Prahara di Casablanca: Drama Penalti dan Aksi Walk-Out Warnai Kemenangan Dramatis Senegal atas Maroko
Pertandingan final Piala Afrika 2025 yang mempertemukan tuan rumah Maroko melawan juara bertahan Senegal akan dikenang bukan hanya karena kualitas teknis di lapangan, melainkan karena rentetan drama luar biasa yang hampir menghentikan jalannya laga. Stadion yang dipenuhi puluhan ribu pendukung fanatik Singa Atlas berubah menjadi arena ketegangan tinggi setelah skor kacamata 0-0 bertahan hingga waktu normal berakhir. Kebuntuan ini memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu, namun sebelum itu terjadi, sebuah insiden kontroversial di masa injury time babak kedua memicu kekacauan massal yang melibatkan pemain, staf pelatih, hingga para suporter di tribun. Keputusan wasit Jean-Jacques Ndala yang memberikan hadiah penalti kepada Maroko setelah berkonsultasi dengan Video Assistant Referee (VAR) menjadi sumbu ledak yang mengubah atmosfer pertandingan dari kompetisi olahraga menjadi konfrontasi terbuka.
Kekacauan bermula pada menit keenam masa tambahan waktu ketika bintang Maroko, Brahim Diaz, dijatuhkan di dalam kotak terlarang oleh El Hadji Malick Diouf. Awalnya, wasit tidak langsung menunjuk titik putih, namun setelah intervensi VAR yang memakan waktu cukup lama, keputusan akhirnya berpihak pada tuan rumah. Keputusan ini memicu protes keras dari kubu Senegal. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang merasa timnya dirugikan oleh keputusan yang dianggap terlambat dan kontroversial, mengambil langkah ekstrem dengan menginstruksikan seluruh pemainnya untuk meninggalkan lapangan pertandingan. Aksi walk-out ini menciptakan kekosongan di lapangan selama kurang lebih 14 menit, sebuah durasi yang sangat jarang terjadi dalam partai final turnamen besar. Di tengah ketidakpastian tersebut, suporter Maroko melontarkan siulan tajam yang memekakkan telinga sebagai bentuk tekanan kepada tim lawan, sementara para pemain dari kedua tim terlibat adu argumen sengit di pinggir lapangan.
Keadaan mulai mereda berkat peran krusial sang kapten sekaligus ikon sepak bola Senegal, Sadio Mane. Di saat rekan-rekannya diliputi emosi dan bersiap untuk tidak melanjutkan laga, Mane masuk ke ruang ganti dan melakukan persuasi mendalam untuk membujuk mereka kembali ke lapangan demi menjaga sportivitas dan peluang mempertahankan gelar. Setelah negosiasi yang alot dan mediasi dari ofisial pertandingan, Senegal akhirnya bersedia melanjutkan laga. Namun, kembalinya mereka ke lapangan justru diikuti dengan eskalasi ketegangan di area tribun. Kelompok suporter fanatik Senegal yang dikenal sebagai “Gainde” mulai bereaksi agresif dengan melompati papan pembatas lapangan. Mereka berusaha menghadapi para ofisial dan delegasi Maroko secara langsung, memaksa polisi antihuru-hara turun tangan untuk membentuk barikade pelindung. Berbagai benda tumpul dan botol air dilemparkan ke arah lapangan, menciptakan pemandangan yang mencekam di salah satu stadion termegah di Afrika tersebut.
Kekacauan di Tribun dan Kegagalan Fatal Brahim Diaz
Kericuhan tidak hanya terbatas pada area permainan dan tribun penonton, tetapi juga merembet ke ruang pers. Laporan dari koresponden ESPN menyebutkan bahwa ketegangan emosional di lapangan menular ke para jurnalis yang meliput, di mana sempat terjadi perkelahian fisik antar awak media dari kedua negara. Di lapangan hijau, sebelum penalti dieksekusi, provokasi terus berlanjut. Kiper Senegal, Edouard Mendy, terlihat mencoba mengganggu konsentrasi lawan dengan mengacak-acak tanah di sekitar titik penalti, sebuah tindakan provokatif yang membuatnya diganjar kartu kuning oleh wasit. Sementara itu, pemain Maroko Ismael Saibari dan Abdoulaye Seck dari Senegal terlibat bentrokan fisik kecil yang memperkeruh suasana. Di tengah tekanan psikologis yang luar biasa berat, Brahim Diaz akhirnya maju sebagai algojo penalti Maroko.
Secara mengejutkan, Diaz memilih untuk melakukan teknik tendangan Panenka yang sangat berisiko. Namun, Edouard Mendy yang tetap tenang di bawah mistar gawang berhasil membaca arah bola dengan sempurna dan menangkap si kulit bundar dengan sangat mudah. Kegagalan ini menjadi titik balik bagi Maroko. Momentum yang seharusnya membawa mereka menuju gelar juara justru musnah seketika. Memasuki babak pertama perpanjangan waktu, Senegal yang tampil lebih klinis dan tenang berhasil memecah kebuntuan. Pape Gueye melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang bersarang di pojok gawang Maroko, mengubah skor menjadi 1-0. Keunggulan ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memastikan Senegal meraih gelar juara Piala Afrika untuk kedua kalinya dalam lima tahun terakhir, mengulangi kesuksesan mereka pada edisi 2021.
Kritik Tajam Walid Regragui dan Evaluasi Sportivitas
Seusai pertandingan, pelatih Maroko Walid Regragui tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya, bukan hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada perilaku tim lawan. Dalam konferensi pers yang emosional, Regragui mengecam keputusan Pape Thiaw yang menarik timnya keluar lapangan. Menurutnya, tindakan tersebut secara sengaja dilakukan untuk merusak ritme dan konsentrasi Brahim Diaz sebelum mengeksekusi penalti. “Saya pikir banyak waktu yang terbuang sebelum Brahim mengambil penalti. Itu terlalu lama dan itu memengaruhi konsentrasinya secara signifikan. Pertandingan yang kami jalani ini, dengan segala insidennya, adalah sebuah hal yang memalukan bagi citra sepak bola Afrika di mata dunia,” ujar Regragui dengan nada getir.
Regragui juga menekankan pentingnya peran seorang pelatih sebagai teladan moral bagi para pemain dan publik. Ia menyoroti pernyataan-pernyataan provokatif dari kubu Senegal sejak sebelum laga dimulai, di mana mereka menuding Maroko bermain tidak sportif. “Seorang pelatih kepala seharusnya memberi teladan. Ketika ia meminta para pemain keluar dari lapangan, apalagi setelah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan sejak konferensi pers pra-laga, sikap elegan tetap harus dijaga, baik saat menang maupun kalah. Kini ia (Thiaw) berstatus juara Afrika dan bebas berbicara apa pun, tetapi faktanya pertandingan sempat terhenti lebih dari 10 menit karena instruksinya,” tambahnya. Meskipun mengkritik lawan, Regragui tetap bersikap ksatria dengan tidak menjadikan gangguan tersebut sebagai alasan utama kegagalan pemainnya.
Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi catatan kelam sekaligus bersejarah dalam final ini:
- Intervensi VAR: Keputusan penalti pada menit ke-90+6 yang memicu protes massal.
- Durasi Penundaan: Pertandingan terhenti selama 14 menit akibat aksi walk-out tim Senegal.
- Diplomasi Pemain: Peran Sadio Mane dalam membujuk rekan setimnya untuk kembali bertanding.
- Kegagalan Eksekusi: Tendangan Panenka Brahim Diaz yang berhasil diamankan oleh Edouard Mendy.
- Keamanan Stadion: Kerusakan fasilitas stadion dan bentrokan antara suporter dengan polisi antihuru-hara.
Walid Regragui menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kegagalan Brahim Diaz adalah tanggung jawab teknis timnya, namun ia tetap menyayangkan atmosfer non-teknis yang merusak esensi final tersebut. “Cara ia menendang bola adalah tanggung jawab kami sendiri. Yang perlu dilakukan sekarang adalah melangkah ke depan dan menerima bahwa Brahim memang gagal, namun kita tidak boleh menutup mata terhadap apa yang terjadi di pinggir lapangan. Sepak bola Afrika butuh kemajuan dalam hal kedisiplinan dan sportivitas jika ingin dihargai secara global,” pungkasnya. Kemenangan Senegal ini memang menasbihkan mereka sebagai kekuatan dominan di benua hitam, namun perdebatan mengenai etika dan keamanan dalam pertandingan ini diprediksi akan terus bergulir di meja federasi sepak bola Afrika (CAF) untuk waktu yang lama.


















