Gol penyelamat di menit-menit akhir pertandingan dari Dusan Mijic berhasil menggagalkan kemenangan Madura United dan mengamankan satu poin bagi Persis Solo dalam duel pekan ke-21 Super League yang digelar di Stadion Manahan pada Jumat, 13 Februari 2026. Meskipun mampu terhindar dari kekalahan di kandang, hasil imbang 2-2 ini justru memperpanjang tren minor Persis Solo yang masih terbenam di dasar klasemen, sementara Madura United juga gagal memanfaatkan momentum untuk merangkak naik dari papan bawah. Pertandingan ini menjadi sorotan tajam bagi kedua tim, di mana Persis Solo menunjukkan perjuangan pantang menyerah hingga peluit akhir dibunyikan, namun dibarengi dengan evaluasi mendalam terkait performa yang dinilai belum sesuai instruksi pelatih, Milomir Seslija. Sementara itu, Madura United harus menelan pil pahit karena kehilangan keunggulan di penghujung laga, melanjutkan rentetan hasil yang kurang memuaskan di beberapa pertandingan terakhir.
Hasil imbang yang diraih Persis Solo dalam pertandingan kandang melawan Madura United pada pekan ke-21 Super League, Jumat (13/2/2026), menyisakan rasa pahit bagi para penggawa Laskar Sambernyawa. Meskipun Dusan Mijic mencetak gol krusial di menit 90+2 yang menyelamatkan tim dari kekalahan, posisi Persis Solo di klasemen sementara tidak mengalami perubahan signifikan. Tim kebanggaan Kota Solo ini masih tertahan di juru kunci, menempati peringkat ke-18 dengan raihan 12 poin dari 21 pertandingan yang telah dilakoni. Posisi ini menempatkan mereka dalam situasi genting, berjarak lima poin dari tim yang berada di atas zona degradasi, mengindikasikan perjuangan berat yang harus dihadapi untuk bertahan di kompetisi kasta tertinggi musim depan. Di sisi lain, Madura United yang sempat unggul, harus puas dengan hasil imbang yang membuat mereka tertahan di peringkat ke-14 klasemen. Kemenangan yang sudah di depan mata kembali terlepas, menambah daftar kekecewaan bagi tim berjuluk Laskar Sapeh Kerrab yang kini hanya berjarak dua strip dari zona merah.
Evaluasi Mendalam Pasca Laga: Instruksi Pelatih dan Performa Pemain
Dusan Mijic, salah satu pahlawan Persis Solo dalam laga tersebut, secara terbuka mengakui bahwa timnya belum sepenuhnya menjalankan instruksi yang diberikan oleh pelatih Milomir Seslija. Pernyataan ini menjadi sorotan penting dalam evaluasi pasca-pertandingan. Mijic menyoroti adanya ketidaksesuaian antara strategi yang dirancang pelatih dengan eksekusi di lapangan oleh para pemain. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai komunikasi, pemahaman taktik, atau bahkan tingkat konsentrasi para pemain selama 90 menit pertandingan. Ketidakmampuan untuk mengimplementasikan instruksi pelatih secara efektif dapat menjadi akar masalah dari hasil yang kurang memuaskan, terlepas dari upaya keras yang ditunjukkan di lapangan. Pelatih Milomir Seslija, yang merupakan pelatih asal Serbia, juga menyatakan kekecewaannya terhadap performa timnya, terutama dalam hal penyelesaian akhir. Beliau mengamati bahwa anak asuhnya kerap membuang peluang emas yang seharusnya bisa dikonversi menjadi gol. Efisiensi dalam memanfaatkan kesempatan adalah kunci dalam setiap pertandingan sepak bola, dan kegagalan dalam hal ini dapat berakibat fatal, seperti yang hampir terjadi pada laga melawan Madura United.
Meskipun demikian, pelatih Seslija juga memberikan apresiasi terhadap semangat juang para pemainnya, terutama di babak pertama di mana timnya mampu bermain dengan baik. Namun, performa yang inkonsisten di babak kedua dan kegagalan menjaga keunggulan menjadi catatan penting yang perlu segera diperbaiki. Bagi para pemain Persis Solo, setiap pertandingan di musim ini dianggap sebagai “final”, sebuah filosofi yang menekankan pentingnya kemenangan di setiap laga. Oleh karena itu, hasil imbang, terutama di kandang sendiri, terasa begitu menyakitkan dan menjadi pukulan telak bagi moral tim. Pernyataan ini menggarisbawahi tekanan besar yang dihadapi oleh Persis Solo untuk bangkit dan memperbaiki posisinya di klasemen agar terhindar dari jurang degradasi.
Perjuangan Laskar Sambernyawa: Antara Harapan dan Realita Klasemen
Persis Solo, yang berjuluk Laskar Sambernyawa, terus berjuang keras untuk keluar dari zona degradasi. Namun, realita klasemen sementara Super League menunjukkan betapa beratnya perjuangan mereka. Dengan hanya mengoleksi 12 poin dari 21 pertandingan, posisi mereka sebagai juru kunci semakin mengukuhkan status sebagai tim yang paling terancam terdegradasi. Jarak lima poin dengan tim di atas zona merah bukanlah jarak yang terlalu jauh, namun konsistensi adalah kunci utama untuk membalikkan keadaan. Setiap pertandingan yang tersisa menjadi krusial dan harus dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk meraih poin penuh. Kegagalan untuk meraih kemenangan di kandang sendiri melawan Madura United, meskipun berhasil menghindari kekalahan berkat gol Dusan Mijic, menjadi refleksi dari tantangan yang dihadapi Persis Solo. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar semangat juang; mereka membutuhkan eksekusi taktik yang sempurna, ketajaman lini depan, dan soliditas pertahanan.
Di sisi lain, Madura United, meskipun tidak berada dalam ancaman degradasi yang sama parahnya dengan Persis Solo, juga tengah mengalami periode sulit. Tim ini telah puasa kemenangan dalam enam laga terakhirnya sebelum menghadapi Persis Solo. Hasil imbang ini tentu tidak memberikan kepuasan bagi tim yang berambisi untuk memperbaiki posisi mereka di klasemen. Terjebak di peringkat ke-14, Madura United hanya berjarak dua setrip dari zona merah, sebuah posisi yang mengkhawatirkan bagi tim yang seharusnya mampu bersaing di papan tengah. Kehilangan keunggulan di menit-menit akhir pertandingan adalah sebuah indikasi adanya masalah dalam manajemen pertandingan dan konsentrasi pemain hingga peluit akhir dibunyikan. Kedua tim, dengan cara mereka masing-masing, menghadapi tekanan yang signifikan untuk segera berbenah dan meraih hasil positif di pertandingan-pertandingan mendatang demi mengamankan nasib mereka di Super League.

















