JAKARTA – Kekalahan telak 0-7 dalam laga uji coba pertama melawan tim nasional Tiongkok U-17 pada 8 Februari 2026 di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, memicu sorotan tajam dari Kepala Pemandu Bakat Tim Nasional Indonesia, Simon Tahamata. Mantan pemain Ajax dan tim nasional Belanda ini secara tegas menyatakan ketidakpuasannya terhadap performa skuad Garuda Muda dalam pertandingan tersebut. Kekalahan yang memalukan ini menjadi catatan awal yang sangat tidak memuaskan bagi timnas U-17 yang tengah mempersiapkan diri menghadapi turnamen bergengsi di level Asia dan regional. Pertanyaan besar muncul mengenai kesiapan tim, strategi yang diterapkan, serta mentalitas para pemain muda di bawah tekanan lawan yang tangguh. Simon Tahamata, yang memiliki peran krusial dalam memantau dan mengembangkan bakat pesepakbola muda Indonesia, memberikan pandangan mendalam mengenai apa yang terjadi di lapangan dan bagaimana tim harus bangkit dari keterpurukan ini. Laga ini juga menjadi perhatian serius Direktur Teknik PSSI, Alexander Zwiers, yang turut memantau langsung perkembangan tim.
Evaluasi Mendalam Kekalahan Telak dan Perkembangan Positif di Laga Kedua
Pertandingan perdana melawan Tiongkok U-17 pada Ahad malam, 8 Februari 2026, di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, menyajikan gambaran suram bagi timnas Indonesia U-17. Sejak menit awal, dominasi tim tamu begitu kentara. Gawang Indonesia yang dikawal kiper muda harus kebobolan empat gol di babak pertama. Hal ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam lini pertahanan dan transisi permainan tim asuhan Nova Arianto. Para pemain tampak kesulitan dalam membangun serangan yang efektif dan kerap kehilangan bola di area berbahaya, yang berujung pada serangan balik cepat dari tim Tiongkok. Di babak kedua, situasi tidak banyak berubah. Tiongkok berhasil menambah tiga gol lagi, mengukuhkan kemenangan telak 7-0. Ironisnya, timnas Indonesia U-17 gagal mencetak satu gol pun meskipun bermain di hadapan pendukung sendiri. Simon Tahamata, yang menyaksikan langsung jalannya pertandingan, tak ragu melontarkan kritiknya. “Pertandingan pertama tidak bagus,” ujarnya singkat namun tegas saat ditemui di kawasan GBK Arena, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan mendalam atas performa yang jauh di bawah ekspektasi.
Namun, di tengah kekecewaan atas hasil laga pertama, Simon Tahamata menemukan secercah harapan dari pertandingan uji coba kedua yang kembali digelar di Indomilk Arena pada Rabu, 11 Februari 2026. Dalam laga tersebut, timnas Indonesia U-17 berhasil menunjukkan perlawanan yang jauh lebih baik, meskipun akhirnya harus mengakui keunggulan Tiongkok dengan skor tipis 2-3. Kekalahan di menit-menit akhir pertandingan, tepatnya pada masa injury time, menunjukkan peningkatan signifikan dalam mentalitas dan kemampuan bertanding para pemain muda Indonesia. “Yang kedua saya senang. Apa yang Coach Nova sampaikan untuk mereka, itu pemain bisa jalankan,” ungkap Simon dengan nada optimis. Ia mengapresiasi respons positif para pemain terhadap instruksi pelatih. Kemampuan tim untuk menyamakan kedudukan dua kali melalui skema bola mati menjadi bukti adanya kemajuan dalam eksekusi taktik dan kerja sama tim. Gol pertama Indonesia dicetak melalui tendangan bebas presisi Chico Jericho pada menit ke-21, yang membalas gol pembuka dari Zhao Songyuan di menit kesembilan. Setelah Tiongkok kembali unggul melalui He Sifan pada menit ke-36, timnas Indonesia U-17 kembali menunjukkan ketangguhannya. Penalti yang dieksekusi dengan sempurna oleh Miraj Sulaeman pada menit ke-47 berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Sayangnya, gol kemenangan Tiongkok yang dicetak oleh Zhang Bolin pada menit ke-90+4 menggagalkan upaya Indonesia untuk meraih hasil imbang.
Analisis Simon Tahamata: Pentingnya Keberanian dalam Duel dan Perspektif Jangka Panjang
Simon Tahamata menekankan bahwa dua kekalahan beruntun melawan tim sekuat Tiongkok U-17 ini seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan di kalangan publik maupun tim itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa Tiongkok memiliki kualitas tim yang sangat mumpuni dan merupakan salah satu kekuatan di level usia muda Asia. “Jangan lupa, Cina punya kesebelasan yang sangat bagus. Mereka bisa…,” ujar Simon, menyiratkan bahwa menghadapi tim sekelas Tiongkok memang membutuhkan persiapan dan kualitas ekstra. Sebagai mantan pemain yang pernah merasakan atmosfer kompetisi Eropa, Simon memiliki pemahaman mendalam tentang pentingnya mentalitas juang dan keberanian dalam setiap duel di lapangan. Ia berulang kali menekankan bahwa pemain timnas U-17 harus berani dalam menghadapi lawan, tidak gentar dalam melakukan tekel, maupun dalam duel udara. Keberanian ini, menurutnya, adalah kunci untuk bisa bersaing di level internasional. “Tidak usah khawatir, nanti bisa bagus,” tambahnya dengan keyakinan. Pernyataannya ini mencerminkan pandangan jangka panjangnya terhadap pengembangan tim. Ia melihat dua laga uji coba ini sebagai bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi yang krusial. Fokus utama saat ini adalah bagaimana tim pelatih dapat memanfaatkan momentum ini untuk membenahi kekurangan yang ada, terutama dalam aspek organisasi permainan, pertahanan yang solid, dan transisi dari menyerang ke bertahan, serta sebaliknya.
Lebih lanjut, Simon Tahamata juga memberikan pesan penting kepada para pendukung tim nasional Indonesia. Ia meminta agar suporter tidak memberikan tekanan yang berlebihan kepada para pemain muda, terutama menjelang turnamen penting seperti Piala Asia U-17 2026. Tekanan yang tidak perlu dapat berdampak negatif pada mentalitas pemain yang masih dalam tahap perkembangan. Dukungan yang positif dan konstruktif jauh lebih dibutuhkan untuk membangun kepercayaan diri skuad Garuda Asia. Simon, bersama dengan Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers, secara aktif memantau perkembangan timnas U-17. Kehadiran mereka di pinggir lapangan menunjukkan betapa seriusnya PSSI dalam mempersiapkan tim ini. Fokus mereka tidak hanya pada hasil pertandingan, tetapi juga pada proses pengembangan pemain dan strategi jangka panjang. Rangkaian uji coba ini, termasuk menghadapi tim-tim kuat seperti Tiongkok, merupakan bagian integral dari strategi PSSI untuk memastikan timnas U-17 siap tempur menghadapi tantangan di Piala Asia U-17 2026 yang akan diselenggarakan di Arab Saudi pada 7-24 Mei 2026. Selain itu, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah Piala AFF U-17 2026 pada 11-23 April 2026, yang semakin menegaskan urgensi dari persiapan matang ini.
Persiapan Menuju Turnamen Bergengsi: Piala Asia U-17 dan Piala AFF U-17
Dua pertandingan uji coba melawan Tiongkok U-17 ini merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda padat timnas Indonesia U-17 dalam rangka persiapan menuju dua turnamen besar yang akan dihadapi pada tahun 2026. Pertama adalah Piala Asia U-17 2026, sebuah kompetisi prestisius yang akan diselenggarakan di Arab Saudi pada periode 7 hingga 24 Mei 2026. Turnamen ini menjadi tolok ukur utama bagi perkembangan sepak bola usia muda di benua Asia, di mana timnas Indonesia U-17 akan berhadapan dengan tim-tim terbaik dari berbagai negara. Keikutsertaan di ajang ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian kualitas, tetapi juga kesempatan emas untuk mendapatkan pengalaman internasional yang sangat berharga. Selain itu, sebelum terjun ke kancah Asia, Indonesia juga akan mendapat kehormatan sebagai tuan rumah Piala AFF U-17 2026. Turnamen regional ini akan berlangsung di Indonesia pada 11 hingga 23 April 2026. Sebagai tuan rumah, ekspektasi terhadap penampilan timnas U-17 tentu akan semakin tinggi. Laga uji coba melawan Tiongkok, meskipun berakhir dengan dua kekalahan, memberikan gambaran konkret mengenai area mana saja yang perlu mendapatkan perhatian ekstra dari tim pelatih.
Fokus utama dari evaluasi pasca-uji coba ini adalah pembenahan organisasi permainan, khususnya dalam aspek pertahanan dan transisi. Pertahanan yang kokoh adalah fondasi penting bagi setiap tim yang ingin meraih hasil positif, terutama dalam turnamen yang kompetitif. Kemampuan untuk bertransisi dari fase menyerang ke bertahan dengan cepat dan efektif juga menjadi kunci untuk meredam serangan lawan dan membangun serangan balik yang mematikan. Simon Tahamata, dengan pengalamannya yang luas, menyadari bahwa proses peningkatan ini membutuhkan waktu dan kerja keras. Ia optimis bahwa dengan bimbingan dari pelatih Nova Arianto dan determinasi dari para pemain, timnas Indonesia U-17 dapat terus berkembang dan menunjukkan performa yang lebih baik di masa mendatang. Rangkaian uji coba ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk mencapai performa puncak saat kompetisi sesungguhnya dimulai, membawa nama baik sepak bola Indonesia di kancah internasional.

















