Sebuah insiden memilukan mewarnai laga pekan ke-23 Liga Italia musim 2025/26, ketika kiper Cremonese, Emil Audero, menjadi sasaran pelemparan flare oleh oknum suporter tim tamu, Inter Milan. Peristiwa nahas ini terjadi pada Senin (2/2) dini hari WIB, di Stadion Giovanni Zini, Cremona, dan menimbulkan kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk manajemen Inter Milan sendiri. Audero yang merupakan pemain berdarah Indonesia, harus menerima perawatan medis akibat insiden tersebut, namun menunjukkan profesionalisme luar biasa dengan melanjutkan pertandingan.
Insiden yang menimpa Emil Audero terjadi pada menit ke-49 pertandingan. Dari arah tribun yang ditempati oleh suporter Inter Milan, sebuah flare dinyalakan dan dilemparkan ke arah area kotak penalti Cremonese, tempat Audero berjaga. Tanpa diduga, flare yang panas itu mengenai Audero, menyebabkan luka dan memaksanya untuk mendapatkan penanganan medis dari tim dokter. Kejadian ini sontak mengagetkan para pemain di lapangan dan penonton yang hadir, mengingat sifatnya yang sangat berbahaya dan tidak sportif.
Para pemain Inter Milan, yang menyadari bahwa aksi tersebut berasal dari segelintir oknum pendukung mereka, segera bertindak. Beberapa pemain bahkan mendatangi tribun suporter away untuk mencoba menenangkan dan meminta mereka menghentikan tindakan provokatif yang merusak citra klub. Upaya ini menunjukkan bahwa mayoritas pendukung Inter Milan juga tidak menyetujui tindakan tersebut dan ingin pertandingan berjalan lancar.
Kecaman Keras dan Pujian Profesionalisme dari Presiden Inter Milan
Presiden Inter Milan, Giuseppe Marotta, tidak tinggal diam menanggapi insiden memalukan tersebut. Melalui pernyataan resminya kepada Sky Sport Italia, Marotta secara tegas mengutuk aksi pelemparan flare yang dinilainya sebagai tindakan “sensasional atas nama anti-sportivitas”. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman serupa belum pernah ia temui sepanjang kariernya yang panjang di dunia sepak bola. Marotta menambahkan bahwa pihak berwenang sedang melakukan investigasi mendalam terkait peristiwa ini.
“Mungkin ini insiden terisolasi, kami menunggu hasil penyelidikan, tetapi kami berpikir sama seperti semua penggemar. Kita memiliki kewajiban untuk menciptakan budaya dan mencegah situasi seperti ini. Kami mengutuk insiden luar biasa ini,” ujar Marotta dengan nada prihatin. Lebih lanjut, ia memberikan apresiasi tinggi kepada Emil Audero atas profesionalismenya. “Kami juga ingin berterima kasih kepada Audero atas profesionalismenya, karena sebagai hasilnya, pertandingan ini dapat dimainkan hingga selesai,” tandasnya. Pujian ini menyoroti ketenangan dan dedikasi Audero dalam menghadapi situasi yang tidak mengenakkan.
Identifikasi Pelaku dan Potensi Sanksi Berat
Berkat laporan dari media terkemuka Italia seperti La Gazzetta dello Sport dan Corriere della Sera, terungkap bahwa pelaku pelemparan flare tersebut berhasil diidentifikasi. Pelaku dilaporkan mendatangi Rumah Sakit di Cremona dengan kondisi tiga jarinya mengalami kerusakan akibat insiden tersebut. Identifikasi ini membuka jalan bagi penegakan hukum. Pelaku diprediksi akan segera ditangkap dan menghadapi sanksi larangan menghadiri stadion seumur hidup. Lebih jauh lagi, kasus ini berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih luas, yaitu larangan bagi seluruh penggemar Inter Milan untuk menghadiri pertandingan tandang dalam beberapa waktu ke depan, sebagai bentuk sanksi kolektif atas tindakan oknum suporter.
Insiden ini bukan hanya menjadi sorotan dalam konteks pertandingan sepak bola, tetapi juga memicu diskusi mengenai pentingnya edukasi dan penegakan disiplin di kalangan suporter. Perilaku anarkis dan berbahaya seperti ini tidak hanya merugikan pemain, tetapi juga mencoreng nama baik klub dan olahraga sepak bola secara keseluruhan. Pihak berwenang dan klub diharapkan dapat mengambil tindakan tegas untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

















