- Para Badminton: Berhasil menyumbangkan 12 medali emas, jauh melampaui target awal lima emas, dan menempatkan diri sebagai penyumbang emas terbanyak ketiga bagi Indonesia.
- Para Judo: Mencatatkan sejarah dengan menyapu bersih seluruh nomor pertandingan yang diikuti, menghasilkan total 7 medali emas tanpa celah bagi lawan.
- Para Angkat Berat: Keluar sebagai juara umum dengan koleksi 9 medali emas dan 4 medali perak, menegaskan kekuatan fisik atlet Indonesia di panggung Asia Tenggara.
- Para Panahan: Menunjukkan akurasi tinggi dengan meraih predikat juara umum melalui raihan 5 medali emas, 2 medali perak, dan 3 medali perunggu.
Keberhasilan cabang-cabang olahraga ini menjadi indikator bahwa pemetaan potensi atlet yang dilakukan oleh Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia telah berjalan dengan sangat akurat. Sinergi antara dukungan fasilitas, sport science, dan dedikasi atlet menjadi kunci utama mengapa target-target yang sebelumnya dianggap ambisius justru mampu dilampaui dengan margin yang cukup lebar.
Rekor Baru dan Lahirnya Bintang Muda di Panggung Internasional
Prestasi Indonesia di ASEAN Para Games 2025 tidak hanya diukur dari jumlah medali, tetapi juga dari kualitas performa individu yang berhasil memecahkan rekor-rekor penting. Secara keseluruhan, kontingen Indonesia berhasil menorehkan 25 rekor baru di ajang ASEAN Para Games dari berbagai cabang olahraga. Bahkan, sebuah pencapaian fenomenal dicatatkan oleh Hellin Wardina di cabang Para Atletik, yang sukses memecahkan satu rekor Asia. Hal ini membuktikan bahwa standar atlet Indonesia kini telah melampaui level Asia Tenggara dan mulai mengancam dominasi negara-negara kuat di tingkat benua Asia.
Profil Atlet Berprestasi dan Fenomena Atlet Termuda
Di level individu, nama Jendi Pangabean kembali menjadi buah bibir. Atlet Para Renang andalan Indonesia ini tampil sebagai atlet tersukses dalam kontingen dengan raihan total tujuh medali emas. Konsistensi Jendi di setiap nomor yang ia ikuti menjadikannya peraih emas terbanyak di seluruh pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara tersebut, sekaligus mempertegas statusnya sebagai legenda hidup renang disabilitas Indonesia. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi rekan-rekan setimnya untuk terus memberikan performa terbaik di setiap laga.
Namun, sorotan media dan publik tidak hanya tertuju pada para senior. Siti Aisyah, atlet termuda dalam kontingen Indonesia yang baru menginjak usia 15 tahun, sukses mencuri perhatian dunia internasional. Meski masih remaja, Siti menunjukkan mentalitas juara dengan membawa pulang dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Lebih hebatnya lagi, ia berhasil mencatatkan dua rekor baru ASEAN Para Games atas namanya sendiri. Kehadiran Siti Aisyah menjadi sinyal positif bagi masa depan olahraga disabilitas Indonesia, membuktikan bahwa proses regenerasi atlet berjalan dengan sangat baik dan berkelanjutan.
Menutup rangkaian kompetisi yang penuh emosi dan prestasi ini, Reda Manthovani menyampaikan harapan besarnya agar hasil gemilang di Thailand menjadi momentum titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan di tanah air. Ia mendesak agar dukungan terhadap olahraga penyandang disabilitas, baik dari sektor pemerintah maupun swasta, terus ditingkatkan. Investasi pada infrastruktur olahraga yang aksesibel dan program beasiswa bagi atlet muda disabilitas diharapkan dapat terus diprioritaskan guna mempertahankan tren positif ini. Dengan semangat kesetaraan dan kerja keras, Indonesia optimis dapat terus mengibarkan bendera Merah Putih di podium tertinggi pada ajang-ajang internasional mendatang.
| Kategori Prestasi | Detail Pencapaian |
|---|---|
| Total Medali Indonesia | 392 Medali (135 Emas, 143 Perak, 114 Perunggu) |
| Peringkat Klasemen | Posisi Kedua (Runner-Up) |
| Rekor yang Dipecahkan | 25 Rekor ASEAN Para Games, 1 Rekor Asia |
| Cabor Juara Umum | Para Angkat Berat, Para Panahan, Para Judo |
| Atlet Tersukses | Jendi Pangabean (7 Medali Emas) |


















