Panggung bulu tangkis internasional kembali memanas pada gelaran turnamen bergengsi edisi Januari 2026, di mana sorotan utama tertuju pada perjuangan para delegasi Indonesia di babak 16 besar. Pertandingan yang berlangsung di tengah atmosfer kompetitif ini menyuguhkan drama teknis dan adu mental yang luar biasa, terutama pada sektor ganda putri yang mempertemukan Amallia Cahaya Pratiwi dan Siti Fadia Silva Ramadhanti melawan pasangan Thailand, Hathaithip Mijad dan Napapakorn Tungkasatan. Sejak peluit awal dibunyikan, intensitas permainan langsung mencapai puncaknya, mencerminkan betapa krusialnya tiket menuju perempat final bagi kedua pasangan. Tiwi dan Fadia, yang kini menjadi salah satu tumpuan utama Merah Putih, dipaksa bekerja ekstra keras menghadapi pola permainan cepat dan defensif yang diperagakan oleh duo Thailand tersebut. Persaingan berjalan sangat ketat dengan reli-reli panjang yang menguras fisik, di mana kedua pasangan saling bergantian memimpin perolehan angka hingga menyentuh masa interval gim pertama.
Ketegangan mencapai titik didih saat memasuki poin-poin tua di gim pembuka. Meskipun tekanan dari suporter dan ekspektasi publik begitu besar, pasangan Indonesia mampu menunjukkan kematangan mental yang impresif. Amallia Cahaya Pratiwi tampil solid di area belakang dengan smes-smes tajam yang menghujam pertahanan lawan, sementara Siti Fadia Silva Ramadhanti dengan kecerdikannya mengatur ritme permainan di depan net, memotong bola-bola tanggung yang dilepaskan Mijad/Tungkasatan. Ketenangan menjadi kunci utama bagi Tiwi/Fadia dalam mengeksekusi strategi di poin-poin krusial, yang akhirnya memungkinkan mereka untuk menutup gim pertama dengan keunggulan 21-17. Kemenangan di gim pertama ini bukan sekadar soal angka, melainkan pernyataan dominasi psikologis yang sangat penting untuk meruntuhkan kepercayaan diri lawan di set berikutnya.
Memasuki gim kedua, dinamika pertandingan tidak banyak berubah dengan tensi yang tetap tinggi. Kejar-kejaran skor kembali terjadi, di mana pasangan Thailand mencoba mengubah pola serangan dengan lebih banyak memberikan bola-bola lob panjang untuk memancing kesalahan dari Tiwi/Fadia. Hingga interval gim kedua, margin skor tetap tipis, menunjukkan betapa gigihnya perlawanan yang diberikan oleh Mijad dan Tungkasatan. Namun, selepas jeda teknis, Tiwi/Fadia melakukan penyesuaian taktik yang sangat efektif. Mereka meningkatkan tempo permainan dan memberikan tekanan bertubi-tubi melalui variasi serangan drive cepat dan penempatan bola yang sulit dijangkau. Dominasi ini membuat pasangan Thailand seringkali terdesak dan melakukan kesalahan-kesalahan sendiri (unforced errors) yang justru menguntungkan pihak Indonesia. Rentetan serangan tanpa henti tersebut akhirnya memastikan kemenangan mutlak bagi Tiwi/Fadia dengan skor kembar 21-17, sekaligus mengamankan satu tempat di babak delapan besar.
Analisis Strategis dan Proyeksi Babak Perempat Final
Keberhasilan Amallia Cahaya Pratiwi dan Siti Fadia Silva Ramadhanti melangkah ke babak quarter final membuka peluang terjadinya “All Indonesian Quarter Final”. Berdasarkan bagan pertandingan, mereka kini menanti pemenang dari laga antara rekan senegara, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, yang akan berhadapan dengan wakil Jepang, Arisa Igarashi/Miyu Takahashi. Secara teknis, Tiwi/Fadia telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal koordinasi rotasi dan pertahanan. Jika mereka harus berhadapan dengan Febriana/Meilysa, maka faktor penguasaan lapangan dan detail kecil dalam permainan net akan menjadi penentu utama. Namun, jika pasangan Jepang yang lolos, Tiwi/Fadia harus mewaspadai daya tahan luar biasa khas pemain Negeri Sakura yang dikenal tidak mudah menyerah dalam reli panjang. Kesiapan fisik akan menjadi modal utama mengingat jadwal pertandingan yang semakin padat dan menguras energi di fase gugur ini.
Di sisi lain, hasil kontras harus diterima oleh sektor ganda campuran melalui pasangan Adnan Maulana dan Indah Cahya Sari Jamil. Pertarungan mereka melawan pasangan Korea Selatan, Lee Jong-min dan Lee Yu-lim, berlangsung sangat dramatis dan melelahkan selama tiga gim penuh. Setelah kalah cukup telak di gim pertama dengan skor 13-21, Adnan/Indah sempat memberikan harapan besar dengan memenangi gim kedua melalui drama deuce yang berakhir 22-20. Sayangnya, di gim penentuan, faktor konsistensi dan stamina menjadi kendala utama. Meskipun sempat mengejar ketertinggalan, Adnan/Indah harus mengakui keunggulan pasangan Korea dengan skor tipis 19-21 di gim ketiga. Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi tim pelatih, terutama mengenai manajemen fokus di poin-poin akhir pertandingan yang seringkali menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan di level elit internasional.
Kabar positif kembali datang dari sektor ganda putra melalui aksi Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani. Pasangan independen ini menunjukkan kelasnya saat menghadapi ganda putra veteran asal Malaysia, Nur Mohd Azriyn Ayub Azriyn dan Tan Wee Kiong. Pertandingan ini merupakan ujian berat bagi Sabar/Reza mengingat pengalaman tinggi yang dimiliki Tan Wee Kiong sebagai mantan pemain peringkat atas dunia. Setelah kehilangan gim pertama dengan skor 19-21, Sabar/Reza tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Mereka justru bangkit di gim kedua dengan permainan yang lebih agresif dan berani melakukan adu drive di depan net, menang 21-16. Pada gim penentuan, kepercayaan diri Sabar/Reza semakin memuncak, sementara lawan mulai tampak kelelahan. Dengan skor akhir 21-17 di gim ketiga, Sabar/Reza berhasil melaju ke babak berikutnya, membuktikan bahwa mereka masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah global.
Rekapitulasi Hasil Pertandingan Wakil Indonesia
Pertarungan internal atau yang sering disebut sebagai “Civil War” juga terjadi di sektor ganda campuran antara Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu melawan Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana. Pertandingan ini berjalan sangat unik karena skor yang dihasilkan di setiap gim menunjukkan dominasi yang silih berganti secara ekstrem. Jafar/Felisha sempat tertekan hebat di gim pertama dan kalah 10-21, namun mereka mampu membalikkan keadaan secara total di gim kedua dengan kemenangan 21-11. Pada gim penentuan, Jafar/Felisha tampil tanpa celah dan mengunci kemenangan dengan skor meyakinkan 21-10. Hasil ini menunjukkan betapa dinamisnya persaingan antar pemain pelatnas dan profesional di Indonesia, di mana strategi yang tepat dapat mengubah jalannya pertandingan secara drastis dalam waktu singkat.
Berikut adalah rincian lengkap hasil perjuangan para wakil Indonesia pada babak 16 besar yang berlangsung pada hari Kamis, 22 Januari 2026:
| Sektor | Pertandingan | Skor Akhir |
|---|---|---|
| WD | Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti vs Hathaithip Mijad/Napapakorn Tungkasatan (Thailand) | 21-17, 21-17 |
| XD | Lee Jong-min/Lee Yu-lim (Korea Selatan) vs Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil | 21-13, 20-22, 21-19 |
| MD | Nur Mohd Azriyn Ayub Azriyn/Tan Wee Kiong (Malaysia) vs Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani | 21-19, 16-21, 21-17 |
| XD | Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu vs Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana | 10-21, 21-11, 21-10 |
Secara keseluruhan, hasil di babak 16 besar ini memberikan gambaran yang beragam bagi peta kekuatan bulu tangkis Indonesia. Sementara beberapa sektor menunjukkan kemajuan pesat dan ketahanan mental yang kuat, sektor lain masih memerlukan perbaikan, terutama dalam menghadapi lawan-lawan dari negara tradisional kuat seperti Korea Selatan. Keberhasilan tiga wakil melaju ke babak perempat final diharapkan dapat menjaga momentum positif untuk meraih gelar juara di turnamen ini. Para atlet kini harus fokus pada pemulihan fisik dan analisis video pertandingan lawan untuk mempersiapkan strategi yang lebih matang di babak delapan besar esok hari, demi menjaga martabat bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.


















