Dalam salah satu duel paling dinanti di kalender sepak bola Inggris, Arsenal dan Manchester United saling berhadapan dalam lanjutan Liga Inggris musim 2025/26. Pertarungan sengit ini tersaji di markas kebanggaan The Gunners, Emirates Stadium, London, pada Minggu (25/1) malam waktu setempat. Ribuan pasang mata, baik di stadion maupun di seluruh dunia, tertuju pada laga yang secara historis selalu menjanjikan drama dan intensitas. Ekspektasi tinggi menyelimuti pertandingan ini, mengingat posisi kedua tim di papan atas dan rivalitas abadi yang telah terukir selama beberapa dekade. Setelah 90 menit penuh aksi dan lima gol tercipta, Manchester United berhasil pulang dengan kemenangan tipis 3-2, sebuah hasil yang tidak hanya mengamankan tiga poin krusial tetapi juga memberikan pernyataan kuat di kancah persaingan juara.
Analisis Mendalam Susunan Pemain dan Strategi Awal
Manajer Arsenal, dengan ambisi besar untuk meraih gelar, menurunkan skuad terbaiknya yang dirancang untuk mendominasi penguasaan bola dan menekan lawan. Di bawah mistar gawang, David Raya dipercaya mengawal pertahanan. Lini belakang diisi oleh kuartet bek tangguh: Jurrien Timber dan Piero Hincapie di posisi bek sayap yang agresif, serta duet bek tengah kokoh William Saliba dan Gabriel Magalhaes yang dikenal dengan kekuatan fisik dan kemampuan membaca permainan. Di jantung lini tengah, trio dinamis Martin Odegaard, Martín Zubimendi, dan Declan Rice bertugas mengalirkan bola, mengorganisir serangan, serta memutus alur lawan. Odegaard sebagai kapten bertindak sebagai kreator utama, didukung oleh Rice yang berperan sebagai jangkar dan Zubimendi dengan visinya. Untuk lini serang, kecepatan dan ketajaman diandalkan pada trisula Bukayo Saka di sayap kanan, Gabriel Jesus sebagai penyerang tengah, dan Leandro Trossard di sayap kiri. Formasi ini mengindikasikan keinginan Arsenal untuk bermain menyerang, memanfaatkan lebar lapangan, dan menciptakan banyak peluang melalui kombinasi dan pergerakan tanpa bola yang cerdas.
Di sisi lain, Manchester United datang ke Emirates dengan susunan pemain yang menunjukkan perpaduan antara pengalaman dan talenta muda, di bawah arahan manajer yang bertekad melanjutkan tren positif. Kiper muda Senne Lammens diberi kepercayaan untuk menjaga gawang. Lini pertahanan United dikawal oleh Luke Shaw di bek kiri, Diogo Dalot di bek kanan, serta duet bek tengah Lisandro Martinez dan Harry Maguire yang dituntut untuk tampil solid menghadapi gempuran Arsenal. Di lini tengah, keseimbangan antara kekuatan dan kreativitas coba dibangun melalui trio Kobbie Mainoo, Casemiro, dan Patrick Dorgu. Casemiro berperan sebagai perusak serangan lawan dan distributor bola, sementara Mainoo memberikan energi dan Dorgu menawarkan dinamisme. Untuk menopang serangan, Bruno Fernandes bertindak sebagai motor serangan dan penghubung antar lini, dibantu oleh kecepatan Amad Diallo di salah satu sayap dan Bryan Mbeumo di sayap lainnya. Strategi ini kemungkinan besar berfokus pada transisi cepat, memanfaatkan kecepatan para penyerang sayap, dan kreativitas Bruno Fernandes untuk menciptakan peluang, sambil tetap menjaga disiplin pertahanan.
Drama Lima Gol: Babak Pertama Penuh Kejutan
Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi dan tempo cepat, mencerminkan rivalitas klasik kedua tim. Babak pertama menampilkan pertarungan sengit di lini tengah, dengan kedua tim berusaha menguasai jalannya pertandingan. Baik Arsenal maupun Manchester United sama-sama memiliki peluang emas untuk mencetak gol, menunjukkan kualitas serangan masing-masing. Namun, kebuntuan pecah pada menit ke-29, dan gol pertama tercipta dengan cara yang tidak terduga. Sebuah serangan yang dibangun apik oleh Arsenal berhasil menembus pertahanan United. Pemain Arsenal melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti. Bola yang melaju kencang itu secara tidak sengaja mengenai kaki bek tengah Manchester United, Lisandro Martinez, yang mencoba menghalau. Defleksi tak terduga tersebut membuat arah bola berbelok drastis, mengecoh kiper Senne Lammens, dan meluncur masuk ke gawang. Gol ini secara resmi dicatat sebagai own goal dari Lisandro Martinez, memberikan keunggulan 1-0 bagi Arsenal dan membangkitkan sorak sorai di Emirates Stadium.
Keunggulan Arsenal tidak bertahan lama. Manchester United menunjukkan mentalitas yang kuat dan berhasil membalas hanya delapan menit berselang, tepatnya pada menit ke-37. Gol penyeimbang ini berawal dari kesalahan fatal di lini belakang Arsenal. Sebuah operan yang kurang cermat atau kehilangan konsentrasi dari salah satu pemain bertahan Arsenal berhasil dimanfaatkan dengan sigap oleh penyerang United, Bryan Mbeumo. Dengan insting tajamnya, Mbeumo berhasil merebut bola di area berbahaya dan langsung berhadapan satu lawan satu dengan kiper David Raya. Dengan ketenangan luar biasa, Mbeumo melakukan gerakan tipuan yang cerdik untuk melewati Raya, meninggalkan gawang Arsenal dalam kondisi yang sudah terbuka lebar. Tanpa kesulitan berarti, ia kemudian melepaskan tembakan ke gawang yang kosong, mengubah skor menjadi 1-1. Gol ini tidak hanya mengembalikan keseimbangan, tetapi juga menjadi pukulan telak bagi mentalitas Arsenal yang baru saja unggul, sekaligus menunjukkan betapa krusialnya setiap detail dalam pertandingan level tinggi ini. Babak pertama pun berakhir dengan skor imbang, meninggalkan penonton dengan antisipasi tinggi untuk paruh kedua.
Babak Kedua: Ketegangan Meningkat dan Gol-Gol Penentu
Memasuki babak kedua, Manchester United menunjukkan determinasi lebih besar dan berhasil membalikkan keadaan. Pada menit ke-51, Patrick Dorgu menjadi pahlawan bagi Setan Merah dengan mencetak gol yang membawa timnya unggul 2-1. Gol ini merupakan hasil dari skema serangan yang terorganisir dengan baik, melibatkan kerja sama satu-dua yang brilian dengan kapten tim, Bruno Fernandes. Dorgu, yang menerima umpan balik dari Fernandes, tidak ragu melepaskan tembakan keras dengan kaki kirinya dari luar kotak penalti. Bola melesat dengan kecepatan tinggi, sempat membentur mistar gawang Arsenal, sebelum akhirnya memantul ke bawah dan masuk ke dalam jaring. Sebuah gol yang spektakuler dan dramatis, memberikan keunggulan krusial bagi United dan menambah tekanan pada Arsenal yang kini harus mengejar ketertinggalan di kandang sendiri.
Tertinggal satu gol, Arsenal meningkatkan intensitas serangan dan berusaha keras untuk kembali mencetak gol penyeimbang. Mereka mendominasi penguasaan bola dan melancarkan berbagai serangan ke pertahanan United. Upaya gigih mereka akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-84, ketika Mikel Merino berhasil mencetak gol penyama kedudukan. Gol ini berawal dari sebuah situasi sepak pojok yang diarahkan dengan presisi ke depan gawang Manchester United. Dalam kemelut yang terjadi di depan gawang, para pemain Arsenal dan United saling berebut bola. Di tengah kekacauan tersebut, Merino menunjukkan insting predatornya. Dengan sigap, ia menyambar bola liar dari jarak dekat dan melepaskan tembakan yang tidak mampu dihalau kiper Senne Lammens. Skor kembali imbang 2-2, memicu kegembiraan luar biasa di Emirates dan memberikan harapan baru bagi Arsenal untuk setidaknya mengamankan satu poin dari pertandingan yang penuh gairah ini.
Namun, drama belum berakhir. Hanya tiga menit berselang setelah gol Merino, tepatnya pada menit ke-87, Manchester United kembali unggul dan berhasil mengunci kemenangan mereka. Kali ini, giliran Matheus Cunha yang menjadi penentu dengan gol yang luar biasa. Cunha, yang mendapatkan ruang di luar kotak penalti, melepaskan tembakan jarak jauh yang akurat dengan kaki kanannya. Bola melengkung indah, melaju dengan kecepatan dan presisi tinggi, mengarah tepat ke pojok kiri atas gawang Arsenal yang tidak terjangkau oleh David Raya. Sebuah gol kelas dunia yang memecah kebuntuan di menit-menit akhir pertandingan, mengubah skor menjadi 3-2 untuk keunggulan Manchester United. Gol ini sekaligus menjadi penutup dari pesta gol di Emirates Stadium, memastikan kemenangan dramatis bagi tim tamu. Hasil ini tidak hanya memberikan tiga poin penting bagi Manchester United dalam perburuan gelar Liga Inggris 2025/26, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi Arsenal yang harus menerima kekalahan pahit di kandang sendiri setelah berjuang keras untuk menyamakan kedudukan dua kali.


















