AC Milan secara dramatis berhasil mengamankan tiga poin krusial dalam perburuan gelar juara Liga Italia Serie A musim 2025/2026 setelah menundukkan tuan rumah Cremonese dengan skor 0-2 pada Minggu (1/3/2026) petang WIB. Bertanding di Stadio Giovanni Zini yang dipenuhi atmosfer intimidatif dari pendukung tuan rumah, skuad asuhan Paulo Fonseca tersebut harus menunggu hingga masa injury time untuk memecah kebuntuan melalui aksi heroik Strahinja Pavlovic dan penyelesaian klinis Rafael Leao. Kemenangan pada pekan ke-27 ini tidak hanya memperpanjang tren positif I Rossoneri di kompetisi domestik, tetapi juga membawa mereka merangsek naik ke posisi kedua klasemen sementara dengan koleksi 57 poin, sekaligus memberikan pukulan telak bagi Cremonese yang kini semakin terpuruk di peringkat ke-17 dengan raihan 24 poin.
Pertandingan ini menjadi panggung pembuktian bagi kedalaman skuad Milan yang mengombinasikan pemain berpengalaman dengan talenta muda potensial. Di bawah mistar gawang, Mike Maignan tetap menjadi sosok tak tergantikan, dilindungi oleh trio lini belakang yang solid yakni Fikayo Tomori, Koni De Winter, dan Strahinja Pavlovic yang tampil disiplin sepanjang laga. Lini tengah Milan tampil sangat dominan dengan kehadiran maestro Kroasia, Luka Modric, yang berduet dengan Adrien Rabiot dan Youssouf Fofana untuk mengontrol ritme permainan. Di sisi lain, Cremonese yang dipimpin oleh kiper tangguh Emil Audero Mulyadi, menerapkan strategi bertahan gerendel yang sangat disiplin dengan menempatkan Matteo Bianchetti dan Sebastiano Luperto sebagai tembok utama. Pelatih Cremonese mengandalkan kecepatan Alessio Zerbin di sisi sayap serta ketajaman striker veteran Jamie Vardy untuk mencuri peluang melalui skema serangan balik cepat yang beberapa kali sempat merepotkan barisan pertahanan tim tamu.
Dominasi Rossoneri dan Ketangguhan Emil Audero di Bawah Mistar
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, intensitas pertandingan langsung memuncak dengan aksi jual-beli serangan yang sangat dinamis dari kedua belah pihak. AC Milan, yang mendominasi penguasaan bola hingga 55 persen, terus berupaya membongkar pertahanan rapat tuan rumah melalui pergerakan lincah Christian Pulisic dan Rafael Leao. Peluang emas pertama bagi Milan lahir pada menit ke-11 ketika Leao berhasil menemukan ruang tembak di sisi kiri pertahanan Cremonese, namun sepakan melengkungnya masih menyamping tipis dari tiang gawang. Sembilan menit berselang, giliran Alexis Saelemaekers yang mencoba peruntungannya melalui tembakan jarak jauh, tetapi usahanya masih melebar di sisi gawang. Cremonese bukannya tanpa perlawanan; pada menit ke-27, sebuah umpan silang akurat berhasil disambut oleh Jamie Vardy dengan tendangan voli keras yang membuat pendukung Milan sempat menahan napas sebelum bola berakhir di sisi luar jaring gawang Mike Maignan.
Menjelang berakhirnya babak pertama, Stadio Giovanni Zini menjadi saksi ketangguhan luar biasa dari Emil Audero. Pada menit ke-45+1, Youssouf Fofana mendapatkan ruang terbuka di tepi kotak penalti dan melepaskan tembakan mendatar yang sangat keras menuju sudut kanan bawah gawang. Namun, Audero menunjukkan refleks kelas dunia dengan menjatuhkan diri tepat waktu dan menepis bola menggunakan kedua tangannya, memastikan skor tetap imbang tanpa gol hingga turun minum. Statistik babak pertama mencatat dominasi Milan dengan total 11 tembakan, di mana dua di antaranya tepat sasaran, sementara Cremonese memberikan perlawanan sengit dengan menciptakan 9 tembakan yang juga menghasilkan dua peluang on-target. Kedisiplinan lini belakang Cremonese yang digalang oleh Francesco Folino benar-benar membuat frustrasi barisan penyerang Milan sepanjang 45 menit pertama.
Memasuki babak kedua, ketegangan di lapangan semakin meningkat seiring dengan ambisi Milan untuk membawa pulang poin penuh. Pada menit ke-60, Rafael Leao hampir saja memecah kebuntuan setelah menerima umpan terukur dari Adrien Rabiot, namun penyelesaian akhirnya dari dalam kotak penalti masih melayang tipis di atas mistar gawang Audero. Cremonese merespons tekanan tersebut pada menit ke-65 melalui Jari Vandeputte yang memanfaatkan umpan panjang akurat, namun tendangan spekulasinya dari tepi kotak penalti juga belum mampu menguji kesigapan Mike Maignan. Pertarungan taktik di lini tengah menjadi sangat krusial, di mana Morten Thorsby dan Youssef Maleh bekerja keras memutus aliran bola dari Luka Modric yang terus berusaha mencari celah di antara lini pertahanan tuan rumah yang sangat rapat.
Drama Menit Berdarah: Sundulan Pavlovic dan Aksi Solo Rafael Leao
Memasuki fase akhir pertandingan, tepatnya pada menit ke-73, Emil Audero kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu kiper terbaik di Serie A. Rafael Leao melakukan penetrasi individu yang memukau, melewati dua pemain bertahan Cremonese sebelum melepaskan tendangan rendah yang mengarah tepat ke tengah gawang. Namun, Audero dengan posisi yang sangat baik berhasil menggagalkan peluang tersebut, membuat publik tuan rumah bersorak memberikan apresiasi. Namun, tembok kokoh yang dibangun Audero akhirnya runtuh juga tepat pada menit ke-90. Berawal dari skema bola mati, Luka Modric melepaskan umpan silang melengkung yang sangat presisi ke jantung pertahanan lawan. Strahinja Pavlovic yang memiliki keunggulan postur tubuh berhasil memenangi duel udara dan menyundul bola dengan tenaga maksimal ke pojok gawang. Gol ini sempat ditinjau melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk melihat potensi handball, namun wasit akhirnya mengesahkan gol tersebut yang disambut selebrasi emosional oleh para pemain Milan.
















