| Posisi | AS Roma (Tuan Rumah) | AC Milan (Tamu) |
|---|---|---|
| Penjaga Gawang | Mile Svilar | Mike Maignan |
| Lini Pertahanan | Gianluca Mancini, Evan Ndicka, Ghilardi | Fikayo Tomori, Matteo Gabbia, Koni De Winter |
| Lini Tengah | Zeki Celik, Manu Koné, Bryan Cristante, Wesley | Alexis Saelemaekers, Samuele Ricci, Luka Modric, Adrien Rabiot, Davide Bartesaghi |
| Lini Serang | Paulo Dybala, Matias Soulé, Donyell Malen | Christopher Nkunku, Rafael Leao |
Analisis Peran Kunci dalam Formasi
Dalam skema AS Roma, peran Mile Svilar di bawah mistar gawang menjadi fondasi kepercayaan diri tim. Di depannya, trio bek yang dipimpin oleh Gianluca Mancini dan Evan Ndicka memberikan proteksi maksimal, sementara Ghilardi memberikan opsi tambahan dalam membangun serangan dari bawah. Di lini tengah, kehadiran Manu Koné memberikan energi baru yang sangat dibutuhkan untuk mengimbangi agresivitas Milan. Namun, sorotan utama tertuju pada duet Paulo Dybala dan Matias Soulé. Kedua pemain kidal ini memiliki kemampuan dribbling dan visi yang sangat tajam, menciptakan ruang bagi Donyell Malen untuk mengeksploitasi celah di pertahanan lawan. Malen sendiri berperan sebagai target man modern yang tidak hanya menunggu bola, tetapi juga aktif melakukan pressing kepada bek lawan.
Di sisi lain, AC Milan di bawah arahan pelatihnya mengandalkan ketangguhan Mike Maignan yang dikenal memiliki distribusi bola layaknya seorang gelandang. Lini belakang yang diisi oleh Tomori, Gabbia, dan De Winter membentuk tembok kokoh yang sulit ditembus. Keunggulan utama Milan terletak pada lima gelandang sejajar mereka, di mana Luka Modric bertindak sebagai dirigen permainan. Pengalaman Modric berpadu sempurna dengan kekuatan fisik Adrien Rabiot dan determinasi muda dari Samuele Ricci. Di sektor sayap, Saelemaekers dan Bartesaghi memberikan keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Sementara itu, duet lini depan yang dihuni Christopher Nkunku dan Rafael Leao adalah kombinasi maut yang memiliki kecepatan, teknik, dan penyelesaian akhir yang sangat dingin, menjadikan setiap transisi Milan sebagai ancaman serius bagi gawang Roma.
Secara taktis, pertandingan ini menunjukkan evolusi gaya bermain di Serie A yang kini lebih terbuka dan menyerang. AS Roma menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman skuad yang mampu bersaing dengan tim-tim papan atas, terutama dengan integrasi pemain baru seperti Malen dan Soulé yang langsung nyetel dengan filosofi tim. Sementara itu, AC Milan membuktikan bahwa investasi pada pemain berpengalaman seperti Modric masih memberikan dampak instan yang sangat positif dalam mengontrol jalannya pertandingan besar. Hasil dari laga ini bukan hanya sekadar angka di papan skor, melainkan pernyataan tegas dari kedua klub mengenai ambisi mereka untuk mendominasi kompetisi domestik dan berbicara banyak di level kontinental.


















