JAKARTA – Atmosfer Istora Senayan, Jakarta, kembali bergelora menyambut para pebulutangkis terbaik dunia dalam ajang Indonesia Masters. Di tengah riuhnya sorak-sorai penonton, pasangan ganda putra kebanggaan Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri, menjejakkan kaki di lapangan dengan semangat membara dan tekad bulat. Mereka tidak hanya membawa harapan pribadi, tetapi juga memikul beban ekspektasi tinggi dari Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang secara eksplisit menargetkan gelar juara di turnamen bergengsi ini. Antusiasme mereka untuk kembali bertanding di hadapan publik sendiri sangat terasa, menjadi energi pendorong utama dalam perburuan mahkota juara di kandang sendiri.
Perjalanan Fajar/Fikri di turnamen ini dimulai dengan langkah yang sangat meyakinkan. Pada babak pembuka, keduanya menunjukkan performa dominan saat menghadapi wakil Taiwan, Chen Zhi Ray dan Lin Yu Chieh. Dengan strategi yang matang dan eksekusi yang presisi, Fajar/Fikri berhasil mengunci kemenangan dua gim langsung dengan skor telak 21-16 dan 21-10. Efisiensi permainan mereka sangat menonjol, terbukti dari durasi pertandingan yang hanya memakan waktu 30 menit. Kemenangan cepat dan meyakinkan ini tidak hanya menjadi modal awal yang berharga, tetapi juga sebuah pernyataan tegas mengenai kesiapan mereka dalam mengarungi persaingan ketat di Indonesia Masters. Seusai laga, Fajar Alfian dengan lugas menyampaikan ambisi besar mereka. “PBSI menargetkan kami berdua untuk juara di sini,” ujarnya, menegaskan bahwa target tersebut bukan hanya datang dari internal tim, melainkan juga dari otoritas bulutangkis tertinggi di Indonesia.
Beban Ekspektasi dan Dahaga Gelar di Kandang Sendiri
Target juara yang dibebankan kepada Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri bukanlah tanpa alasan yang kuat. Fajar menjelaskan beberapa faktor krusial yang melatarbelakangi ekspektasi ini. “Karena pertama juga, di sini tuan rumah, yang pasti,” ucapnya, menyoroti pentingnya status sebagai tuan rumah. Bertanding di Istora Senayan selalu memiliki makna lebih bagi atlet Indonesia. Dukungan fanatik yang tiada henti, gemuruh suara penonton yang memekakkan telinga, serta aura magis yang menyelimuti setiap pertandingan, seringkali menjadi faktor penentu yang dapat mengangkat performa atlet di atas rata-rata. Selain itu, Fajar juga menyinggung tentang periode absennya gelar juara yang telah mereka alami. “Dan juga sudah lama kami tidak mendapatkan gelar ya, setelah di China Open tahun lalu,” tambahnya, merujuk pada kemenangan terakhir mereka di China Open 2023. Jeda tanpa gelar ini, meskipun tidak terlalu panjang, tetap menciptakan sebuah “dahaga” untuk kembali merasakan manisnya podium tertinggi, terutama di turnamen sebesar Indonesia Masters yang diselenggarakan di tanah air sendiri.
Lebih lanjut, Fajar menegaskan bahwa target juara ini bukan hanya datang dari PBSI atau pelatih, melainkan juga merupakan aspirasi pribadi yang kuat dari dirinya dan Fikri. “Dan kami juga target pribadi dan target dari pelatih juga pengin kami memberikan yang terbaik, yaitu juara di sini,” jelasnya. Sinergi antara target organisasi, pelatih, dan pemain ini menunjukkan keseriusan dan komitmen penuh untuk meraih prestasi maksimal. Fajar juga mengungkapkan kerinduannya untuk kembali menjadi juara di Istora. “Sudah lama juga tidak juara di Indonesia ini. Dan terakhir ya saya pribadi, 2022, eh 2023 ya. Jadi memang sudah 3 tahun lamanya eh tidak juara di Istora. Dan sekarang saya pengen bersama Fikri menjadi juara di sini,” ungkap Fajar. Meskipun ada sedikit kebingungan dalam penyebutan tahun terakhir kemenangannya (Fajar terakhir kali juara Indonesia Masters pada 2022 bersama Muhammad Rian Ardianto), semangat dan tekadnya untuk mengulang kejayaan di Istora, kali ini bersama Fikri, sangat jelas dan membara. Kemenangan di Istora akan menjadi penanda penting bagi pasangan baru ini, sekaligus mengukuhkan posisi mereka di kancah bulutangkis internasional.
Magis Istora: Energi Tambahan dari Lautan Suporter
Di sisi lain, Muhammad Shohibul Fikri menyoroti peran krusial dukungan suporter Indonesia yang hadir langsung di Istora Senayan. Baginya, kehadiran dan sorak-sorai penonton bukan sekadar pemanis pertandingan, melainkan sebuah “energi tambahan” yang sangat signifikan. “Saya sangat mengucapkan terima kasih banyak untuk suporter Indonesia yang telah hadir di stadion. Karena berkat dukungan mereka semua, kami jadi lebih semangat lagi tadi,” ucap Fikri dengan tulus. Atmosfer Istora yang terkenal dengan keriuhan dan antusiasme luar biasa dari para penggemar bulutangkis Indonesia memang kerap kali menjadi faktor pembeda. Gemuruh tepuk tangan, teriakan dukungan, hingga chant-chant khas Indonesia yang tidak pernah berhenti, mampu membangkitkan semangat juang para atlet di lapangan.


















