- Tekanan Suporter yang Masif: Kehadiran ribuan pendukung fanatik di Indonesia Arena menciptakan tekanan psikologis yang membuat pemain Jepang merasa terkurung dan sulit mengembangkan permainan kreatif mereka.
- Peningkatan Drastis Intensitas Permainan Indonesia: Skuad asuhan Hector Souto menunjukkan transisi dari bertahan ke menyerang yang sangat cepat, yang seringkali membuat lini pertahanan Jepang kewalahan.
- Faktor Kelelahan Mental: Bermain di bawah tekanan tinggi sepanjang 40 menit waktu normal ditambah babak perpanjangan waktu menguras fokus para pemain Jepang, sehingga terjadi kesalahan fatal di menit-menit akhir.
- Efek Keakraban Takahashi dengan Karakter Indonesia: Meski Takahashi sangat mengenal karakter pemain Indonesia, ia mengakui bahwa perkembangan fisik dan taktik pemain saat ini sudah melampaui ekspektasinya saat ia masih melatih di tanah air.
Jalannya pertandingan sendiri berlangsung sangat sengit dan penuh drama. Indonesia sempat memberikan harapan besar bagi publik tuan rumah setelah unggul lebih dulu dengan skor 2-0. Gol pembuka dilesakkan oleh Samuel Eko pada menit ke-12 melalui skema serangan balik yang rapi, disusul oleh gol Ardiansyah Nur pada menit ke-22 yang memanfaatkan celah di lini tengah Jepang. Namun, Jepang yang dikenal memiliki mentalitas pantang menyerah berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui aksi Takehiro Motoishi pada menit ke-30 dan Kazuya Shimizu pada menit ke-35. Pertandingan semakin memanas ketika Firman Adriansyah kembali membawa Indonesia unggul 3-2 pada menit ke-39, namun kemenangan di depan mata harus tertunda setelah Kazuya Shimizu mencetak gol penalti di menit ke-40, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
Dominasi di Babak Perpanjangan Waktu dan Ambisi Juara Melawan Iran
Memasuki babak perpanjangan waktu, stamina dan mentalitas juara yang ditanamkan Hector Souto benar-benar teruji. Di saat para pemain Jepang mulai tampak kehilangan arah akibat tekanan suporter yang tak kunjung reda, Indonesia justru tampil semakin beringas. Reza Gunawan menjadi pahlawan dengan mencetak gol pada menit ke-45 yang mengubah skor menjadi 4-3, sebelum akhirnya Dewa Rizki mengunci kemenangan bersejarah Indonesia menjadi 5-3 pada menit ke-48. Kemenangan ini disambut dengan tangis haru dan sorak-sorai yang membahana di seluruh penjuru stadion, menandai berakhirnya kutukan kekalahan Indonesia atas Jepang dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya di ajang resmi.
Kensuke Takahashi, dengan sikap ksatria, memuji setinggi langit performa mantan anak asuhnya tersebut. Ia memprediksi bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk keluar sebagai juara Piala Asia Futsal 2026. Menurutnya, performa kolektif dan kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh skuad Merah Putih saat ini berada di level tertinggi yang pernah ia lihat. Takahashi juga menyoroti bahwa lawan Indonesia di final, yaitu Iran, yang berhasil mengalahkan Irak dengan skor 4-2 di semifinal, akan menghadapi tantangan yang sama beratnya dengan apa yang dialami Jepang. “Indonesia memiliki potensi besar untuk menang melawan Iran. Dukungan kuat dari suporter dan perkembangan taktik yang luar biasa membuat mereka menjadi favorit di partai puncak,” ujar pelatih kelahiran Asahikawa tersebut.
Pertandingan final antara Timnas Futsal Indonesia melawan Iran dijadwalkan akan berlangsung di Indonesia Arena pada Sabtu, 7 Februari 2026, pukul 19.00 WIB. Laga ini diprediksi akan menjadi puncak dari kebangkitan futsal Indonesia di kancah internasional. Dengan dukungan penuh dari publik sendiri dan motivasi tinggi setelah menumbangkan Jepang, skuad Garuda kini berdiri di ambang sejarah untuk mengangkat trofi supremasi futsal tertinggi di benua Asia. Seluruh mata pecinta olahraga di tanah air kini tertuju pada perjuangan terakhir pasukan Hector Souto untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pelengkap di peta futsal Asia, melainkan kekuatan baru yang patut disegani oleh dunia.

















