- Maximo Perrone: Gelandang muda yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mendikte tempo permainan dan menjaga keseimbangan di lini tengah.
- Lucas Da Cunha: Pemain sayap kreatif yang mampu mengeksploitasi celah sempit dengan kemampuan dribel dan umpan kunci yang presisi.
- Maxime Caqueret: Sosok dinamis yang menjadi jembatan antara lini pertahanan dan lini serang dengan mobilitas tinggi.
- Nico Paz: Talenta muda yang membawa dimensi baru dalam serangan Como melalui kemampuan teknis dan keberanian melakukan penetrasi.
- Martin Baturina: Playmaker yang memiliki pemahaman ruang yang sangat baik, memungkinkannya selalu berada di posisi yang tepat untuk menerima bola.
Kekompakan yang ditunjukkan oleh lini tengah dan sektor ofensif Como ini bukanlah hasil dari latihan pola yang berulang-ulang secara mekanis, melainkan hasil dari pemahaman mendalam mengenai ruang dan waktu. Fabregas menjelaskan bahwa ketika para pemain memiliki persepsi yang sama terhadap ruang, mereka dapat saling menutupi dan mendukung satu sama lain tanpa perlu berkomunikasi secara verbal. “Mereka saling memahami dan mengerti ruang,” kata Fabregas saat mengulas bagaimana timnya mampu membongkar pertahanan lawan yang rapat. Kemampuan untuk membaca dinamika ruang ini memberikan tim sebuah keunggulan kompetitif, di mana mereka dapat bereaksi lebih cepat terhadap perubahan situasi pertandingan dibandingkan tim yang hanya mengandalkan skema taktis yang telah dipelajari sebelumnya.
Sebut Maurizio Sarri Jenius: Warisan Intelektual dan Resiliensi Tim
Di balik kesuksesan taktisnya, Fabregas tidak melupakan akar intelektual yang membentuk pemikirannya sebagai pelatih. Ia memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Maurizio Sarri, sosok yang ia hadapi dalam laga panas antara Lazio vs Como. Bagi Fabregas, Sarri bukan sekadar lawan, melainkan seorang mentor yang memiliki pengaruh besar dalam kariernya. “Maurizio adalah seorang jenius,” tegas Fabregas. Pengakuan ini didasarkan pada pengalaman pribadinya saat berada di bawah asuhan Sarri ketika keduanya masih membela panji Chelsea di Liga Inggris. Fabregas mengakui bahwa banyak ide-ide revolusioner Sarri yang hingga kini masih ia adopsi dan modifikasi untuk diterapkan di skuad Como. Hubungan emosional dan intelektual ini menunjukkan bahwa meskipun Fabregas ingin melepaskan diri dari kekakuan taktis, ia tetap menghargai struktur berpikir yang logis dan inovatif yang diajarkan oleh para pendahulunya.
Kemenangan krusial atas Lazio yang diraih baru-baru ini menjadi bukti nyata dari resiliensi mental yang telah ditanamkan Fabregas ke dalam skuadnya. Kemenangan ini terasa sangat emosional karena diraih hanya berselang empat hari setelah kekecewaan besar saat menjamu AC Milan. Dalam laga melawan Milan tersebut, Como sebenarnya tampil sangat dominan dan menguasai jalannya pertandingan, namun mereka harus menelan pil pahit dengan kekalahan 1-3 akibat kegagalan memaksimalkan peluang. “Kalah dari Milan lalu bereaksi empat hari kemudian melawan tim kuat bukanlah hal yang mudah,” ujar Fabregas, menekankan betapa pentingnya aspek psikologis dalam sepak bola profesional. Reaksi cepat para pemain untuk bangkit dari kekalahan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya matang secara teknis, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang kuat.
Saat ini, Como asuhan Cesc Fabregas telah menjelma menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah Liga Italia. Keberhasilan mereka bertengger di peringkat keenam klasemen sementara dengan raihan 37 poin menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan “anti-robotik” ini mulai membuahkan hasil yang signifikan secara statistik. Pencapaian ini melampaui ekspektasi banyak pengamat di awal musim, mengingat Como merupakan tim yang sedang dalam proses membangun kembali kejayaannya. Dengan konsistensi yang ditunjukkan dan filosofi permainan yang membebaskan kreativitas pemain, Como kini berada di jalur yang tepat untuk memperebutkan tiket kompetisi Eropa, sebuah pencapaian yang akan mengukuhkan nama Cesc Fabregas sebagai salah satu pelatih muda paling prospektif di benua biru.

















