Kekalahan dramatis harus ditelan Persik Kediri di kandang sendiri, Stadion Brawijaya, pada Jumat malam, 20 Januari 2026. Dalam sebuah laga penuh tensi tinggi dan banjir gol, Macan Putih takluk 3-4 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC. Pertandingan pekan ke-22 Super League 2025/2026 ini menjadi sorotan utama bukan hanya karena skor akhir yang ketat, melainkan juga karena performa agresif Persik yang diwarnai rapuhnya koordinasi lini belakang, serta serangkaian keputusan wasit yang dipertanyakan oleh pelatih Marcos Reina Torres. Hasil ini tidak hanya menjadi kekalahan pertama Persik di kandang musim ini, tetapi juga pukulan telak yang memicu evaluasi mendalam di tubuh tim, meskipun manajer tim mengakui kualitas permainan kedua belah pihak.
Duel sengit di Stadion Brawijaya malam itu menyajikan tontonan yang memikat para penggemar sepak bola. Sejak peluit awal dibunyikan, Persik Kediri menunjukkan determinasi tinggi dengan tampil agresif dan berani memainkan tempo cepat. Strategi ini terbukti efektif dalam membangun serangan demi serangan, dengan kombinasi umpan-umpan pendek yang rapi dari lini belakang hingga ke area pertahanan lawan. Namun, di tengah gempuran tersebut, tim tamu Bhayangkara Presisi Lampung FC justru mampu memanfaatkan celah dan peluang yang ada, menciptakan drama tujuh gol yang berlangsung hingga peluit panjang dibunyikan.

Jalannya pertandingan bak rollercoaster emosi bagi kedua tim dan para pendukung. Bhayangkara Presisi Lampung FC berhasil membuka keunggulan lebih dulu melalui gol Slavko Damjanovic pada menit ke-6, memberikan kejutan awal bagi tuan rumah. Namun, Persik Kediri tidak menyerah begitu saja. Kiko berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-33, membangkitkan semangat Macan Putih. Sayangnya, keunggulan itu tidak bertahan lama. Nehar Sadiki kembali membawa Bhayangkara unggul 1-2 di menit ke-38, menutup babak pertama dengan keunggulan tipis bagi tim tamu. Memasuki babak kedua, Persik kembali menunjukkan daya juang. Jose Enrique sukses mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-51, mengubah skor menjadi 2-2. Namun, lagi-lagi Bhayangkara mampu merespons cepat, kali ini melalui Jean Befolo Mbarga di menit ke-59, membuat skor menjadi 2-3. Drama belum berakhir. Ernesto Gomez kembali menyamakan kedudukan untuk Persik pada menit ke-64, menciptakan skor 3-3 yang memanaskan atmosfer stadion. Sayangnya, gol Henri di menit ke-87 menjadi penentu kemenangan Bhayangkara Presisi Lampung FC dengan skor akhir 3-4, meninggalkan Persik Kediri dengan kekecewaan mendalam.
Analisis Pelatih: Karakter Kuat dan Rapuhnya Lini Belakang
Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina Torres, dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan, mengungkapkan pandangannya terhadap performa anak asuhnya. Ia memuji determinasi dan mental bertanding tim yang tetap terjaga sepanjang laga, meskipun pertandingan berjalan sangat ketat hingga menit-menit akhir. “Kita tidak bertahan dengan baik. Kita tidak bisa dengan mudah kebobolan, saat situasi sulit untuk mencetak gol. Tapi saya senang melihat bagaimana pemain menyerang, berani datang dari belakang, menutup pergerakan, mencoba memenangkan permainan, menjadi lebih baik daripada tim lawan selama pertandingan,” ujar Marcos Reina kepada awak media, menyoroti karakter kuat yang ditunjukkan para pemainnya dalam menghadapi tekanan.
Namun, di balik apresiasi terhadap semangat juang tim, pelatih asal Spanyol tersebut tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap aspek pertahanan. Menurut Marcos Reina, persoalan utama yang menyebabkan kekalahan ini terletak pada rapuhnya koordinasi lini belakang. Timnya terlalu mudah kehilangan konsentrasi, terutama pada momen-momen krusial saat sedang berupaya mengejar ketertinggalan atau mempertahankan keunggulan. “Kita tidak bertahan dengan baik,” tegasnya, menggarisbawahi kelemahan fundamental yang harus segera diperbaiki. Kebobolan empat gol di kandang sendiri menjadi indikasi jelas bahwa ada pekerjaan rumah besar di sektor pertahanan, mulai dari komunikasi antar pemain, posisi, hingga antisipasi serangan lawan.
Sorotan Tajam Terhadap Kepemimpinan Wasit
Selain masalah teknis di lini belakang, Marcos Reina Torres juga melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut. Beberapa keputusan wasit dinilai merugikan Persik Kediri dan berpotensi mengubah jalannya pertandingan. Ia secara spesifik menyoroti dua insiden krusial yang menurutnya perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait. “Seseorang harus menjelaskan kenapa wasit tidak memberikan kartu kuning kedua kepada Wahyu Subo Seto. Saya tidak paham, seseorang harus menjelaskan juga kemungkinan kartu merah di babak pertama saat kami mencetak gol lewat Kiko,” ungkap Marcos dengan nada kesal.
Kritik ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan refleksi dari keprihatinan Marcos Reina terhadap kualitas perangkat pertandingan di sepak bola nasional. Ia menilai bahwa peningkatan kualitas wasit adalah elemen vital dalam mendorong kemajuan liga. “Jika Indonesia ingin berkembang, ini tidak bisa terjadi saat sebuah tim melakukan banyak hal untuk bisa menang. Sekarang kita harus fokus pada diri sendiri dan harus bertahan dengan lebih baik. Tapi seseorang harus menjelaskan hal itu,” imbuhnya, menekankan bahwa keputusan kontroversial seperti ini dapat merusak integritas kompetisi dan semangat juang tim yang telah berusaha maksimal. Konsistensi dan keadilan dalam pengambilan keputusan wasit menjadi kunci untuk menciptakan pertandingan yang fair dan kompetitif.
Pukulan Berat dan Evaluasi Menyeluruh
Kekalahan di kandang sendiri ini diakui sebagai pukulan berat oleh manajer tim Persik Kediri, M Syahid Nur Ichsan. “Kehilangan poin di kandang jelas mengecewakan, tetapi publik juga bisa menilai bagaimana jalannya pertandingan. Kedua tim bermain dengan kualitas yang sangat baik,” ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun hasil akhir tidak memuaskan, kualitas permainan yang disuguhkan oleh kedua tim patut diapresiasi, namun kekalahan tetaplah kekalahan, terutama mengingat ini adalah kekalahan pertama Persik di kandang musim ini, yang tentu saja sangat menyakitkan dan merusak rekor positif mereka.
Meskipun Persik Kediri menunjukkan produktivitas yang mengesankan di lini depan dengan mencetak tiga gol, rapuhnya pertahanan menjadi faktor penentu yang membuat mereka harus rela menutup pertandingan dengan tangan hampa. Hasil ini membawa pulang banyak catatan evaluasi penting bagi jajaran pelatih dan manajemen. Fokus utama akan tertuju pada perbaikan koordinasi lini belakang, peningkatan konsentrasi sepanjang 90 menit pertandingan, serta upaya untuk terus beradaptasi dengan dinamika kepemimpinan wasit. Kekalahan ini menjadi momentum bagi Persik Kediri untuk introspeksi, belajar dari kesalahan, dan kembali bangkit dengan performa yang lebih solid di pertandingan-pertandingan selanjutnya dalam upaya mereka bersaing di Super League 2025/2026.

















