Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, secara strategis memperkuat jajaran staf kepelatihannya dengan merekrut analis pertandingan Persija Jakarta, Dzikry Lazuardi, untuk bergabung dalam misi mengawal skuad Garuda. Keputusan ini menandai langkah awal Herdman dalam membangun tim kepelatihan dan ofisial versinya sendiri, yang berfokus pada integrasi talenta lokal untuk meningkatkan performa timnas. Rekrutmen Dzikry terungkap setelah ia menyampaikan salam perpisahan emosional kepada klub lamanya, Persija Jakarta, tepat setelah kemenangan krusial tim Macan Kemayoran atas Persita Tangerang dengan skor 2-0. Momen perpisahan tersebut berlangsung di ruang ganti Indomilk Arena pada Jumat, 30 Januari 2026, setelah pertandingan usai, menandai babak baru dalam karier profesional Dzikry sekaligus memperkuat kolaborasi antara pelatih asing dan keahlian analisis sepak bola Indonesia.
Perjalanan Karier Dzikry Lazuardi dan Keputusan Berat Meninggalkan Persija
Dzikry Lazuardi, seorang profesional yang telah mendedikasikan dirinya pada analisis sepak bola, memiliki rekam jejak yang solid dalam dunia sepak bola Indonesia. Ia pertama kali bergabung dengan Persija Jakarta pada bulan Juni 2024, di era kepelatihan Carlos Pena. Sejak saat itu, perannya sebagai analis pertandingan terus berlanjut dan berkembang, bahkan hingga era kepelatihan Mauricio Souza dalam kompetisi Super League musim 2025/2026. Pengalamannya bersama Persija Jakarta telah membekalinya dengan pemahaman mendalam tentang dinamika tim, strategi permainan, serta analisis performa pemain dan lawan. Keputusan untuk menerima tawaran dari Tim Nasional Indonesia bukanlah hal yang mudah baginya. Dzikry sendiri mengungkapkan bahwa ia tidak pernah terpikirkan untuk meninggalkan Persija di tengah musim kompetisi. Prioritas utamanya adalah menyelesaikan musim bersama tim yang telah memberinya banyak pengalaman dan ikatan emosional. Ia menyatakan keinginannya untuk terus bekerja, menang bersama, dan merasakan kebersamaan dengan seluruh elemen tim Persija hingga akhir musim.
“Saya juga sebenarnya tidak ada kepikiran untuk keluar dari Persija di tengah musim. Saya ingin mengakhiri musim ini di Persija, bekerja bersama, menang bersama, dan ya kita selalu bersama-sama,” ungkap Dzikry Lazuardi, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Persija Jakarta pada Senin, 2 Februari 2026. Pernyataan ini mencerminkan loyalitas dan dedikasinya terhadap klub yang telah dibelanya. Namun, realitas dalam dunia sepak bola seringkali menghadirkan kesempatan yang tak terduga. Peluang untuk berkontribusi pada level tertinggi, yaitu Tim Nasional Indonesia, merupakan sebuah kehormatan besar yang tak bisa diabaikan. “Tapi memang ya di sepak bola ada perpisahan, dan saya juga mendapat kesempatan menjadi analis di Timnas Indonesia,” tambahnya, menjelaskan dilema yang dihadapinya.
Integrasi Talenta Lokal: Visi John Herdman untuk Skuad Garuda
Langkah John Herdman merekrut Dzikry Lazuardi menandakan sebuah visi strategis yang lebih luas dalam pembangunan Tim Nasional Indonesia. Sebagai pelatih kepala, Herdman tidak hanya berfokus pada pemain di lapangan, tetapi juga membangun sebuah tim kepelatihan yang solid dan komprehensif. Keterlibatan analis lokal seperti Dzikry menunjukkan kesadaran Herdman akan pentingnya memanfaatkan keahlian dan pengetahuan yang sudah ada di dalam negeri. Dzikry, yang sebelumnya juga pernah menjadi analis untuk Persipura Jayapura, membawa pengalaman berharga dari berbagai klub di Liga Indonesia. Pengalamannya ini memungkinkan dia untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang gaya bermain, kekuatan, dan kelemahan tim-tim lokal, yang krusial dalam persiapan menghadapi kompetisi internasional. Dengan bergabungnya Dzikry, Herdman secara efektif memperkaya tim kepelatihannya dengan perspektif lokal yang dapat melengkapi analisis dan strategi yang ia bawa dari latar belakang internasionalnya. Ini adalah sebuah sinergi yang diharapkan dapat menghasilkan performa terbaik bagi skuad Garuda.
Sebelum Dzikry Lazuardi, John Herdman telah menunjuk Cesar Meylan sebagai pelatih fisik, menunjukkan komitmennya untuk membentuk tim kepelatihan yang beragam dan memiliki keahlian spesifik. Rekrutmen Dzikry sebagai analis pertandingan menandai kehadiran pelatih atau staf kepelatihan lokal pertama yang secara resmi masuk dalam struktur tim kepelatihan era John Herdman. Hal ini membuka jalan bagi potensi lebih banyak lagi tenaga lokal yang akan dilibatkan dalam skuad Garuda di masa mendatang. Kehadiran analis lokal seperti Dzikry diharapkan dapat memberikan masukan yang lebih relevan dan akurat mengenai perkembangan sepak bola domestik, taktik lawan dari tim-tim Asia, serta kebutuhan spesifik para pemain Indonesia. Dengan demikian, Herdman tidak hanya membawa standar kepelatihan internasional, tetapi juga membuka ruang bagi pertumbuhan dan pengembangan talenta analisis sepak bola di tanah air, menciptakan sebuah ekosistem yang saling mendukung untuk kemajuan Tim Nasional Indonesia.
Harapan dan Misi Dzikry Lazuardi di Tim Nasional
Meskipun berat meninggalkan Persija Jakarta, Dzikry Lazuardi menyatakan komitmennya untuk tetap memberikan dukungan dari jauh. Ia berjanji akan terus mengawal dan membantu tim kebanggaan The Jakmania hingga akhir musim kompetisi. “Tapi saya juga tetap membantu Persija dari jauh dan selalu ingin Persija menang setiap minggu,” tegas Dzikry. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ikatan emosional dan profesionalnya dengan Persija tidak serta merta terputus. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah dilakukannya selama menjadi bagian dari tim, seraya mengungkapkan rasa terima kasihnya atas keluarga yang ia temukan di Persija. “Saya juga meminta maaf kalau ada kesalahan-kesalahan, saya merasa punya keluarga di sini,” tuturnya dengan tulus.
Lebih jauh lagi, Dzikry menyampaikan harapan besarnya agar Persija Jakarta dapat meraih target juara Super League 2025/2026. Keberhasilan Persija adalah salah satu aspirasi yang ia bawa dalam hatinya, meskipun kini ia akan berada di luar lingkungan klub sehari-hari. Selain itu, Dzikry juga mengungkapkan harapan pribadi yang lebih luas, yaitu untuk dapat bertemu kembali dengan para pemain lokal Persija Jakarta di ajang Tim Nasional. Hal ini menunjukkan visinya tentang bagaimana kolaborasi di level klub dapat berlanjut dan memberikan dampak positif di tingkat negara. “Dan untuk teman-teman pemain berpaspor Indonesia, semoga kita bisa bertemu juga di camp-camp Tim Nasional,” harapnya. Dukungan dan doa tulusnya untuk Persija dan potensi pertemuan di Timnas menjadi penutup perpisahannya yang sarat makna, sebelum ia memulai tugas barunya bersama skuad Garuda di bawah arahan John Herdman.

















