Melbourne, Australia – Gelanggang tenis dunia baru saja menyaksikan sebuah momen bersejarah yang akan tercatat tebal dalam buku rekor olahraga Indonesia. Pada Selasa pagi, 20 Januari 2026, waktu Indonesia Barat (WIB), di salah satu arena paling prestisius di Australian Open, ANZ Arena, petenis muda kebanggaan Indonesia, Janice Tjen, berhasil menorehkan kemenangan gemilang di babak pertama. Dalam sebuah pertandingan yang penuh tensi dan strategi matang, Tjen sukses menumbangkan unggulan ke-22 dari Kanada, Leylah Fernandez, dengan skor akhir 6-2, 7-6. Kemenangan ini bukan hanya sekadar tiket menuju babak selanjutnya bagi Tjen, melainkan juga sebuah pencapaian monumental yang mengakhiri penantian panjang selama 28 tahun bagi tenis Indonesia di panggung Grand Slam.
Pertandingan yang digelar di ANZ Arena, salah satu lapangan utama yang sering menjadi saksi bisu pertarungan para bintang tenis dunia, menarik perhatian banyak penggemar. Leylah Fernandez, yang dikenal luas sebagai finalis US Open 2021 dan memiliki reputasi sebagai petenis dengan pukulan keras serta semangat juang yang tinggi, tentu bukan lawan yang mudah. Fernandez, dengan peringkat ke-22 dunia, datang ke Melbourne dengan ekspektasi tinggi, menjadikannya ujian berat bagi siapapun yang menghadapinya di babak awal. Namun, Janice Tjen menunjukkan kematangan dan keberanian luar biasa yang melampaui usianya, menghadapi tekanan sebagai non-unggulan dengan performa yang sangat meyakinkan. Atmosfer di ANZ Arena, meskipun mungkin tidak sepadat lapangan utama Rod Laver Arena, tetap memberikan tekanan tersendiri bagi kedua petenis, namun Tjen tampak mampu mengelolanya dengan baik.
Dominasi Awal dan Strategi Brilian di Set Pertama
Sejak awal set pertama, Janice Tjen sudah menunjukkan niatnya untuk tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Fernandez. Dengan permainan yang sangat agresif, Tjen berhasil mendikte ritme pertandingan. Agresivitasnya bukan hanya terpancar dari kekuatan pukulannya, melainkan juga dari inisiatifnya untuk mengambil bola lebih awal, melakukan serangan balik yang tajam, dan sesekali maju ke net untuk menyelesaikan poin. Strategi ini terbukti sangat efektif dalam membongkar pertahanan Fernandez. Tjen secara konsisten menargetkan kelemahan lawan dan memaksa Fernandez untuk bergerak di seluruh lapangan, yang pada akhirnya memicu serangkaian kesalahan sendiri dari petenis Kanada tersebut. Beberapa kali, Tjen mampu mematahkan servis Fernandez, sebuah pencapaian krusial mengingat kekuatan servis Fernandez. Dengan dua kali break point yang berhasil dikonversi, ditambah dengan servisnya yang solid, Janice Tjen mengamankan set pertama dengan skor telak 6-2 dalam waktu yang relatif singkat. Ini adalah pernyataan kuat dari Tjen yang menunjukkan bahwa ia datang ke Australian Open bukan hanya untuk berpartisipasi, melainkan untuk bersaing dan menang.
Pertarungan Sengit dan Ketahanan Mental di Set Penentu
Memasuki set kedua, pertandingan berubah menjadi jauh lebih ketat dan dramatis. Leylah Fernandez, sebagai petenis berpengalaman dan unggulan, tidak tinggal diam setelah kekalahan di set pertama. Ia mulai menemukan ritme permainannya, meningkatkan akurasi servis dan pukulannya, serta menunjukkan semangat juang yang menjadi ciri khasnya. Beberapa kali, Fernandez berhasil menyamakan kedudukan, menciptakan skenario poin demi poin yang menegangkan. Setiap gim menjadi pertarungan sengit, dengan kedua petenis saling beradu kekuatan dan strategi. Penonton disuguhi reli-reli panjang dan pertukaran pukulan yang memukau. Namun, di tengah tekanan yang meningkat, Janice Tjen menunjukkan ketahanan mental yang luar biasa. Ia tetap fokus, menjaga konsistensi permainannya, dan tidak membiarkan Fernandez sepenuhnya mengambil alih momentum. Hingga akhirnya, skor imbang 6-6 memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tie-break, sebuah format yang seringkali menjadi penentu mentalitas dan keberanian seorang petenis. Dalam tie-break yang penuh tekanan tersebut, Tjen berhasil menjaga ketenangannya, membuat keputusan-keputusan krusial, dan akhirnya menutup set kedua dengan kemenangan tipis 7-6 (dengan skor tie-break yang mungkin 7-4 atau 7-5, menunjukkan margin yang sangat tipis). Kemenangan ini adalah bukti nyata dari kemampuannya untuk tampil prima di bawah tekanan tinggi.
Sepanjang pertandingan, performa Janice Tjen memang patut diacungi jempol. Salah satu statistik yang menonjol adalah kemampuannya menghasilkan total empat kali service aces. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator penting dari kekuatan dan presisi servisnya, yang seringkali menjadi senjata ampuh untuk memenangkan poin secara langsung atau setidaknya mendapatkan keuntungan awal dalam reli. Melawan Leylah Fernandez yang dikenal memiliki kemampuan return yang baik, empat aces ini menunjukkan bahwa Tjen memiliki variasi servis yang efektif dan mampu menekan lawan dari awal setiap poin. Selain itu, konsistensi dalam penempatan bola, minimnya unforced errors di momen-momen krusial, dan kemampuan untuk mengonversi break point menjadi faktor penentu kemenangan bersejarah ini.
Kemenangan Janice Tjen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar melaju ke babak kedua. Hasil ini secara resmi memecahkan rekor sebagai atlet tenis Indonesia pertama yang berhasil meraih kemenangan di Australian Open setelah penantian 28 tahun. Nama yang terakhir kali menorehkan tinta emas serupa adalah legenda tenis Indonesia, Yayuk Basuki. Yayuk Basuki, yang dikenal sebagai salah satu petenis putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, terakhir kali mencatat kemenangan di ajang Grand Slam Australian Open pada tahun 1998, sebelum akhirnya mencapai perempat final Wimbledon pada tahun yang sama. Jeda waktu hampir tiga dekade ini menggarisbawahi betapa sulitnya menembus persaingan ketat di level Grand Slam. Pencapaian Janice Tjen bukan hanya menghidupkan kembali memori kejayaan tenis Indonesia di masa lalu, tetapi juga memberikan harapan baru bagi masa depan olahraga ini di tanah air. Ini adalah bukti bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan dukungan yang tepat, atlet Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.
Kemenangan ini diharapkan menjadi katalisator bagi perkembangan tenis di Indonesia. Bagi Janice Tjen sendiri, ini adalah langkah besar dalam kariernya, menunjukkan bahwa ia memiliki potensi untuk bersaing dengan para petenis top dunia. Kemenangan atas unggulan seperti Leylah Fernandez akan meningkatkan kepercayaan dirinya secara signifikan dan memberinya dorongan moral yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. Lebih dari itu, keberhasilannya akan menjadi inspirasi bagi ribuan atlet muda di Indonesia yang bermimpi untuk mengikuti jejaknya. Ini mengirimkan pesan kuat bahwa impian untuk berkompetisi dan meraih kemenangan di turnamen tenis paling bergengsi di dunia bukanlah hal yang mustahil. Dengan sorotan media yang kini tertuju padanya, Janice Tjen memiliki kesempatan untuk tidak hanya menjadi bintang tenis, tetapi juga duta bagi olahraga Indonesia di kancah internasional.


















