Manchester City Memutus Rantai Negatif dengan Kemenangan Krusial atas Wolves di Etihad
Sabtu, 24 Januari 2026, menjadi tanggal yang terukir dalam kalender Manchester City sebagai titik balik krusial di awal tahun. Kemenangan meyakinkan 2-0 atas Wolverhampton Wanderers di Stadion Etihad bukan sekadar raihan tiga poin, melainkan sebuah pernyataan tegas di tengah periode penuh tekanan. Laga ini hadir di saat The Citizens menghadapi sorotan tajam, menyusul serangkaian hasil mengecewakan yang menguji mental juara mereka.
Sebelum peluit kick-off dibunyikan, atmosfer di sekitar Manchester City terasa berat. Tim asuhan Pep Guardiola datang ke pertandingan ini dengan beban psikologis yang signifikan, setelah melalui empat pertandingan liga tanpa sekalipun meraih kemenangan. Rentetan hasil imbang dan kekalahan tersebut telah memunculkan keraguan di benak para penggemar dan pengamat sepak bola. Puncaknya adalah kekalahan mengejutkan di ajang Liga Champions dari tim yang secara kualitas di atas kertas jauh di bawah mereka, Bodo/Glimt. Kekalahan di kompetisi elite Eropa itu bukan hanya merusak rekor, tetapi juga menampar harga diri tim yang berambisi meraih treble. Di sisi lain, Wolves tiba di Manchester dengan kepercayaan diri tinggi, membawa modal impresif berupa lima pertandingan beruntun tanpa kekalahan di semua kompetisi. Tren positif ini menjadikan mereka lawan yang tidak bisa dianggap remeh, berpotensi menambah derita bagi City yang sedang limbung.
Menghadapi situasi genting ini, Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, sekali lagi menunjukkan keberanian taktisnya yang menjadi ciri khas. Ia mengambil keputusan berani, bahkan terkesan mengejutkan, dengan mengistirahatkan mesin gol utama tim, Erling Haaland. Absennya Haaland, seorang striker yang telah menjadi jaminan gol sejak kedatangannya, tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai strategi lini depan. Namun, Guardiola memiliki rencana lain. Ia memberikan kepercayaan penuh kepada duo penyerang yang lebih dinamis dan lincah, Omar Marmoush dan Antoine Semenyo, untuk memimpin garis serang. Sejak menit awal, instruksi Guardiola jelas: menekan lawan dengan intensitas tinggi. Manchester City langsung melancarkan pressing agresif, memaksa Wolves untuk bertahan sangat dalam di area pertahanan mereka sendiri. Strategi ini terbukti efektif, membuat Wolves kesulitan untuk mengembangkan permainan dan keluar dari tekanan, sehingga bola lebih banyak berkutat di wilayah tengah dan pertahanan mereka. Kemenangan ini, pada akhirnya, bukan hanya mengakhiri tren negatif yang menghantui, tetapi juga berhasil memangkas jarak Manchester City dengan pemuncak klasemen, Arsenal, menjadi hanya empat poin. Sebuah dorongan moral yang sangat dibutuhkan dalam perburuan gelar Premier League yang semakin ketat.

Strategi Berani Guardiola Berbuah Manis: Gol Cepat dan Debut Gemilang Semenyo
Awal pertandingan langsung menyuguhkan drama yang menguntungkan tuan rumah. Gol pembuka Manchester City lahir sangat cepat, tepatnya di menit ke-6. Momen itu bermula dari Matheus Nunes, gelandang yang baru saja pulih dari sakit dan menunjukkan determinasi luar biasa untuk kembali bermain, yang melepaskan umpan silang akurat dari sisi kanan lapangan. Bola lambung yang membelah pertahanan Wolves itu berhasil dibaca dengan cermat oleh Omar Marmoush. Dengan insting penyerang yang tajam, Marmoush melakukan pergerakan cerdik, berlari mendahului bek Wolves, Yerson Mosquera, dan menyambar bola dari jarak dekat untuk menaklukkan kiper Jose Sa. Gol kilat ini bukan hanya memecah kebuntuan, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa eksperimen Guardiola tanpa Erling Haaland di lini depan bisa bekerja dengan sangat baik. Gol tersebut segera mengangkat kepercayaan diri seluruh tim, memberikan energi positif yang terpancar di seluruh lapangan.
Setelah gol pertama, Manchester City tidak mengendurkan serangan. Mereka terus-menerus mengancam gawang Wolves melalui kombinasi serangan sayap yang cepat dan tembakan-tembakan jarak jauh yang akurat, memaksa Jose Sa untuk bekerja keras dan melakukan beberapa penyelamatan penting. Di sisi lain, Wolves praktis hanya mampu mengandalkan serangan balik sporadis sepanjang babak pertama. Namun, karena tekanan tinggi dan organisasi pertahanan City yang solid, serangan balik mereka gagal menciptakan peluang yang benar-benar bersih dan berbahaya bagi gawang Ederson. Dominasi City semakin terasa ketika menjelang turun minum, momen epik kedua datang melalui gol Antoine Semenyo pada masa tambahan waktu babak pertama. Semenyo menerima bola di dalam kotak penalti dengan kontrol yang sempurna, menunjukkan kelincahan luar biasa dan ketenangan seorang striker kelas atas di bawah tekanan. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan tembakan mendatar keras yang melesat melewati Jose Sa, mengubah skor menjadi 2-0. Gol ini memiliki makna ganda: itu adalah gol Liga Premier pertamanya untuk Manchester City, dan yang lebih istimewa lagi, tercipta pada start kandang perdananya di Etihad Stadium. Sebuah debut yang sempurna dan tak terlupakan bagi penyerang muda tersebut.
Laman berita terkemuka Sky Sports


















