Dalam dunia bulutangkis ganda putri, sinergi dan komunikasi adalah tulang punggung keberhasilan. Pasangan muda Indonesia, Rachel Allessya Rose dan Febriana Dwipuji Kusuma, yang baru saja mengukir prestasi sebagai juara bertahan Australia Open, kini menghadapi tantangan krusial dalam perjalanan mereka menuju jajaran elit dunia. Evaluasi mendalam pasca-turnamen menyoroti dua area utama yang membutuhkan perbaikan fundamental: kendala komunikasi di lapangan dan manajemen tempo permainan yang kerap terburu-buru. Isu-isu ini, jika tidak ditangani dengan serius, berpotensi menghambat ambisi besar mereka untuk menembus peringkat 20 besar dunia BWF, sebuah target yang mereka tetapkan untuk dicapai dalam beberapa tahun ke depan, bahkan dengan target ambisius untuk tahun ini.
Kendala Komunikasi dan Tempo Permainan: Akar Permasalahan Strategis
Rachel Allessya Rose, dalam sebuah wawancara eksklusif, dengan tegas mengidentifikasi komunikasi sebagai area prioritas utama untuk perbaikan. Baginya, ini bukan sekadar masalah berbicara di lapangan, melainkan fondasi dari setiap keputusan taktis yang diambil selama pertandingan. “Yang perlu diperbaiki untuk ke depannya adalah komunikasinya. Harus lebih sering lagi komunikasinya karena kita terlalu buru-buru untuk ambil keputusan,” ujar Rachel. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kecepatan pengambilan keputusan yang tergesa-gesa seringkali menjadi bumerang, mengorbankan kualitas dan akurasi pukulan. Dalam konteks ganda, komunikasi yang intens dan efektif adalah kunci untuk memastikan kedua pemain berada pada halaman yang sama, baik dalam ofensif maupun defensif. Tanpa komunikasi yang memadai, ada potensi besar terjadinya miskoordinasi, seperti dua pemain mengejar bola yang sama, atau sebaliknya, membiarkan area lapangan terbuka tanpa pengawasan.
Rachel kemudian memberikan contoh konkret mengenai dampak dari minimnya komunikasi dan tempo yang terburu-buru. Ia menyoroti kebiasaan “ingin cepat servis” yang seringkali terjadi. Ini bukan hanya tentang kecepatan saat memulai reli, tetapi lebih kepada kurangnya persiapan mental dan taktis sebelum servis dilancarkan. Servis yang terburu-buru dapat mengurangi efektivitasnya, memberikan keuntungan inisiasi kepada lawan, atau bahkan berujung pada kesalahan sendiri. Lebih jauh lagi, Rachel menyoroti kurangnya dialog spesifik mengenai penempatan posisi di lapangan: “belum terlalu banyak komunikasi seperti (aku harus isi posisi ini, kamu harus di posisi itu), seperti itu. Lebih tenang lagi sih intinya.” Penempatan posisi yang optimal adalah esensi dari permainan ganda. Setiap pukulan lawan menuntut respons posisi yang dinamis dari kedua pemain. Tanpa komunikasi yang jelas tentang siapa yang akan menutupi area mana atau bagaimana rotasi akan dilakukan, pasangan ini rentan terhadap celah pertahanan yang dieksploitasi lawan. Ketenangan, seperti yang ditekankan Rachel, adalah prasyarat untuk komunikasi yang efektif dan pengambilan keputusan yang matang di bawah tekanan tinggi pertandingan.
Febriana Dwipuji Kusuma turut memperkuat analisis rekannya, menambahkan dimensi kesabaran ke dalam diskusi. “Harus lebih sabar lagi. Jangan terlalu buru-buru ambil keputusan karena bisa berujung kepada bola mati,” imbuh Febi. Pesan Febi menggarisbawahi dampak langsung dari keputusan yang terburu-buru: peningkatan frekuensi “bola mati” atau unforced errors. Dalam bulutangkis tingkat tinggi, setiap poin sangat berharga, dan bola mati adalah poin yang secara cuma-cuma diberikan kepada lawan tanpa adanya tekanan signifikan. Ini tidak hanya merugikan secara skor, tetapi juga dapat merusak momentum, menurunkan kepercayaan diri, dan memberikan dorongan psikologis kepada lawan. Kesabaran dalam menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan, membangun reli dengan cermat, dan tidak panik di bawah tekanan adalah karakteristik yang membedakan pasangan elit dari yang lainnya. Analisis ini menunjukkan bahwa Rachel dan Febi memiliki pemahaman yang baik tentang kelemahan mereka, sebuah langkah penting menuju perbaikan yang berkelanjutan.
Evaluasi Rachel/Febi: Menuju Puncak Peringkat Dunia
Sebagai juara bertahan Australia Open, sebuah turnamen berlevel BWF Super 300, Rachel dan Febi telah menunjukkan potensi yang luar biasa. Kemenangan ini tidak hanya menambah koleksi gelar mereka tetapi juga memberikan poin peringkat yang signifikan, mendorong mereka lebih dekat ke jajaran atas. Namun, perjalanan menuju 20 besar dunia BWF adalah tantangan yang jauh lebih besar dan membutuhkan konsistensi performa di turnamen-turnamen yang lebih tinggi levelnya, seperti Super 500, 750, dan 1000. Peringkat 20 besar dunia adalah ambang batas yang krusial, membuka pintu ke turnamen-turnamen elit dengan hadiah uang yang lebih besar, paparan media yang lebih luas, dan kesempatan untuk bersaing secara reguler dengan pasangan-pasangan terbaik dunia. Ini juga seringkali menjadi syarat untuk mendapatkan unggulan di turnamen-turnamen besar, memberikan keuntungan strategis dalam undian pertandingan.
Rachel dan Febi secara ambisius menargetkan untuk masuk 20 besar peringkat dunia BWF pada tahun 2026. “Untuk target kita tahun ini semoga bisa tembus 20 besar,” ungkap Febi. Pernyataan Febi ini mengindikasikan adanya target jangka pendek yang sangat ambisius untuk tahun berjalan, yang merupakan langkah awal menuju pencapaian target jangka menengah mereka di 2026. Untuk mencapai target tahun ini, mereka perlu mengumpulkan poin secara konsisten melalui performa yang stabil di berbagai turnamen internasional. Ini berarti tidak hanya memenangkan pertandingan melawan lawan yang lebih rendah peringkatnya, tetapi juga secara konsisten mengalahkan atau setidaknya memberikan perlawanan sengit kepada pasangan-pasangan di peringkat atas. Proses ini menuntut tidak hanya peningkatan teknis dan taktis, tetapi juga ketahanan fisik yang prima dan mentalitas juara yang kuat untuk menghadapi jadwal turnamen yang padat dan tekanan kompetisi.
Perjalanan Rachel dan Febi menuju puncak adalah cerminan dari dedikasi dan komitmen. Dengan identifikasi masalah komunikasi dan tempo permainan yang jelas, serta target peringkat yang ambisius, mereka berada di jalur yang tepat untuk pengembangan. Penekanan pada perbaikan komunikasi yang lebih sering dan spesifik, serta pengembangan kesabaran dalam pengambilan keputusan, akan menjadi kunci untuk mengubah potensi mereka menjadi dominasi di lapangan. Jika mereka berhasil mengintegrasikan perbaikan ini ke dalam permainan mereka, sinergi yang lebih kuat di antara keduanya akan memungkinkan mereka untuk mengatasi tantangan yang lebih besar, meraih poin-poin penting, dan pada akhirnya, mewujudkan impian mereka untuk menjadi salah satu pasangan ganda putri terbaik di dunia pada tahun 2026, dengan langkah awal yang signifikan di tahun ini.


















