Drama tak terduga mewarnai laga perdana putaran ketiga Championship 2025/26, saat PSIS Semarang berhadapan dengan Persela Lamongan. Pertandingan sengit yang digelar di markas Laskar Mahesa Jenar, Stadion Jatidiri, pada Minggu (15/2) sore, berakhir imbang 1-1, menyisakan beragam cerita mulai dari gol cepat, kartu merah kontroversial, hingga intervensi Video Assistant Referee (VAR) yang membatalkan gol tuan rumah, sebelum akhirnya diselamatkan oleh gol penyeimbang di menit-menit krusial. Hasil ini tidak hanya memengaruhi posisi kedua tim di klasemen sementara, tetapi juga memberikan gambaran awal betapa ketatnya persaingan di fase krusial kompetisi ini.
Awal Gemilang Persela dan Kartu Merah yang Mengubah Jalannya Laga
Peluit kick-off baru saja berbunyi, namun tensi pertandingan langsung memanas. Persela Lamongan, yang dikenal dengan julukan Joko Tingkir, secara mengejutkan berhasil membungkam euforia pendukung tuan rumah dengan mencetak gol pembuka saat laga baru berjalan 15 menit. Adalah Hambali Tholib, gelandang serang lincah Persela, yang menjadi momok bagi pertahanan PSIS. Dengan memanfaatkan kelengahan barisan belakang Laskar Mahesa Jenar, Hambali berhasil melesakkan bola ke gawang, membawa timnya unggul 0-1 dan menciptakan keheningan sesaat di Stadion Jatidiri yang dipenuhi ribuan suporter.
Namun, keunggulan yang diraih Persela harus dibayar mahal tak berselang lama. Momentum positif yang mereka dapatkan seketika berbalik arah ketika salah satu pemain kunci mereka, Titan Agung, harus menerima kartu merah langsung dari wasit. Pelanggaran keras yang dilakukannya dianggap membahayakan lawan, memaksa Titan Agung keluar lapangan dan meninggalkan skuad Joko Tingkir bermain dengan 10 pemain. Keputusan ini, yang diambil setelah pertimbangan matang, secara drastis mengubah dinamika pertandingan. Persela yang semula agresif, kini harus beradaptasi dengan kondisi kekurangan pemain, memaksa mereka untuk lebih fokus pada pertahanan dan menahan gempuran PSIS yang mulai bangkit. Situasi ini menjadi titik balik krusial, memberikan keuntungan numerik bagi PSIS untuk mendominasi sisa waktu pertandingan babak pertama, meskipun skor 0-1 untuk keunggulan Persela tetap bertahan hingga turun minum.
Drama VAR dan Gol Penyelamat Laskar Mahesa Jenar
Memasuki babak kedua, PSIS Semarang tampil dengan semangat berlipat ganda, memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Mereka terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke jantung pertahanan Persela yang kini lebih rapat dan disiplin. Pelatih Andri Ramawi Putra melakukan sejumlah perubahan taktik dan pergantian pemain untuk menambah daya gedor. Tekanan yang terus-menerus akhirnya membuahkan hasil, atau setidaknya demikian yang terlihat di lapangan. Rafael Rodrigues, penyerang bernomor punggung 91 yang dimasukkan sebagai pemain pengganti, berhasil menjebol gawang Persela, memicu sorak sorai riuh dari para pendukung PSIS yang sudah lama menanti gol penyeimbang.
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Wasit memutuskan untuk meninjau ulang insiden gol tersebut melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR). Proses peninjauan VAR berlangsung cukup lama, menambah ketegangan di antara pemain dan penonton. Setelah beberapa menit penuh antisipasi, keputusan akhir diumumkan: gol PSIS dibatalkan. Pembatalan gol ini, yang kemungkinan besar disebabkan oleh offside tipis atau pelanggaran dalam proses build-up serangan, menjadi pukulan telak bagi mental para pemain PSIS dan para pendukungnya. Penggunaan VAR, meskipun bertujuan untuk memastikan keadilan, seringkali menciptakan momen dramatis yang mengubah jalannya pertandingan dan memengaruhi psikologi tim secara signifikan. PSIS Semarang, yang hampir saja menyamakan kedudukan, kini harus kembali berjuang keras untuk menghindari kekalahan yang memalukan di kandang sendiri.
Waktu terus berjalan, dan kekalahan di depan mata semakin nyata bagi PSIS. Namun, Laskar Mahesa Jenar tidak menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaga dan semangat pantang menyerah, mereka terus menekan. Pada menit-menit tambahan babak kedua, ketika harapan mulai memudar, Rafael Rodrigues kembali muncul sebagai pahlawan. Dalam sebuah skema serangan terakhir yang penuh determinasi, Rodrigues berhasil mencetak gol penyeimbang. Kali ini, golnya sah dan tidak dibatalkan VAR. Gol di penghujung laga ini tidak hanya menggagalkan kemenangan Persela yang sudah di depan mata, tetapi juga menyelamatkan PSIS dari kekalahan perdana di putaran ketiga Championship 2025/26. Momen gol penyeimbang ini menjadi puncak drama pertandingan, mengukuhkan Rafael Rodrigues sebagai penyelamat dan memberikan satu poin berharga bagi PSIS.
Implikasi Klasemen dan Tekanan di Zona Merah
Hasil imbang 1-1 ini memiliki dampak signifikan terhadap posisi PSIS Semarang di klasemen sementara Grup 2 atau Zona Timur Championship 2025/26. Dengan tambahan satu poin, PSIS kini mengumpulkan total 12 poin. Angka ini menempatkan mereka masih dalam bayang-bayang zona merah, area degradasi yang sangat dihindari oleh setiap tim. Tekanan untuk menjauh dari posisi berbahaya ini semakin terasa, mengingat persaingan di papan bawah klasemen sangat ketat dan setiap poin menjadi krusial dalam menentukan nasib tim.
PSIS Semarang hanya terpaut dua poin dari Persiba Balikpapan, tim yang berada tepat di atas mereka dan juga berjuang keras untuk keluar dari ancaman degradasi. Perbedaan tipis ini menunjukkan betapa gentingnya situasi bagi PSIS, di mana satu kesalahan atau hasil yang kurang memuaskan bisa menjerumuskan mereka lebih dalam ke zona merah. Malam ini, perhatian juga akan tertuju pada pertandingan lain yang tak kalah penting, yaitu duel antara Persiba Balikpapan kontra Persiku Kudus. Hasil dari pertandingan ini akan secara langsung memengaruhi posisi PSIS dan tim-tim di sekitarnya. Jika Persiba berhasil meraih poin penuh, jarak dengan PSIS akan semakin melebar, menambah beban bagi Laskar Mahesa Jenar. Pertandingan Persiba Balikpapan Vs Persiku Kudus akan disiarkan secara langsung oleh SinPo.tv dan juga dapat disaksikan melalui live streaming Vidio, memberikan kesempatan bagi para penggemar untuk mengikuti perkembangan krusial di Grup 2.
Dengan kondisi klasemen yang demikian ketat dan tekanan yang semakin meningkat, setiap pertandingan di putaran ketiga Championship 2025/26 akan menjadi final bagi PSIS Semarang. Mereka harus segera menemukan konsistensi dan performa terbaik untuk mengamankan posisi mereka di kompetisi ini. Gol penyeimbang Rafael Rodrigues mungkin telah menyelamatkan satu poin, tetapi perjuangan panjang untuk keluar dari bayang-bayang zona merah baru saja dimulai, menuntut fokus, determinasi, dan strategi yang matang di setiap laga berikutnya.

















