JAKARTA – Pertandingan lanjutan Liga Primer Inggris pada Sabtu (17/1/2026) di City Ground, Nottingham, menyisakan kekecewaan mendalam bagi Arsenal. Tim asuhan Mikel Arteta harus puas berbagi poin setelah ditahan imbang tanpa gol oleh Nottingham Forest. Hasil ini, yang sejatinya bisa menjadi momen krusial untuk memperlebar jarak di puncak klasemen, justru terasa pahit mengingat rival terdekat mereka, Manchester City, sebelumnya telah menelan kekalahan mengejutkan 0-2 dari Manchester United dalam derbi yang berlangsung lebih awal. Peluang emas untuk mengukuhkan posisi sebagai pemimpin klasemen dengan selisih poin yang lebih nyaman pun sirna di tengah ketidakmampuan Arsenal untuk mengkonversi dominasi mereka menjadi gol.
Kekalahan Manchester City dari Manchester United seharusnya menjadi angin segar yang memicu semangat juang Arsenal. Sebelum pertandingan di City Ground, Arsenal memimpin klasemen dengan selisih poin yang relatif tipis. Kemenangan atas Nottingham Forest akan memperlebar jarak tersebut menjadi sepuluh poin, sebuah margin signifikan yang bisa memberikan tekanan psikologis besar bagi tim-tim pengejar. Namun, alih-alih memanfaatkan momentum emas ini, The Gunners justru tersandung oleh pertahanan kokoh Forest dan ketidakmampuan mereka sendiri di depan gawang. Ini bukan hanya sekadar kehilangan dua poin, melainkan juga sebuah kesempatan strategis yang terbuang percuma dalam balapan menuju gelar juara Liga Primer yang semakin ketat.
Dominasi Tanpa Ketajaman: Frustrasi di Depan Gawang
Sepanjang 90 menit pertandingan, Arsenal menampilkan dominasi yang tak terbantahkan. Mereka menguasai bola dengan persentase yang jauh lebih tinggi, mengalirkan serangan dari berbagai sisi, dan berhasil menciptakan serangkaian peluang emas yang seharusnya mampu mengubah papan skor. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah penyelesaian akhir yang jauh dari kata klinis. Pelatih Mikel Arteta secara eksplisit menyoroti kegagalan para pemainnya dalam memaksimalkan peluang-peluang krusial. Gabriel Martinelli, dengan kecepatan dan dribelnya, beberapa kali berhasil menembus pertahanan Forest namun tembakannya kurang akurat. Declan Rice, gelandang jangkar yang dikenal dengan tendangan jarak jauhnya, juga memiliki kesempatan yang gagal berbuah gol. Mikel Merino, yang tampil sebagai salah satu motor serangan, serta bintang muda Bukayo Saka, yang sering menjadi penentu, juga tidak mampu menemukan sentuhan akhir yang diperlukan.
Arteta tidak menyembunyikan kekecewaannya pasca-pertandingan, menyatakan kepada TNT Sports, “Kami datang ke sini untuk menang. Kami memiliki sejumlah peluang besar, tetapi tidak mampu memanfaatkannya.” Kritik keras datang dari sang pelatih ketika ia menambahkan, “Ketika Anda mendapatkan empat peluang besar seperti yang kami miliki, Anda harus mampu menemukan margin untuk menang. Kami bahkan tidak menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran.” Pernyataan terakhir ini adalah indikator paling jelas dari betapa tumpulnya lini serang Arsenal malam itu. Untuk tim sekelas Arsenal yang mengincar gelar, statistik tanpa satu pun tembakan tepat sasaran dari peluang-peluang besar adalah hal yang mengkhawatirkan dan harus segera dievaluasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada kreativitas dalam membangun serangan, eksekusi akhir menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi The Gunners.
Kontroversi VAR dan Pertahanan Kokoh Forest
Pertandingan ini juga diwarnai oleh momen kontroversial yang bisa saja mengubah hasil akhir. Pada menit-menit krusial menjelang peluit panjang, para pemain Arsenal secara agresif menuntut hadiah penalti setelah bola diduga mengenai lengan bek Forest, Ola Aina, di dalam kotak terlarang. Insiden ini memicu ketegangan di lapangan dan di bangku cadangan. Setelah melalui peninjauan Video Assistant Referee (VAR) yang cukup memakan waktu, wasit utama akhirnya memutuskan bahwa tidak ada pelanggaran yang cukup jelas untuk memberikan penalti. Keputusan ini, seperti biasa dalam kasus handball, memicu perdebatan sengit mengenai interpretasi aturan dan posisi tangan pemain. Bagi Arsenal, ini adalah pukulan ganda; selain gagal mencetak gol dari permainan terbuka, harapan terakhir mereka untuk meraih kemenangan melalui penalti juga pupus.
Di sisi lain, Nottingham Forest di bawah arahan pelatih Sean Dyche layak mendapatkan pujian setinggi-tingginya atas performa disiplin dan kerja keras mereka. Dyche berhasil mengorganisir lini pertahanan timnya dengan sangat baik, menciptakan barisan yang rapat dan sulit ditembus oleh gempuran Arsenal. Mereka tidak hanya bertahan secara pasif, tetapi juga cerdas dalam mengganggu ritme permainan Arsenal, seringkali melakukan tekel penting dan memblokir jalur umpan krusial. Dyche sendiri mengaku sangat puas dengan penampilan timnya, terutama dalam menghadapi tuntutan penalti Arsenal. “Saya akan sangat kecewa jika penalti itu diberikan. Kami tampil disiplin dan bekerja keras,” ujarnya kepada BBC. Pernyataan ini menegaskan filosofi Dyche yang mengedepankan soliditas pertahanan dan etos kerja tanpa henti, sebuah formula yang terbukti ampuh membendung serangan tim pemuncak klasemen.
Dengan hasil imbang ini, Arsenal tetap memimpin klasemen Liga Primer Inggris dengan koleksi 50 poin. Namun, keunggulan mereka atas Manchester City dan Aston Villa, yang sama-sama mengumpulkan 43 poin dan berada di posisi kedua serta ketiga, hanya tujuh poin. Kehilangan dua poin krusial ini berarti Arsenal gagal menciptakan jarak yang lebih signifikan, menjaga persaingan di papan atas tetap panas dan ketat. Sementara itu, bagi Nottingham Forest, satu poin dari pertandingan ini adalah hasil yang sangat berharga dalam perjuangan mereka menghindari zona degradasi. Forest kini menempati posisi ke-17 dengan 22 poin, unggul lima poin dari tim-tim di zona merah. Sean Dyche mengakui bahwa meskipun ada banyak hal positif dari performa melawan Arsenal, timnya masih memiliki pekerjaan besar di depan untuk mengamankan posisi mereka di Liga Primer. “Kami harus realistis dengan posisi kami saat ini. Ada banyak hal positif hari ini, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” pungkas Dyche, menunjukkan bahwa fokus mereka tetap pada konsistensi dan perbaikan berkelanjutan demi kelangsungan hidup di kasta tertinggi sepak bola Inggris.


















