Stadion Segiri Samarinda menjadi saksi bisu sebuah drama sepak bola yang menguras emosi saat Borneo FC Samarinda menjamu PSIM Yogyakarta dalam laga lanjutan pekan ke-19 Super League 2025/26 pada Minggu, 1 Februari 2026. Pertandingan yang berlangsung dengan intensitas tinggi ini berakhir dengan kemenangan tipis 2-1 untuk sang tuan rumah, “Pesut Etam,” berkat kontribusi gemilang dari dua amunisi anyar mereka yang langsung menunjukkan taringnya di hadapan ribuan pendukung setia. Kemenangan dramatis ini tidak hanya mengamankan tiga poin krusial bagi anak asuh Fabio Lefundes, tetapi juga memanaskan persaingan di papan atas klasemen, di mana Borneo FC kini menempel ketat Persib Bandung di posisi puncak dengan selisih hanya satu poin. Pertarungan ini menjadi ajang pembuktian efektivitas bursa transfer tengah musim bagi manajemen Borneo FC yang berhasil mendatangkan pemain-pemain berkualitas untuk memperkuat kedalaman skuad dalam perburuan gelar juara musim ini.
Dominasi Pesut Etam dan Debut Manis Kaio Nunes di Babak Pertama
Sejak peluit pertama dibunyikan oleh wasit, Borneo FC langsung mengambil inisiatif serangan dengan menerapkan garis pertahanan tinggi. Pelatih Fabio Lefundes membuat keputusan berani dengan menurunkan empat pemain barunya sekaligus untuk memberikan dimensi baru dalam permainan tim. Kehadiran wajah-wajah baru ini tampaknya memberikan energi tambahan bagi skuad Pesut Etam yang tampil sangat agresif di menit-menit awal. Aliran bola dari lini tengah yang dikomandoi oleh para pemain kreatif Borneo FC terus menekan barisan pertahanan PSIM Yogyakarta yang dikomandoi oleh lini belakang yang disiplin. Tekanan demi tekanan yang dilancarkan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-29. Melalui sebuah skema serangan balik yang terorganisir, pemain anyar Kaio Nunes berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Gol tersebut lahir dari sebuah penetrasi cepat yang diakhiri dengan penyelesaian akhir yang tenang, membuat Stadion Segiri bergemuruh merayakan keunggulan perdana sang tuan rumah.
Keunggulan 1-0 membuat Borneo FC semakin percaya diri dalam menguasai jalannya pertandingan. Kaio Nunes, yang baru saja bergabung, tampak tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan gaya permainan tim. Ia berkali-kali merepotkan sisi sayap pertahanan Laskar Mataram dengan kecepatan dan kemampuan olah bolanya yang mumpuni. Di sisi lain, PSIM Yogyakarta yang datang dengan misi mencuri poin tidak tinggal diam. Tim tamu mencoba merespons melalui serangan balik cepat dan mengandalkan kreativitas Ze Valente di lini tengah. Namun, solidnya koordinasi lini belakang Borneo FC yang dipimpin oleh pemain-pemain berpengalaman membuat setiap upaya PSIM selalu kandas sebelum memasuki kotak penalti. Hingga turun minum, skor 1-0 tetap bertahan, memberikan modal berharga bagi Borneo FC untuk menghadapi paruh kedua pertandingan yang diprediksi akan berjalan lebih sengit.
Kebangkitan Laskar Mataram dan Drama Penalti Ze Valente
Memasuki babak kedua, jalannya pertandingan mengalami perubahan dinamika yang cukup signifikan. PSIM Yogyakarta yang tertinggal satu gol mulai keluar dari tekanan dan bermain lebih terbuka. Pelatih PSIM menginstruksikan anak asuhnya untuk meningkatkan intensitas serangan dan melakukan pressing ketat sejak di area pertahanan Borneo FC. Strategi ini terbukti efektif dalam meredam agresivitas tuan rumah yang mulai tampak sedikit menurunkan tempo permainan. Duel-duel fisik di lini tengah menjadi pemandangan yang tak terelakkan, memaksa wasit untuk bekerja ekstra keras dalam menjaga jalannya pertandingan agar tetap kondusif. Borneo FC sempat mendapatkan beberapa peluang melalui skema bola mati, namun penyelesaian akhir yang kurang akurat membuat mereka gagal menggandakan keunggulan.
Petaka bagi tuan rumah datang pada menit ke-82. Sebuah insiden di dalam kotak terlarang membuat wasit menunjuk titik putih setelah pemain bertahan Borneo FC dianggap melakukan pelanggaran terhadap penyerang PSIM. Keputusan ini sempat diprotes keras oleh para pemain dan staf kepelatihan Borneo, namun wasit tetap pada keputusannya. Ze Valente, sang maestro lapangan tengah PSIM, maju sebagai algojo. Dengan ketenangan luar biasa, pemain asal Portugal tersebut melepaskan tendangan yang mengecoh penjaga gawang Borneo FC, mengubah skor menjadi imbang 1-1. Gol penyama kedudukan ini sempat membungkam publik Segiri dan memberikan angin segar bagi Laskar Mataram untuk membawa pulang setidaknya satu poin dari Samarinda. Pertandingan pun memasuki fase krusial di sepuluh menit terakhir dengan tensi yang semakin memuncak.
Koldo Obieta: Pahlawan Baru di Masa Injury Time
Saat pertandingan tampak akan berakhir dengan skor imbang, Borneo FC menunjukkan mentalitas juara mereka. Di masa injury time babak kedua, tepatnya saat laga memasuki menit-menit akhir tambahan waktu, sebuah momen dramatis tercipta. Berawal dari sebuah skema serangan pamungkas yang disusun dengan rapi dari sisi sayap, sebuah umpan lambung presisi dikirimkan ke jantung pertahanan PSIM Yogyakarta. Koldo Obieta, penyerang debutan yang baru masuk di babak kedua, melompat lebih tinggi dari para pemain bertahan lawan. Dengan sundulan yang terarah dan bertenaga, Obieta mengarahkan bola ke sudut gawang yang tidak mampu dijangkau oleh kiper PSIM. Bola bersarang di jaring gawang, memicu ledakan kegembiraan yang luar biasa dari seluruh pemain, ofisial, dan suporter Borneo FC di stadion.
Gol kemenangan yang dicetak oleh Koldo Obieta ini menjadi bukti sahih betapa jagonya Fabio Lefundes dalam membaca situasi pertandingan dan melakukan pergantian pemain yang tepat. Obieta, yang didatangkan untuk mempertajam lini serang, langsung membayar kepercayaan tersebut dengan gol krusial di detik-detik terakhir. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memastikan Borneo FC mengantongi poin penuh dalam laga yang sangat menguras fisik dan mental ini. Keberhasilan dua pemain anyar, Kaio Nunes dan Koldo Obieta, mencetak gol dalam laga debut mereka menjadi sinyal positif bagi perjalanan Borneo FC di sisa musim Super League 2025/26. Kemenangan ini sekaligus memutus tren negatif atau kebuntuan yang mungkin sempat dialami tim dalam beberapa laga sebelumnya.
Secara statistik, kemenangan ini menempatkan Borneo FC di posisi kedua klasemen sementara dengan koleksi 43 poin dari 19 pertandingan. Mereka kini hanya terpaut satu angka dari pemuncak klasemen, Persib Bandung, yang mengoleksi 44 poin. Persaingan menuju gelar juara semakin terbuka lebar, mengingat performa konsisten yang ditunjukkan oleh Pesut Etam, terutama dengan tambahan kekuatan dari pemain-pemain baru mereka. Bagi PSIM Yogyakarta, kekalahan ini tentu sangat menyakitkan mengingat mereka sempat menyamakan kedudukan di menit-menit akhir, namun pelajaran berharga dapat diambil dari kegigihan mereka dalam memberikan perlawanan sengit kepada salah satu kandidat juara musim ini.
Ke depannya, Borneo FC diharapkan dapat mempertahankan momentum positif ini saat melakoni laga-laga selanjutnya. Integrasi pemain baru ke dalam sistem permainan Fabio Lefundes tampaknya berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan, yang menjadi modal penting dalam menghadapi jadwal padat di putaran kedua. Publik Samarinda kini menaruh harapan besar pada bahu Kaio Nunes, Koldo Obieta, dan rekan-rekan setimnya untuk terus memberikan performa terbaik demi mewujudkan mimpi mengangkat trofi Super League di akhir musim. Dengan dukungan penuh dari suporter dan manajemen yang solid, Borneo FC Samarinda kini menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dalam peta persaingan sepak bola kasta tertinggi di Indonesia.

















