Dalam sebuah pertarungan epik yang memukau ribuan pasang mata di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, pada Senin malam, 2 Maret 2026, dua raksasa sepak bola Indonesia, Persebaya Surabaya dan Persib Bandung, terlibat dalam drama empat gol yang berakhir imbang 2-2. Laga pekan ke-24 BRI Super League musim 2025/2026 ini tidak hanya menyuguhkan aksi jual beli serangan yang mendebarkan, tetapi juga diwarnai keputusan-keputusan krusial dari Video Assistant Referee (VAR) yang memicu perdebatan dan menambah intensitas pertandingan. Hasil ini memiliki implikasi signifikan pada peta persaingan di papan atas klasemen, di mana Persib tetap kokoh di puncak, sementara Persebaya berjuang untuk merangsek ke posisi yang lebih baik.
Drama Babak Pertama: Penalti Kontroversial dan Gol Dianulir VAR
Sejak peluit awal dibunyikan, atmosfer di GBT sudah membara. Kedua tim menunjukkan ambisi besar untuk meraih poin penuh, menciptakan tempo permainan yang cepat dan terbuka. Persib Bandung, yang datang dengan status pemuncak klasemen, langsung menekan pertahanan Persebaya, menciptakan beberapa peluang berbahaya. Salah satu kesempatan emas bagi Maung Bandung datang melalui sayap lincah mereka, Saddil Ramdani. Dengan kecepatan dan dribelnya, Saddil berhasil lolos dari kawalan bek lawan dan berhadapan langsung dengan kiper Persebaya, Ernando Ari. Namun, sepakan kerasnya masih mampu dihalau dengan gemilang oleh Ernando, menggagalkan keunggulan cepat Persib dan membuat puluhan ribu Bonek di tribun bergemuruh lega.
Persebaya, yang didukung penuh oleh suporter fanatiknya, tidak tinggal diam. Mereka terus mencari celah dan akhirnya berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-43. Momen krusial terjadi ketika penyerang andalan Bajul Ijo, Bruno Moreira, dijatuhkan di dalam kotak terlarang oleh bek Persib, Federico Barba. Wasit yang memimpin pertandingan, setelah berkonsultasi dengan VAR, memutuskan untuk memberikan hadiah penalti kepada Persebaya. Keputusan ini sempat memicu protes dari para pemain Persib, yang merasa bahwa kontak yang terjadi tidak cukup kuat untuk sebuah pelanggaran. Namun, keputusan wasit bersifat final. Bruno Moreira, yang ditunjuk sebagai algojo, menunjukkan ketenangan luar biasa di bawah tekanan. Dengan tendangan akurat dan terarah, ia sukses menaklukkan kiper Persib, membuat skor berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Persebaya. Gol ini disambut histeris oleh seluruh stadion, seolah-olah GBT meledak dalam kegembiraan.
Drama belum berakhir di babak pertama. Di masa injury time, Persib sebenarnya berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan Kakang Rudianto yang memanfaatkan kemelut di depan gawang Persebaya. Euforia sesaat menyelimuti kubu Persib, namun wasit kembali harus meninjau insiden tersebut melalui VAR. Setelah pemeriksaan yang cukup lama dan menegangkan, tayangan ulang menunjukkan bahwa sebelum gol tercipta, penyerang Persib, Ramon Tanque, lebih dulu melakukan handball. Gol Kakang Rudianto pun dianulir, membuat skor tetap 1-0 untuk Persebaya hingga jeda. Keputusan ini, seperti yang diungkapkan oleh beberapa pemain Persib dan pelatih di kemudian hari, termasuk Marc Klok, meninggalkan rasa kecewa yang mendalam, menambah daftar panjang kontroversi VAR yang mewarnai Super League musim ini.
Kebangkitan Maung Bandung dan Resiliensi Bajul Ijo di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Persib Bandung langsung tancap gas dengan semangat membara, bertekad membalas ketertinggalan dan melupakan insiden gol yang dianulir. Tekanan intens mereka akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-51. Gelandang serang Persib, Guaycochea, berhasil melepaskan sepakan keras dari luar kotak penalti yang melesat deras menembus jala gawang Persebaya yang dikawal Ernando Ari. Gol penyama kedudukan ini membangkitkan moral para pemain Persib dan mengubah dinamika pertandingan. Momentum sepenuhnya berada di tangan tim tamu.
Tidak berhenti sampai di situ, Persib Bandung berhasil membalikkan keadaan dan unggul pada menit ke-73. Sebuah serangan balik cepat yang terorganisir dengan baik menjadi kunci. Umpan terobosan cerdik dari Berguinho berhasil membelah pertahanan Persebaya, menemukan striker Andrew Jung yang berdiri bebas. Dengan tenang dan presisi, Jung melepaskan tembakan yang tak mampu dijangkau Ernando Ari, mengubah skor menjadi 2-1 untuk keunggulan Persib. Sorak sorai Bobotoh yang hadir di GBT pun membahana, seolah kemenangan sudah di depan mata.
Namun, Persebaya Surabaya menunjukkan mental baja dan semangat pantang menyerah yang luar biasa. Didukung oleh gemuruh suporter yang tak henti-hentinya, Bajul Ijo kembali menyamakan kedudukan pada menit ke-83. Momen keajaiban datang dari aksi individu brilian Toni Firmansyah yang berhasil melewati beberapa pemain bertahan Persib. Dengan visi yang tajam, ia melepaskan umpan mendatar yang matang ke arah Rivera yang berada di posisi strategis. Rivera, dengan ketenangan seorang predator, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sepakannya melesat masuk ke gawang Persib, membuat skor kembali imbang 2-2. Gol ini bukan hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga menghidupkan kembali harapan Persebaya untuk meraih setidaknya satu poin di kandang sendiri.
Detik-detik Terakhir Penuh Ketegangan dan Implikasi Klasemen
Di sisa waktu pertandingan, kedua tim saling berbalas serangan dalam upaya mencari gol kemenangan. Persib sempat memiliki kesempatan emas untuk kembali unggul ketika sepakan keras dari Castel dari luar kotak penalti melesat kencang, namun sayang, bola membentur tiang gawang Persebaya. Momen ini membuat para pendukung Persib menahan napas dan menghela napas panjang karena nyaris saja tim kesayangan mereka kembali memimpin. Persebaya juga terus menekan, menciptakan beberapa peluang dari skema bola mati dan serangan balik, namun tidak ada lagi gol yang tercipta hingga peluit panjang dibunyikan. Skor imbang 2-2 bertahan, mengakhiri laga penuh drama ini dengan adil bagi kedua tim.
Hasil imbang ini memiliki dampak signifikan pada posisi kedua tim di klasemen BRI Super League 2025/2026. Bagi Persib Bandung, tambahan satu poin membuat mereka semakin nyaman di puncak klasemen dengan total 54 poin. Mereka kini unggul empat poin dari pesaing terdekatnya, Persija Jakarta, yang berada di posisi kedua, memperkuat posisi mereka dalam perburuan gelar juara. Sementara itu, Persebaya Surabaya berada di posisi kelima dengan mengumpulkan 39 poin. Meskipun gagal meraih kemenangan di kandang, hasil imbang melawan tim pemuncak klasemen menunjukkan kekuatan dan resiliensi Persebaya, menjadi modal penting dalam upaya mereka untuk terus merangsek ke papan atas dan mengamankan tiket ke kompetisi antarklub Asia musim depan. Laga ini akan dikenang sebagai salah satu pertandingan paling mendebarkan dan penuh kontroversi di musim 2025/2026.

















