Dominasi ganda putra Indonesia kembali mengguncang panggung bulu tangkis dunia setelah pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana sukses mengamankan gelar juara dalam ajang Thailand Masters 2026 yang berlangsung di Stadion Nimibutr, Bangkok. Pada laga pamungkas yang digelar Minggu, 1 Februari 2026, duet yang dijuluki “Leo/Bagas” ini berhasil menuntaskan perlawanan sengit dari rekan senegara sekaligus junior mereka, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, melalui pertarungan dua gim langsung dengan skor akhir 21-10 dan 21-17. Kemenangan dalam tajuk All Indonesian Final ini tidak hanya menegaskan regenerasi ganda putra Pelatnas Cipayung yang tetap berada di jalur positif, tetapi juga menjadi momen emosional bagi Leo/Bagas yang akhirnya berhasil mengakhiri penantian panjang selama 518 hari untuk kembali berdiri di podium tertinggi turnamen internasional. Keberhasilan ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai kekuatan dominan di sektor ganda putra pada turnamen level Super 300 tersebut.
Dominasi Mutlak Leo/Bagas di Gim Pertama: Tekanan Tanpa Henti
Memasuki lapangan dengan status sebagai unggulan dan pemain yang lebih berpengalaman, Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana langsung menunjukkan kelasnya sejak servis pertama dilepaskan. Pada awal gim pertama, atmosfir Stadion Nimibutr sempat memanas ketika kedua pasangan saling berbalas serangan, membuat skor sempat berimbang di angka 4-4. Namun, ketenangan Leo di area net yang dikombinasikan dengan smes keras menukik dari Bagas Maulana mulai membuat pertahanan Raymond/Joaquin kewalahan. Leo/Bagas perlahan tapi pasti mulai mengendalikan ritme permainan dengan penempatan bola yang sangat taktis, memaksa junior mereka melakukan kesalahan-kesalahan sendiri. Keunggulan 8-5 berhasil mereka amankan sebelum akhirnya menutup interval gim pertama dengan skor meyakinkan 11-6.
Pasca-interval, intensitas serangan Leo/Bagas justru semakin meningkat dan tidak memberikan ruang bagi Raymond/Joaquin untuk mengembangkan pola permainan mereka. Transisi dari bertahan ke menyerang yang dilakukan Leo/Bagas terlihat sangat mulus, membuat mereka terus mendulang poin demi poin hingga selisih angka melebar jauh menjadi 17-10. Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin sebenarnya mencoba untuk bangkit dengan melakukan variasi drive cepat, namun kematangan mental Leo/Bagas dalam mengantisipasi arah bola membuat upaya tersebut sia-sia. Tanpa hambatan berarti, gim pertama akhirnya diselesaikan dengan skor telak 21-10 dalam waktu yang relatif singkat. Dominasi ini memberikan sinyal kuat bahwa Leo/Bagas benar-benar lapar akan gelar juara setelah sekian lama absen dari podium pertama.
Kebangkitan Junior dan Ujian Kematangan Mental di Gim Kedua
Memasuki gim kedua, situasi pertandingan berubah secara drastis. Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang tidak ingin menyerah begitu saja mulai menunjukkan taji mereka sebagai pasangan muda potensial. Mereka tampil lebih agresif dan berani melakukan spekulasi serangan di depan net. Strategi ini terbukti efektif ketika mereka mampu unggul cepat 6-2 di awal gim kedua. Leo/Bagas tampak sedikit kehilangan fokus dan beberapa kali melakukan kesalahan komunikasi yang mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Raymond/Joaquin. Keunggulan pasangan muda ini terus bertahan hingga mereka memimpin di interval gim kedua dengan skor 11-7. Tekanan kini berpindah ke pundak Leo/Bagas, di mana mereka harus memutar otak untuk mengejar ketertinggalan agar pertandingan tidak berlanjut ke babak rubber game.
Setelah mendapatkan instruksi dari pelatih di pinggir lapangan saat jeda interval, Leo/Bagas kembali ke lapangan dengan pola permainan yang lebih sabar. Mereka mulai mengurangi kesalahan sendiri dan lebih selektif dalam melakukan serangan balik. Ketegangan memuncak saat Leo/Bagas berhasil menyamakan kedudukan pada skor kritis 12-12. Sejak titik tersebut, kejar-mengejar angka terjadi dengan sangat ketat, di mana kedua pasangan menunjukkan pertahanan yang luar biasa. Namun, pengalaman berbicara di poin-poin tua. Leo Rolly Carnando menunjukkan kecerdikannya dalam melakukan interception di depan net, sementara Bagas Maulana tetap konsisten dengan gempuran dari garis belakang. Momentum berbalik sepenuhnya ke tangan Leo/Bagas saat mereka berhasil memimpin 18-16, sebelum akhirnya menutup gim kedua dengan kemenangan 21-17 sekaligus memastikan gelar juara Thailand Masters 2026.
Signifikansi Kemenangan dan Mengakhiri Dahaga Gelar 518 Hari
Kemenangan di Bangkok ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi karier Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana. Sejak dipasangkan sebagai bagian dari perombakan ganda putra Indonesia, mereka memang diharapkan mampu menjadi tumpuan utama. Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus, dengan berbagai rintangan dan kegagalan di beberapa turnamen sebelumnya. Keberhasilan menjuarai Thailand Masters 2026 ini secara resmi mengakhiri penantian panjang mereka selama 518 hari tanpa gelar juara sejak terakhir kali merasakannya di turnamen sebelumnya. Gelar ini menjadi bukti nyata bahwa proses adaptasi dan kerja keras yang mereka lakukan di pusat pelatihan nasional telah membuahkan hasil yang manis, sekaligus menjadi suntikan motivasi besar untuk menghadapi turnamen-turnamen level yang lebih tinggi seperti Super 500, 750, hingga 1000 ke depannya.
Di sisi lain, keberhasilan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menembus partai final juga patut mendapatkan apresiasi tinggi. Meskipun harus puas sebagai runner-up, performa yang mereka tunjukkan sepanjang turnamen, termasuk perlawanan sengit di gim kedua final, membuktikan bahwa stok ganda putra Indonesia tidak pernah habis. Keberhasilan menciptakan All Indonesian Final di Thailand Masters 2026 merupakan prestasi luar biasa bagi Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), yang menunjukkan bahwa program pembinaan pemain muda berjalan beriringan dengan pemantapan pemain senior. Hasil ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri seluruh skuat ganda putra Indonesia dalam menghadapi kalender kompetisi BWF yang semakin padat sepanjang tahun 2026.
Secara teknis, kemenangan Leo/Bagas di Thailand Masters 2026 ini juga memberikan gambaran mengenai evolusi gaya main mereka. Leo yang kini lebih matang dalam mengatur tempo permainan dan Bagas yang semakin efisien dalam penggunaan tenaga smesnya menjadi kombinasi yang sangat mematikan. Statistik pertandingan menunjukkan bahwa efektivitas serangan mereka di gim pertama mencapai angka yang sangat tinggi, sementara daya tahan mental mereka di gim kedua saat tertinggal menjadi kunci utama kemenangan. Dengan raihan poin tambahan dari turnamen ini, posisi Leo/Bagas di peringkat dunia BWF diprediksi akan mengalami kenaikan signifikan, yang tentunya akan sangat menguntungkan mereka dalam penentuan posisi unggulan di turnamen-turnamen bergengsi mendatang.
Dengan berakhirnya gelaran Thailand Masters 2026, fokus tim bulu tangkis Indonesia kini akan beralih ke turnamen berikutnya. Namun, euforia kemenangan Leo/Bagas dan kegemilangan Raymond/Joaquin akan tetap menjadi catatan penting dalam sejarah bulu tangkis nasional tahun ini. Publik pecinta bulu tangkis tanah air tentu berharap agar konsistensi ini dapat terus terjaga, sehingga tradisi emas ganda putra Indonesia tetap lestari di kancah internasional. Selamat kepada Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana atas gelar juara yang diraih, sebuah pencapaian yang layak didapatkan setelah perjuangan keras dan kesabaran dalam menghadapi masa-masa sulit selama setahun terakhir.

















