Persebaya Surabaya harus menelan pil pahit kekalahan di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Dalam lanjutan pekan ke-21 Super League, “Bajul Ijo” takluk 1-2 dari tim tamu, Bhayangkara Presisi Lampung FC. Kekalahan ini menandai akhir dari rentetan 13 pertandingan tanpa kalah yang impresif bagi Persebaya, sebuah rekor yang patut dibanggakan namun kini harus rela terputus di hadapan para pendukungnya sendiri. Pertandingan yang diwarnai guyuran hujan lebat ini menyajikan drama di mana tim tamu berhasil mengunci kemenangan berkat dua gol di babak pertama, sementara tuan rumah hanya mampu membalas satu gol di paruh kedua. Laga ini tidak hanya memutus tren positif Persebaya, tetapi juga berpotensi mempengaruhi posisi mereka di klasemen sementara.
Babak Pertama yang Dikuasai Tim Tamu
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Bhayangkara Presisi Lampung FC menunjukkan inisiatif serangan yang lebih tajam, seolah tak gentar bermain di kandang lawan yang terkenal angker. Di bawah guyuran hujan yang cukup deras, tim tamu berhasil mendominasi penguasaan bola di lini tengah. Dominasi ini membuat para pemain Persebaya, termasuk trio penyerang andalan seperti Bruno Moreira, Francisco Rivera, dan Gali Freitas, kesulitan mengembangkan permainan menyerang mereka. Setiap tusukan dan upaya membongkar pertahanan lawan selalu dapat diantisipasi dengan baik oleh barisan pertahanan Bhayangkara. Bahkan, ancaman nyata dari Persebaya di babak pertama terbilang minim. Tercatat hanya satu peluang emas yang berhasil diciptakan oleh Risto Mitrevski melalui tendangan keras dari luar kotak penalti, namun sayang arah bola masih melebar ke sisi kiri gawang. Situasi ini berbanding terbalik dengan yang dialami tim tamu. Bhayangkara justru semakin meningkatkan intensitas serangan mereka meskipun sudah unggul dua gol. Sejumlah peluang sempat tercipta menjelang jeda babak pertama, namun skor tidak bertambah. Gol pertama tim tamu dicetak oleh Benard Henry pada menit ke-26, disusul gol kedua dari M. Sidibie pada menit ke-45+2, membawa Bhayangkara unggul 2-0 saat turun minum.
Persebaya Gagal Membalikkan Keadaan di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, melakukan sejumlah penyesuaian taktik untuk mencoba membalikkan keadaan. Tim tuan rumah tampil lebih menekan pertahanan lawan, berupaya keras untuk mengejar ketertinggalan. Namun, Bhayangkara Presisi Lampung FC yang sudah unggul, cenderung menerapkan strategi bertahan yang solid. Meski demikian, Persebaya berhasil memperkecil kedudukan melalui gol yang dicetak oleh penyerang mereka, Mihailo Perovic, pada menit ke-64. Gol ini sempat memberikan harapan bagi para pendukung Persebaya yang hadir di stadion. Sayangnya, hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada lagi gol tambahan yang mampu diciptakan oleh tim tuan rumah. Upaya-upaya terakhir Persebaya untuk menyamakan kedudukan selalu kandas di hadapan pertahanan rapat tim tamu. Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Persebaya, terlebih lagi mereka gagal memanfaatkan momentum untuk merangsek ke peringkat keempat klasemen sementara. Situasi ini semakin diperparah dengan kemenangan telak yang diraih oleh pesaing terdekat mereka, Malut United, yang berhasil mengalahkan Persijap Jepara dengan skor 4-0.
Komentar Pelatih dan Pemain: Analisis dan Evaluasi
Kemenangan dramatis Bhayangkara Presisi Lampung FC disambut dengan penuh suka cita oleh pelatih mereka, Paul Munster. Ia menyatakan bahwa kemenangan ini sangat krusial bagi timnya, terutama mengingat atmosfer pertandingan yang didukung penuh oleh suporter Persebaya, Bonek. “Seratus persen pemain menjalankan instruksi saya,” ujar Munster dengan bangga, menunjukkan kepatuhan dan eksekusi taktik yang sempurna dari anak asuhnya. Frenky Missa, gelandang serang Bhayangkara, turut mengungkapkan kegembiraannya atas poin penuh yang berhasil diraih di kandang lawan. “Kami gembira sekali bisa menang di Surabaya. Ini kerja keras kami,” ucapnya, menekankan kontribusi seluruh tim.
Di sisi lain, pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, menyampaikan kekecewaannya atas hasil akhir. Ia menyoroti efektivitas serangan tim tamu yang berhasil mengkonversi dua peluang menjadi gol. “Bhayangkara punya dua kesempatan tendangan dan semua jadi gol,” keluhnya. Tavares juga mengakui bahwa penguasaan lini tengah di babak pertama memang menjadi keunggulan lawan. “Babak kedua kami punya beberapa peluang tapi tak membuahkan gol. Akan kami perbaiki setelah ini,” tambahnya, berjanji untuk melakukan evaluasi mendalam. Tavares juga melayangkan kritik terhadap kepemimpinan wasit asal Jepang, Yudan Yamamoto, yang dianggapnya memberikan tambahan waktu terlalu singkat, padahal penjaga gawang Bhayangkara kerap mengulur waktu. “Rasanya wasit ini perlu dievaluasi dan diperiksa,” tegasnya.
Penjaga gawang Persebaya, Andhika Ramadhani, tak lupa menyampaikan permohonan maaf kepada Bonek dan Bonita atas hasil yang mengecewakan ini. Ia menyatakan bahwa para pemain telah berjuang semaksimal mungkin, namun hasil yang diraih tidak sesuai dengan harapan. “Tapi hasilnya tak sesuai harapan. Kami minta maaf,” ucap kiper kedua Bajul Ijo tersebut dengan nada penuh penyesalan.
















