Atmosfer membara di Stadion Anfield menjadi saksi bisu drama comeback heroik Manchester City yang berhasil menumbangkan tuan rumah Liverpool dengan skor tipis 2-1 dalam lanjutan pekan krusial Liga Inggris musim 2025/2026 pada Minggu (8/2) malam WIB. Pertandingan yang mempertemukan dua raksasa sepak bola modern ini berlangsung dengan intensitas tinggi sejak peluit pertama dibunyikan, di mana Liverpool sempat memimpin lebih dulu melalui eksekusi tendangan bebas spektakuler Dominik Szoboszlai sebelum akhirnya dibalikkan oleh gol Bernardo Silva dan penalti penentu Erling Haaland di masa injury time. Kemenangan dramatis ini tidak hanya mengamankan tiga poin penting bagi skuad asuhan Pep Guardiola untuk terus menempel ketat Arsenal di puncak klasemen, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi ambisi The Reds dalam persaingan menembus zona Liga Champions musim depan.
Pertandingan dimulai dengan tempo yang sangat cepat, mencerminkan rivalitas sengit yang telah terbangun selama satu dekade terakhir. Liverpool, yang didorong oleh ribuan pendukung fanatiknya, mencoba mengambil inisiatif serangan sejak awal laga untuk memangkas jarak delapan poin dari Manchester City. Di sisi lain, The Citizens datang dengan misi penebusan setelah sebelumnya sempat menelan hasil pahit saat bertandang ke markas Brighton. Sepanjang babak pertama, kedua tim terlibat dalam duel taktis yang sangat disiplin di lini tengah, membuat peluang bersih sangat sulit didapatkan. Pertahanan Liverpool yang dikomandoi oleh barisan belakang yang rapat berhasil meredam agresivitas Erling Haaland, sementara lini belakang City yang dipimpin Ruben Dias juga tampil sangat solid dalam mematahkan transisi cepat yang menjadi ciri khas tuan rumah.
Kebuntuan yang Pecah Melalui Skema Bola Mati
Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan tidak menurun sedikit pun, justru semakin meningkat seiring dengan ambisi kedua tim untuk memecah kebuntuan. Setelah sekian lama saling serang tanpa membuahkan hasil, momen yang dinanti publik Anfield akhirnya tiba pada menit ke-74. Berawal dari sebuah pelanggaran di area berbahaya di luar kotak penalti Manchester City, Dominik Szoboszlai maju sebagai eksekutor tendangan bebas. Dengan teknik tendangan yang presisi dan melengkung tajam, bola melewati pagar betis dan menghujam pojok gawang yang dikawal Ederson Moraes. Gol tersebut membuat seisi stadion bergemuruh, memberikan harapan besar bagi Liverpool untuk mengamankan poin penuh di kandang sendiri dan merangkak naik di papan klasemen sementara.
Namun, keunggulan satu gol tersebut justru memicu reaksi luar biasa dari Manchester City. Tertinggal di menit-menit krusial memaksa Pep Guardiola menginstruksikan pemainnya untuk tampil lebih menyerang dan mengurung pertahanan Liverpool. Mentalitas juara yang dimiliki The Citizens mulai terlihat saat mereka meningkatkan tekanan secara sistematis. Serangan demi serangan dibangun dari sektor sayap, memaksa barisan pertahanan Liverpool bekerja ekstra keras. Pada menit ke-84, kerja keras tim tamu akhirnya membuahkan hasil. Erling Haaland, yang sepanjang laga dijaga ketat, berhasil menemukan celah di sisi kanan pertahanan lawan dan melepaskan umpan tarik yang sangat akurat. Bernardo Silva yang muncul dari lini kedua dengan cerdik menyambar bola tersebut untuk menyarangkan gol penyeimbang, mengubah skor menjadi 1-1 dan membungkam publik tuan rumah.
Drama Injury Time dan Eksekusi Dingin Erling Haaland
Ketika pertandingan tampak akan berakhir dengan hasil imbang, drama sesungguhnya terjadi di masa injury time babak kedua. Dalam sebuah kemelut di dalam kotak penalti Liverpool, wasit menunjuk titik putih setelah terjadi pelanggaran keras yang dilakukan oleh pemain bertahan tuan rumah terhadap pemain City. Keputusan ini sempat diprotes keras oleh para pemain Liverpool, namun setelah tinjauan singkat, penalti tetap diberikan. Erling Haaland, yang memikul beban berat sebagai algojo, menunjukkan ketenangan luar biasa di bawah tekanan ribuan suporter lawan. Dengan tendangan yang bertenaga dan terarah, Haaland sukses mengecoh penjaga gawang Liverpool, memastikan kemenangan comeback 2-1 bagi Manchester City tepat sebelum peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan ini memiliki implikasi besar terhadap peta persaingan gelar juara Liga Inggris musim ini. Tambahan tiga poin membuat Manchester City kini kokoh di posisi kedua klasemen dengan mengoleksi total 50 poin. Meskipun menang, mereka masih harus bekerja keras karena masih tertinggal enam angka dari Arsenal yang saat ini memimpin takhta klasemen dengan performa yang sangat konsisten. Bagi City, hasil di Anfield ini merupakan pesan kuat bahwa mereka belum menyerah dalam perburuan gelar juara, sekaligus menjadi modal mental yang sangat berharga setelah sempat mengalami fluktuasi performa di laga-laga sebelumnya.
Keterpurukan Liverpool dan Persaingan Zona Eropa
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pil pahit bagi Liverpool yang harus tertahan di posisi keenam klasemen sementara dengan raihan 39 poin. Jarak lima poin dari Chelsea yang berada di posisi kelima semakin memperberat langkah tim asuhan Arne Slot untuk bisa kembali ke kompetisi kasta tertinggi Eropa. Kekalahan ini juga memperpanjang catatan kurang memuaskan Liverpool saat menghadapi tim-tim papan atas musim ini. Meskipun sempat menunjukkan perlawanan sengit, kegagalan mempertahankan keunggulan di sepuluh menit terakhir pertandingan menjadi evaluasi besar bagi staf kepelatihan The Reds, terutama dalam aspek konsentrasi di fase akhir laga.
Berikut adalah ringkasan posisi klasemen sementara setelah pertandingan dramatis di Anfield:
| Posisi | Klub | Poin | Selisih Poin |
|---|---|---|---|
| 1 | Arsenal | 56 | – |
| 2 | Manchester City | 50 | -6 |
| … | … | … | … |
| 5 | Chelsea | 44 | – |
| 6 | Liverpool | 39 | -5 |
Dengan sisa pertandingan musim 2025/2026 yang masih cukup banyak, persaingan di papan atas diprediksi akan semakin memanas. Manchester City akan terus berupaya mengejar defisit poin dari Arsenal, sementara Liverpool harus segera bangkit dan menemukan konsistensi jika tidak ingin terlempar lebih jauh dari persaingan zona Eropa. Duel di Anfield ini kembali membuktikan bahwa dalam sepak bola kasta tertinggi, detail kecil dan mentalitas di menit-menit akhir seringkali menjadi pembeda antara kemenangan yang manis dan kekalahan yang menyakitkan.

















