Sebuah kemenangan yang sangat dinanti-nantikan akhirnya menghampiri PSM Makassar. Setelah melewati rentetan tujuh pertandingan tanpa kemenangan, tim berjuluk Juku Eja ini berhasil membungkam PSBS Biak dengan skor tipis 2-1 dalam laga Super League 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (8/2/2026). Meskipun tiga poin krusial ini mengakhiri tren negatif dan mengangkat posisi mereka di klasemen sementara, performa PSM Makassar secara keseluruhan justru menuai banyak kritik dan sorotan tajam dari berbagai pihak, memicu pertanyaan mendalam tentang kesiapan mereka menghadapi sisa musim kompetisi yang semakin ketat.
Kemenangan atas PSBS Biak ini bukan sekadar tiga poin biasa bagi PSM Makassar. Ini adalah penanda berakhirnya “puasa kemenangan” yang telah berlangsung selama tujuh pertandingan, sebuah periode yang tentu saja menggerus moral tim dan para suporter setia. Hasil positif ini secara signifikan memperlebar jarak PSM Makassar dari zona degradasi. Kini, Juku Eja bertengger di peringkat ke-13 klasemen sementara dengan koleksi 23 poin. Angka tersebut menempatkan mereka delapan poin di atas Semen Padang yang berada di posisi teratas zona merah. Di sisi lain, PSBS Biak, yang dijuluki Badai Pasifik, masih tertahan di posisi ke-15 dengan torehan 17 poin, hanya terpaut tipis dari jurang degradasi, menjadikan kekalahan ini semakin memberatkan posisi mereka.
Analisis Mendalam Kemenangan Krusial di Tengah Badai Kritik
Meskipun meraih kemenangan, performa PSM Makassar dalam pertandingan tersebut dinilai jauh dari memuaskan. Banyak pengamat dan suporter menilai bahwa permainan Juku Eja masih “kurang bagus” dan “belum terlalu padu.” Salah satu kelemahan paling mencolok terlihat di lini belakang. Pertahanan PSM Makassar berulang kali terbongkar dari umpan silang yang datang dari sisi kiri dan kanan. Situasi ini sangat mengkhawatirkan karena dalam filosofi sepak bola modern, semakin jauh bola dari area kotak penalti, semakin kecil pula peluang lawan untuk mencetak gol. Namun, kerapuhan di sisi sayap pertahanan PSM justru memberikan lawan kesempatan berulang kali untuk menciptakan ancaman berbahaya di jantung pertahanan.
Bukan hanya lini belakang yang menjadi sorotan, pola serangan PSM Makassar juga dinilai terlalu monoton dan mudah dibaca oleh lawan. Bola seringkali hanya diarahkan ke sektor sayap, tanpa variasi serangan yang berarti melalui lini tengah atau kombinasi umpan pendek yang cepat. Akibatnya, ketika memasuki sepertiga area pertahanan lawan, kesalahan umpan sering terjadi, membuat serangan yang dibangun terputus dan gagal menciptakan peluang emas. Hal ini menunjukkan kurangnya kreativitas dan koordinasi dalam fase menyerang, yang seharusnya menjadi kekuatan utama tim untuk mendominasi pertandingan.
Dewi fortuna seolah memihak PSM Makassar dalam laga ini. Anak asuh Tomas Trucha dinaungi keberuntungan besar ketika dua tembakan keras dari pemain PSBS Biak pada menit ke-88 dan 92 secara dramatis hanya membentur tiang kanan gawang. Momen-momen krusial ini bisa saja mengubah hasil akhir pertandingan menjadi imbang atau bahkan kekalahan bagi PSM Makassar, mengingat tekanan masif yang dilancarkan PSBS Biak di menit-menit akhir. Keberuntungan ini menjadi pengingat bahwa kemenangan tipis 2-1 ini tidak sepenuhnya mencerminkan dominasi permainan PSM.
Sorotan Tajam dari Statistik dan Pengamat Sepak Bola
Data statistik pertandingan semakin memperkuat narasi bahwa PSM Makassar kalah dalam dominasi permainan. Penguasaan bola klub asal Makassar ini hanya mencapai 38 persen, sangat jauh dibandingkan dengan 62 persen yang dibukukan oleh PSBS Biak. Dalam hal upaya menembak ke gawang, PSM Makassar melepaskan 10 tembakan dengan 6 di antaranya tepat sasaran. Sementara itu, PSBS Biak tampil lebih agresif dengan 21 kali menembak bola ke gawang PSM Makassar, meskipun hanya 3 yang tepat sasaran. Statistik ini jelas menunjukkan bahwa PSBS Biak lebih dominan dalam menciptakan peluang, meskipun kurang efektif dalam penyelesaian akhir.
Koordinator Komunitas VIP Utara (KVU), Darmansa Ancha, tidak ragu melontarkan kritik pedas. Ia menyebut performa PSM Makassar masih jauh dari harapan dan terkesan “biasa saja.” Menurutnya, tiga poin yang diraih semata-mata karena “lawan memang lemah dibanding dengan PSM Makassar.” Ancha menegaskan bahwa potensi tim PSM Makassar sebenarnya cukup besar dan meminta jajaran pelatih di bawah Tomas Trucha untuk memaksimalkan potensi pemain yang dimiliki. Ia juga menyoroti pentingnya membenahi transisi positif tim, karena miskoordinasi sering terjadi ketika membangun serangan. “Harus dibenahi adalah koordinasi tim saat membangun serangan, terutama para gelandang kita harus lebih kerja keras lagi termasuk dalam mengontrol permainan,” tuturnya.

















