang diizinkan dalam skuad pertandingan.
Seruan untuk Perubahan: Menuju Skuad yang Lebih Fleksibel dan Kompetitif
Arteta tidak ragu untuk menyuarakan permohonannya agar regulasi diubah menjadi 20 pemain dalam skuad pertandingan, selaras dengan standar Liga Champions UEFA. “Saya memohon dari sini agar musim depan jumlahnya menjadi 20 pemain, seperti di Liga Champions. Itu jauh lebih baik untuk mengelola skuad, menjaga nilai pemain, dan menjaga kesehatan mental mereka karena tidak ada yang ingin dikeluarkan,” tegasnya. Ia berargumen bahwa dengan kuota yang lebih besar, pelatih akan memiliki keleluasaan yang lebih baik dalam mengatur menit bermain para pemain, mengelola momen-momen psikologis dan emosional yang krusial selama musim yang panjang, serta memiliki lebih banyak opsi taktis untuk melakukan perubahan yang dapat memengaruhi jalannya pertandingan. Beban pertandingan yang semakin berat dalam sepak bola modern menuntut kedalaman skuad yang memadai, dan pembatasan yang ada dianggapnya tidak lagi relevan.
Lebih dari sekadar pengelolaan tim, Arteta juga menyoroti pentingnya skuad yang lebih besar untuk meningkatkan opsi taktis dan kemampuan tim untuk beradaptasi. “Kalau lebih banyak pemain bisa ikut, kami bisa mengatur menit bermain dengan lebih baik, mengelola momen psikologis dan emosional, serta punya lebih banyak opsi untuk mengubah jalannya pertandingan,” paparnya. Ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah pemain bukan hanya soal mengakomodasi lebih banyak individu, tetapi juga tentang meningkatkan potensi strategis tim di lapangan. Dengan lebih banyak pemain yang siap diturunkan, pelatih dapat melakukan rotasi yang lebih efektif untuk menjaga kebugaran pemain kunci, serta memiliki pilihan pemain pengganti yang lebih beragam untuk mengatasi situasi permainan yang berbeda, seperti saat tertinggal atau saat ingin mempertahankan keunggulan.
Seruan Arteta bukanlah suara tunggal dalam pusaran sepak bola Inggris. Sejumlah pelatih papan atas lainnya juga telah menyuarakan pendapat serupa. Manajer Liverpool, Arne Slot, dan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, merupakan beberapa nama yang sebelumnya juga telah mengemukakan perlunya perluasan jumlah pemain dalam skuad pertandingan. Ini menunjukkan bahwa isu ini merupakan perhatian kolektif di kalangan para pemimpin tim di liga teratas Inggris, yang sama-sama merasakan tekanan dari jadwal yang padat dan tuntutan fisik yang semakin intens. Keberadaan pandangan yang sama dari pelatih-pelatih berpengaruh ini memberikan bobot tambahan pada argumen Arteta dan menunjukkan bahwa ada konsensus yang berkembang mengenai kebutuhan untuk adaptasi regulasi.
Selain itu, Arteta juga pernah mengusulkan agar klub-klub Premier League diizinkan mendaftarkan lebih dari 25 pemain senior untuk kompetisi liga. Usulan ini semakin memperkuat pandangannya bahwa sepak bola modern menuntut fleksibilitas yang lebih besar dalam hal komposisi skuad. Peningkatan intensitas jadwal, ditambah dengan tuntutan fisik yang terus meningkat, membuat kebutuhan akan kedalaman skuad menjadi semakin krusial. “Jadi menurut saya, membatasi hal itu tidak masuk akal. Kita perlu memperluasnya dan memberikan kemungkinan untuk memungkinkan semua orang menjadi bagian darinya,” pungkas Arteta. Pernyataan ini menegaskan kembali komitmennya untuk menciptakan lingkungan di mana lebih banyak pemain dapat merasa menjadi bagian integral dari tim, yang pada gilirannya dapat meningkatkan moral dan performa secara keseluruhan.
















