Gelombang kekecewaan melanda jagat sepak bola nasional menyusul insiden krusial di pekan ke-22 Super League 2025/2026. Absennya teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam duel sengit antara Persija Jakarta melawan PSM Makassar memicu protes keras dari kedua kubu pelatih, Mauricio Souza dari Persija dan Tomas Trucha dari PSM. Kejadian ini tidak hanya menyisakan pertanyaan besar tentang integritas dan keadilan keputusan di lapangan, tetapi juga secara fundamental diyakini mengurangi kualitas kompetisi elit sepak bola Indonesia, menyoroti tantangan serius bagi operator liga, I.League, dalam menjaga standar profesionalisme dan daya saing di kancah regional maupun global.
Insiden yang terjadi pada pertandingan krusial tersebut menjadi sorotan utama, menggambarkan ketegangan antara harapan akan standar sepak bola modern dan realitas implementasi di lapangan. Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia secara terang-terangan mengungkapkan bahwa ketiadaan VAR telah menghambat proses pengambilan keputusan yang adil dan akurat. Dalam pandangannya, teknologi ini seharusnya menjadi instrumen vital untuk membantu wasit dalam mengidentifikasi kesalahan, terutama dalam momen-momen penentu yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Namun, Souza juga menunjukkan sikap pragmatis, menyadari bahwa keputusan terkait penggunaan VAR berada di luar lingkup wewenangnya sebagai pelatih. Ia menerima bahwa urusan implementasi dan operasional VAR sepenuhnya merupakan ranah I.League selaku operator kompetisi.
“Jika ada VAR, mereka bisa masuk dalam pengambilan keputusan dan menentukan siapa yang membuat kesalahan. Tapi kita sudah diperingatkan bahwa tidak akan ada VAR dan tidak ada yang bisa kita lakukan,” ucap Souza, sebuah pernyataan yang mencerminkan kekecewaan mendalam namun juga penerimaan atas batasan yang ada. Pernyataan ini tidak hanya menyoroti frustrasinya terhadap absennya teknologi, tetapi juga mengindikasikan bahwa klub dan pelatih telah diinformasikan sebelumnya mengenai ketiadaan VAR, sebuah fakta yang menambah kompleksitas situasi. Ini bukan sekadar insiden mendadak, melainkan sebuah kondisi yang telah diketahui, namun tetap menimbulkan dampak signifikan terhadap persepsi keadilan dan kualitas pertandingan.
Ketika Teknologi VAR Gagal Hadir: Dampak Terhadap Integritas Kompetisi

















