Kekalahan telak Persik Kediri di kandang sendiri atas Bhayangkara FC, yang berakhir dengan skor 3-4, memicu kemarahan dan kekecewaan mendalam dari para pendukung setia, Persikmania. Sorotan tajam tertuju pada performa lini pertahanan tim Macan Putih, khususnya pemain pinjaman dari Persib Bandung, Hamra Hehanussa, yang dianggap menjadi biang kerok atas rentetan gol yang bersarang di jala gawang timnya. Kekalahan ini bukan hanya mengakhiri tren positif Persik Kediri di markas sendiri, tetapi juga memunculkan kembali perdebatan mengenai kualitas pertahanan dan strategi pelatih Marcos Reina dalam mengantisipasi serangan lawan. Pertandingan yang seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi tuan rumah justru berujung pada frustrasi, di mana permainan solid di lini depan kontras dengan kerentanan di lini belakang, menciptakan situasi yang memicu reaksi keras dari tribun penonton.
Analisis Mendalam Kekalahan Persik Kediri dan Kritik Pedas Persikmania
Pertandingan kandang Persik Kediri melawan Bhayangkara FC, yang seharusnya menjadi ajang pembuktian kekuatan tim tuan rumah di Stadion Brawijaya, Kediri, pada Jumat (20/2/2026), justru berakhir dengan kekecewaan pahit. Persik Kediri harus mengakui keunggulan Bhayangkara FC dengan skor akhir 3-4. Tiga gol tuan rumah dicetak oleh Kiko (menit ke-33), Jose Enrique (menit ke-51), dan Ernesto Gomez (menit ke-64). Namun, momen krusial terjadi jelang akhir laga ketika Kiko harus meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah pada menit ke-90+7, menambah daftar masalah bagi timnya. Sementara itu, empat gol kemenangan Bhayangkara FC disumbangkan oleh Slavko Damjanovic (menit ke-5), Nehar Sadiki (menit ke-38), Privat Mbarga (menit ke-59), dan Henri Doumbia (menit ke-87), yang menjadi penentu kemenangan tim tamu.
Pasca pertandingan, kekecewaan yang membuncah dari para pendukung Persik Kediri, yang dikenal sebagai Persikmania, memuncak menjadi luapan emosi di media sosial. Fokus utama kritik tajam mereka tertuju pada kinerja lini pertahanan Persik Kediri, yang dianggap rapuh dan mudah ditembus. Secara khusus, perhatian tertuju pada performa Hamra Hehanussa, pemain yang berstatus pinjaman dari Persib Bandung. Ia menjadi sorotan utama karena dianggap gagal menjalankan tugasnya dengan baik dalam mengawal lini belakang. Ironisnya, pada musim sebelumnya, Hamra Hehanussa jarang sekali mendapatkan sorotan atau evaluasi tajam dari Persikmania. Namun, dalam pertandingan kali ini, pertahanan Persik Kediri yang dipimpinnya seakan tak berdaya menghadapi serangan Bhayangkara FC, yang berujung pada gol-gol yang bersarang di gawang Leo Navacchio.
Berbagai komentar pedas dilontarkan oleh Persikmania di platform media sosial. Akun @dhiky.apr menulis, “Bek ajur ket wingi gak enek evaluasi yo,” menunjukkan kekecewaan atas performa bek yang dianggap buruk dan minimnya evaluasi. Komentar lain dari @storyof_persikkediri menyiratkan bahwa performa lini depan sudah baik, namun hanya lini belakang yang menjadi masalah, “Mainmu wes apik, mung minus back mu tok!!”. Keluhan serupa diungkapkan oleh @khama.a_prastyo.77 yang mempertanyakan apakah bek tengah sudah dievaluasi, “kat kae panggah bek e ae wes dievaluasi durung behh bek tengah panggah kesalahan terus.” Bahkan, ada yang secara tegas meminta untuk tidak menyalahkan wasit, melainkan fokus pada pertahanan yang dinilai ‘mendo kabeh’ (lemah semua), seperti yang ditulis oleh @_arfmuh. Ungkapan “Ngarep nibo nangi, mburi mode plonga plongo” dari @fendy.kriuk menggambarkan kontras antara perjuangan lini depan dan kelengahan lini belakang. Akun @vabyann menyoroti efektivitas serangan lawan yang selalu berujung gol, “diserang pisan kebobol, diserang pisan kebobol. jane pieee bek mu i,” menunjukkan betapa mudahnya gawang Persik Kediri dibobol. Terakhir, permintaan untuk mencari bek yang lebih tangguh, setidaknya sekuat Bio Paulin, disampaikan oleh @diky_bahtiar, “Golek bek seng kereng kyk bio paulin bos @arthurirawan.”
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai evaluasi yang akan dilakukan oleh pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, terhadap lini belakang timnya. Terlebih lagi, dengan kartu merah yang diterima Kiko di menit-menit akhir, yang seharusnya menjadi momen untuk mengamankan hasil, justru menambah kerumitan bagi tim tuan rumah. Performa lini belakang yang menjadi sorotan utama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim pelatih untuk segera menemukan solusi demi perbaikan di pertandingan-pertandingan mendatang.
Jalannya Pertandingan: Drama Tujuh Gol di Stadion Brawijaya
Sejak peluit awal dibunyikan, Persik Kediri berupaya mengambil inisiatif serangan untuk menekan pertahanan Bhayangkara FC. Namun, tim tamu tidak tinggal diam dan dengan percaya diri meladeni permainan ofensif tuan rumah, memanfaatkan kecepatan para pemain sayap mereka. Peluang pertama datang dari Bhayangkara FC melalui tendangan bebas pada menit ke-4. Umpan Privat Mbarga dari tendangan bebas diarahkan ke kotak penalti, disambut oleh Ryo Matsumura yang melakukan sentuhan cerdik dengan backheel ke arah gawang. Setelah kemelut singkat, bola berhasil disundul oleh Slavko Damjanovic yang berdiri bebas, merobek jala Leo Navacchio dan membawa Bhayangkara FC unggul 0-1.
Ancaman dari tim tamu kembali datang melalui skema bola mati. Sepakan mendatar kaki kiri Moussa Sidibe nyaris saja menambah keunggulan Bhayangkara FC, namun bola masih melebar. Peluang emas didapatkan Privat Mbarga dalam situasi satu lawan satu dengan kiper Leo Navacchio. Dengan tenang, Mbarga mencoba melakukan tendangan chip yang melewati Navacchio, namun sayang bola melambung tipis di atas mistar gawang. Persik Kediri mencoba membalas melalui kapten tim, Ezra Walian, yang melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti. Namun, kiper Bhayangkara FC, Aqil Savik, berhasil mengantisipasi tendangan tersebut dengan posisi yang tepat.
Perjuangan Persik Kediri akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-33. Bek Persik Kediri, Kiko, secara mengejutkan berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Sebuah sepakan mendatar dari Kiko tak mampu dijangkau oleh Aqil Savik, mengubah skor menjadi 1-1. Namun, kebahagiaan tuan rumah tidak berlangsung lama. Hanya berselang lima menit, tepatnya pada menit ke-38, Nehar Sadiki kembali membawa Bhayangkara FC unggul. Sundulannya, yang mirip dengan gol Damjanovic, berhasil merobek jala gawang Persik Kediri. Hingga peluit babak pertama dibunyikan, skor 1-2 untuk keunggulan Bhayangkara FC atas tuan rumah Persik Kediri tidak berubah.
Memasuki babak kedua, Persik Kediri yang tersengat oleh gol kedua Bhayangkara FC di akhir babak pertama, langsung meningkatkan intensitas serangan sejak menit-menit awal. Usaha mereka membuahkan hasil pada menit ke-51. Melalui kemelut yang berawal dari umpan Adrian Luna, Jose Enrique berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dengan tap-in yang mudah. Namun, kegembiraan tim tuan rumah kembali terusik. Selang delapan menit kemudian, pada menit ke-59, Privat Mbarga kembali membawa Bhayangkara FC unggul 3-2. Umpan dari Sidibe berhasil diteruskan Mbarga dengan sepakan keras mendatar yang tak mampu dihalau kiper Persik Kediri.
Tak lama berselang, Persik Kediri kembali menunjukkan semangat juang mereka. Pada menit ke-64, Ernesto Gomez berhasil mencetak gol penyeimbang kedudukan. Namun, alih-alih semakin termotivasi, Persik Kediri kembali melakukan kesalahan fatal. Kurangnya antisipasi di sisi kiri pertahanan dimanfaatkan dengan baik oleh Privat Mbarga yang melakukan penetrasi. Ia kemudian memberikan umpan matang kepada Henri Doumbia, yang dengan mudah menceploskan bola ke gawang Persik Kediri. Skor berubah menjadi 3-4, membuat Persik Kediri kembali tertinggal.
Perbandingan Susunan Pemain dan Strategi Awal
Dalam susunan pemain awal yang diturunkan oleh pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, terdapat beberapa keputusan yang cukup mengejutkan. Tim tuan rumah justru memilih untuk memainkan beberapa pemain yang tergolong kurang berpengalaman dibandingkan dengan deretan pemain bintang yang mereka miliki. Beberapa nama yang masuk dalam line-up awal dan dianggap kurang berpengalaman antara lain Kadek Rendy dan Ady Eko. Meskipun demikian, Reina tetap menurunkan dua otak serangan andalan timnya, Ezra Walian dan Adrian Luna, secara bersamaan. Selain itu, bomber andalan asal Spanyol, Jose Enrique, juga dipercaya untuk memimpin lini depan.
Di sisi lain, pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, tampaknya menyimpan satu kejutan dalam daftar pemainnya. Sho Yamamoto, salah satu pemain asing yang diharapkan memberikan kontribusi besar, justru ditempatkan di bangku cadangan dan berpotensi besar untuk diturunkan di babak kedua. Sementara itu, pemain-pemain asing baru seperti Privat Mbarga, Ryo Matsumura, Moussa Sidibe, dan Henri Doumbia, semuanya masuk dalam line-up utama Bhayangkara FC, menunjukkan kepercayaan penuh Munster pada kekuatan skuadnya sejak awal pertandingan.
Berikut adalah susunan pemain lengkap kedua tim:
Persik Kediri
Pelatih: Marcos Reina
- Leo Navacchio (GK)
- Kiko
- Hamra Hehanussaa
- Chechu Menneses
- Kadek Rendy
- Ady Eko
- Jon Toral
- Adrian Luna
- Ernesto Gomez
- Ezra Walian
- Jose Enrique
Cadangan: Yandi Sofyan, Novri Setiawan, Vava Yagalo, Moch Supriadi, Rifqi Ray, Husna Al Malik, Wigi, Henhen Herdiana, Irkham Mila, Syahrian Abimanyu, Rodrigo Dias, Yandi Sofyan, dan Bayu Otto.
Bhayangkara FC
Pelatih: Paul Munster
- Muchamad Aqil Savik (GK)
- Frengky Missa
- I Putu Gede
- Nehar Sadiki
- Slavko Damjanovic
- Moises Wolschick
- Henry Doumbia
- Wahyu Subo Seto
- Moussa Sidibe
- Privat Mbarga
Cadangan: Awan Sethi, Rakasurya Handika, Leo Da Silva, Ginanjar Wahyu, Ilija Spasojevic, Firza Andika, Sani Rizki, Dendy Sulistyawan, Rahmat Syawal, Sho Yamamoto, dan Ryan Kurnia.

















