Jadwal ASEAN Para Games 2025
Pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia Tenggara, ASEAN Para Games 2025, siap kembali mengukir sejarah dan semangat inklusi. Ajang bergengsi ini dijadwalkan berlangsung di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, mulai tanggal 20 hingga 26 Januari 2026. Sebagai platform krusial bagi atlet disabilitas di kawasan, perhelatan ini berada di bawah naungan penuh ASEAN Para Sports Federation (APSF), sebuah organisasi yang berkomitmen kuat untuk mempromosikan olahraga bagi individu dengan disabilitas dan mendorong kesetaraan di seluruh spektrum masyarakat. Pemilihan Nakhon Ratchasima sebagai tuan rumah tidak lepas dari infrastruktur olahraga yang memadai serta pengalaman kota tersebut dalam menyelenggarakan event berskala besar, menjanjikan fasilitas kelas dunia bagi ribuan atlet dan official yang akan berpartisipasi. Periode akhir Januari dipilih untuk memastikan kondisi cuaca yang optimal bagi pelaksanaan berbagai cabang olahraga, sekaligus memberikan jeda waktu yang cukup bagi persiapan pasca-perayaan tahun baru.
APSF, sebagai badan pengatur utama, memainkan peran sentral dalam memastikan kelancaran dan integritas ASEAN Para Games. Federasi ini tidak hanya bertanggung jawab atas regulasi teknis dan standar kompetisi, tetapi juga aktif dalam advokasi dan pengembangan olahraga disabilitas di 11 negara anggota. Melalui upaya kolektif, APSF berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan kompetitif, di mana setiap atlet memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan bakat dan dedikasi mereka. Ajang ini lebih dari sekadar kompetisi; ia adalah manifestasi nyata dari semangat juang, ketahanan, dan persahabatan yang melampaui batas-batas fisik. Ini adalah perayaan kemampuan, bukan keterbatasan, yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk melihat potensi tak terbatas dalam diri setiap individu.
Skala Kompetisi dan Dinamika Regional
Sebelas negara anggota ASEAN dengan bangga akan mengirimkan kontingen terbaik mereka untuk ambil bagian dalam pesta olahraga akbar ini. Negara-negara tersebut meliputi Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Kehadiran seluruh negara ini menegaskan komitmen regional terhadap inklusi dan pengembangan olahraga disabilitas. Mereka akan bersaing memperebutkan total 493 medali emas yang sangat didambakan, sebuah angka yang mencerminkan skala dan intensitas kompetisi. Medali-medali ini tidak hanya melambangkan kemenangan pribadi, tetapi juga kebanggaan nasional dan pengakuan atas kerja keras serta dedikasi para atlet. Perebutan medali emas ini akan menjadi sorotan utama, dengan setiap negara berambisi untuk menempatkan atlet-atletnya di podium tertinggi.
Struktur kompetisi ASEAN Para Games 2025 dirancang secara komprehensif, mencakup 19 cabang olahraga resmi dan dua cabang olahraga eksebisi. Cabang olahraga resmi umumnya mencakup disiplin-disiplin yang sudah mapan dan memiliki regulasi internasional yang jelas, seperti para atletik, para bulu tangkis, para renang, para tenis meja, boccia, catur, goalball, judo, angkat berat, menembak, panahan, bola voli duduk, sepak bola cerebral palsy, bola basket kursi roda, dan lainnya. Keberadaan cabang olahraga eksebisi berfungsi sebagai platform untuk memperkenalkan disiplin-disiplin baru atau olahraga yang sedang berkembang di kalangan atlet disabilitas, memberikan kesempatan untuk evaluasi dan potensi penggabungan ke dalam program resmi di masa mendatang. Hal ini menunjukkan dinamisme dan upaya berkelanjutan APSF untuk terus memperluas pilihan olahraga bagi para atlet, memastikan relevansi dan daya tarik ajang ini di masa depan.
Kontingen Indonesia: Strategi, Kekuatan, dan Aspirasi Medali
Sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan, kontingen Indonesia telah mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi tantangan di Nakhon Ratchasima. Indonesia akan berpartisipasi dalam 18 dari 19 cabang olahraga resmi, menunjukkan cakupan partisipasi yang luas dan strategis. Keputusan untuk tidak mengikuti satu cabor tertentu biasanya didasarkan pada evaluasi potensi medali atau ketersediaan atlet yang memenuhi kualifikasi. Secara keseluruhan, Indonesia akan menurunkan kekuatan penuh dengan 290 atlet terbaik yang tersebar di berbagai disiplin olahraga tersebut. Jumlah ini mencerminkan komitmen serius pemerintah dan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi atlet disabilitas untuk berkompetisi di kancah internasional. Proses seleksi atlet telah melalui tahapan ketat, termasuk pelatnas jangka panjang, uji coba, dan evaluasi performa, untuk memastikan hanya yang terbaik dan paling siap yang akan mewakili Merah Putih.
Partisipasi Indonesia mencakup sejumlah cabang olahraga kunci di mana negara ini memiliki rekam jejak yang cemerlang. Di antaranya adalah para atletik, yang sering disebut “ibu dari semua olahraga,” dengan berbagai nomor lari, lompat, dan lempar yang dibagi berdasarkan klasifikasi disabilitas. Indonesia secara konsisten menghasilkan atlet-atlet para atletik berprestasi di tingkat regional maupun internasional. Para bulu tangkis


















