Jakarta – Awal tahun 2026 menandai babak baru bagi Tim Nasional Sepak Bola Indonesia. Di bawah komando pelatih anyar, John Herdman, skuad Garuda akan melakoni debut perdana dalam ajang FIFA Series 2026 yang dijadwalkan bergulir pada Maret 2026. Namun, momentum penting ini harus dibayangi oleh sejumlah tantangan serius, terutama terkait ketersediaan pemain kunci. Timnas Indonesia dipastikan tidak akan diperkuat oleh empat pilar utamanya: Marselino Ferdinan, Asnawi Mangkualam, Shayne Pattynama, dan Thom Haye. Absennya nama-nama besar ini menimbulkan pertanyaan krusial mengenai strategi dan kedalaman skuad yang akan dihadapi Herdman dalam upayanya membangun tim yang kompetitif di kancah internasional.

Tantangan Awal John Herdman di FIFA Series 2026
Debut John Herdman sebagai pelatih kepala Tim Nasional Indonesia dalam FIFA Series 2026 yang akan dimulai pada Maret 2026 menjadi sorotan utama. Ajang ini bukan hanya sekadar pertandingan persahabatan, melainkan sebuah platform krusial untuk menguji kekuatan tim, mengevaluasi taktik, dan membangun chemistry antar pemain sebelum menghadapi kompetisi yang lebih besar. Namun, persiapan tim tampaknya akan menghadapi rintangan signifikan akibat absennya beberapa pemain yang dianggap vital. Keempat pemain yang dipastikan tidak dapat memperkuat skuad Garuda adalah Marselino Ferdinan, Asnawi Mangkualam, Shayne Pattynama, dan Thom Haye. Kehilangan mereka tentu akan menjadi pekerjaan rumah besar bagi Herdman untuk meracik strategi yang efektif dan menemukan pengganti yang sepadan.
FIFA Series 2026 sendiri akan diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dalam rentang waktu 23 hingga 31 Maret 2026. Timnas Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah dan dijadwalkan untuk menghadapi tiga tim tamu, yaitu Saint Kitts and Nevis, Bulgaria, dan Kepulauan Solomon. Ajang ini menjadi kesempatan emas bagi Herdman untuk mengukur kemampuan timnya melawan berbagai gaya permainan dari negara-negara yang berbeda, sekaligus memberikan pengalaman bertanding internasional bagi pemain-pemain yang mungkin belum banyak mendapatkan kesempatan.
Sanksi dan Cedera: Dua Ancaman Serius bagi Skuad Garuda
Alasan di balik absennya keempat pemain kunci ini bervariasi, namun sama-sama memberikan dampak signifikan bagi kekuatan Timnas Indonesia. Dua pemain, Shayne Pattynama dan Thom Haye, harus menepi karena sanksi disiplin dari Komite Disiplin (Komdis) FIFA. Shayne Pattynama, yang kini bermain untuk Persija Jakarta, dijatuhi hukuman larangan bermain dalam empat pertandingan akibat tindakan tidak sportif yang dilakukannya saat menghadapi Irak dalam laga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia pada Oktober 2025. Sanksi ini juga disertai dengan denda sebesar Rp 103 juta. Thom Haye, yang memperkuat Persib Bandung, menerima hukuman yang sama. PSSI sendiri telah menyatakan tidak akan mengajukan banding atas keputusan Komdis FIFA tersebut, yang berarti kedua pemain tersebut harus menjalani masa hukuman mereka.

Di sisi lain, absennya Marselino Ferdinan dan Asnawi Mangkualam disebabkan oleh cedera yang mereka alami. Marselino Ferdinan, yang dikenal sebagai salah satu talenta muda terbaik Indonesia, harus menghadapi kenyataan pahit karena mengalami cedera hamstring yang cukup serius. Berdasarkan informasi medis, ia bahkan diperkirakan memerlukan operasi dan baru bisa kembali berlatih pada April 2026. Ini berarti ia tidak hanya akan absen dari FIFA Series 2026, tetapi juga berpotensi kehilangan momentum penting dalam persiapan tim. Sementara itu, Asnawi Mangkualam mengalami cedera yang lebih parah, yaitu cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL). Cedera ACL membutuhkan waktu pemulihan yang panjang, diperkirakan mencapai enam bulan pasca-operasi, yang secara efektif mengakhiri partisipasinya dalam ajang FIFA Series 2026 dan kemungkinan besar di beberapa pertandingan penting lainnya.
Dampak Absennya Pemain Kunci dan Strategi Pengganti
Kehilangan empat pemain pilar ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pelatih John Herdman dan seluruh pecinta sepak bola Indonesia. Marselino Ferdinan dan Asnawi Mangkualam adalah tulang punggung tim, baik dalam aspek menyerang maupun pertahanan, serta memiliki pengalaman bermain di level internasional yang cukup mumpuni. Shayne Pattynama dan Thom Haye juga telah menunjukkan kontribusi signifikan dalam memperkuat lini tengah dan pertahanan tim. Absennya mereka memaksa Herdman untuk berpikir keras dalam menyusun komposisi tim dan strategi permainan. Ia harus segera mengidentifikasi pemain-pemain lain yang memiliki potensi untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh para pemain tersebut. Ini bisa berarti memberikan kesempatan kepada pemain muda yang belum banyak mendapatkan sorotan, atau mengoptimalkan peran pemain yang sudah ada namun mungkin belum menjadi starter utama.
Untuk mengatasi krisis pemain ini, John Herdman dilaporkan sedang aktif memantau jalannya kompetisi Super League 2025/2026. Selain itu, ia juga berencana untuk melakukan perjalanan ke Eropa guna menjajaki potensi pemain keturunan yang memiliki darah Indonesia. Langkah ini menunjukkan keseriusan Herdman dalam membangun skuad yang kuat dan kompetitif, serta kemampuannya untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak ideal. Pencarian pemain keturunan menjadi salah satu strategi yang kerap dilakukan oleh banyak negara untuk meningkatkan kualitas tim nasional, dan Indonesia pun tampaknya akan mengadopsi pendekatan serupa di bawah arahan Herdman. Fokusnya adalah menemukan talenta-talenta yang tidak hanya memiliki kualitas teknis dan fisik yang baik, tetapi juga memiliki semangat juang dan komitmen untuk membela Merah Putih.
FIFA Series 2026: Panggung Uji Coba dan Evaluasi
FIFA Series 2026 ini menjadi panggung penting bagi John Herdman untuk mengevaluasi kinerja tim secara keseluruhan. Meskipun tanpa beberapa pemain andalannya, ajang ini tetap memberikan kesempatan berharga untuk menguji berbagai formasi, taktik, dan skema permainan. Pertandingan melawan Saint Kitts and Nevis, Bulgaria, dan Kepulauan Solomon akan memberikan gambaran mengenai kekuatan dan kelemahan tim dalam menghadapi lawan yang berbeda-beda. Herdman dapat memanfaatkan momen ini untuk memberikan jam terbang kepada pemain-pemain yang selama ini jarang mendapatkan kesempatan, serta untuk melihat bagaimana para pemain pengganti dapat beradaptasi dan memberikan kontribusi positif. Keberhasilan dalam FIFA Series 2026, terlepas dari hasil akhir, akan menjadi tolok ukur penting bagi perkembangan Timnas Indonesia di bawah kepelatihan Herdman.
Lebih jauh lagi, partisipasi dalam FIFA Series 2026 juga merupakan bagian dari persiapan Timnas Indonesia untuk menghadapi agenda-agenda penting lainnya, termasuk Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang akan berlanjut. Pengalaman bertanding di turnamen resmi seperti ini sangat krusial untuk meningkatkan mentalitas dan kepercayaan diri para pemain. Dengan absennya Marselino Ferdinan dan Asnawi Mangkualam, pelatih harus mencari solusi kreatif untuk menjaga kedalaman skuad dan memastikan bahwa tim tetap memiliki daya saing yang tinggi. Pertandingan-pertandingan ini menjadi ajang pembuktian bagi pemain lain untuk menunjukkan bahwa mereka layak mendapatkan tempat di tim utama dan mampu menggantikan peran pemain yang absen. Strategi Herdman dalam mencari pemain baru, baik dari liga domestik maupun pemain keturunan, akan sangat menentukan kesuksesan jangka panjang Timnas Indonesia.

















