JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk atmosfer pertandingan sepak bola profesional, di mana tekanan dan emosi kerap memuncak, insiden disipliner kembali menyoroti salah satu figur paling karismatik di Super League. Mauricio Souza, pelatih kepala Persija Jakarta, sekali lagi menjadi pusat perhatian setelah menerima kartu kuning kelimanya musim ini, sebuah peristiwa yang terjadi saat timnya berhasil menundukkan PSM Makassar 2-1 dalam laga pekan ke-22 Super League 2025/2026. Peristiwa ini, yang berlangsung di megahnya Jakarta International Stadium (JIS) pada Jumat malam, 20 Februari 2026, bukan hanya sekadar catatan disipliner, melainkan juga memicu permohonan maaf dari Souza dan secara signifikan kembali mengangkat perdebatan krusial mengenai implementasi teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam kompetisi sepak bola Indonesia.
Insiden Emosional dan Akumulasi Kartu Kuning Sang Pelatih
Momen ketegangan memuncak di pinggir lapangan JIS ketika Mauricio Souza, yang dikenal dengan gaya kepelatihannya yang penuh gairah dan ekspresif, meluapkan kekesalannya terhadap keputusan wasit tengah. Dalam sebuah aksi yang kemudian ia sesali, pelatih berkebangsaan Brasil itu terlihat melemparkan botol ke arah lapangan. Meskipun tindakan tersebut dilakukan dalam luapan emosi sesaat, botol itu secara tidak sengaja mengenai wasit cadangan yang berada di dekatnya, memicu reaksi cepat dari ofisial pertandingan. Wasit cadangan, yang bertugas memantau jalannya laga dari sisi lapangan dan menjadi penghubung antara wasit utama dan bangku cadangan tim, melaporkan insiden pelemparan botol tersebut kepada wasit tengah. Tanpa ragu, wasit utama segera mengganjar Mauricio Souza dengan kartu kuning, sebuah sanksi yang mencerminkan pelanggaran terhadap kode etik perilaku di area teknis.

















