Di tengah gelombang transformatif kecerdasan buatan (AI) yang kian merambah berbagai sektor industri, sebuah pencapaian monumental diraih oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang tidak hanya menorehkan sejarah di kancah nasional, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara dan global. BCA berhasil menjadi organisasi pertama di Indonesia, bank pertama di Asia Tenggara, dan salah satu dari 100 organisasi pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk sistem manajemen kecerdasan buatan (Artificial Intelligence Management System – AIMS). Prestasi ini, yang diraih melalui kolaborasi erat dengan Veda Praxis, konsultan manajemen terkemuka di Asia Tenggara, menegaskan komitmen mendalam BCA terhadap pengelolaan AI yang bertanggung jawab, etis, dan berpusat pada manusia, sekaligus memperkuat fondasi kepercayaan nasabah di era digital yang serba cepat ini. Sertifikasi ini diserahkan pada 6 Februari 2026, menandai sebuah era baru dalam tata kelola AI di Indonesia.
Fondasi Tata Kelola AI yang Bertanggung Jawab: Peran Kunci Veda Praxis dan ISO/IEC 42001:2023
Syahraki Syahrir, CEO Veda Praxis, menekankan krusialnya peran organisasi dalam memastikan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memberikan nilai nyata, tetapi juga dikelola secara bertanggung jawab. “Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai industri, Veda Praxis membantu organisasi memastikan bahwa penggunaan AI memberikan nilai nyata sekaligus dikelola secara bertanggung jawab,” ujar Syahraki dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 15 Februari 2026. Veda Praxis, dengan rekam jejak lebih dari dua dekade dalam bidang digital, GRC (Governance, Risk, and Compliance), dan *cybersecurity*, memposisikan diri sebagai mitra strategis bagi organisasi yang ingin mengintegrasikan AI secara efektif dan aman. Pendekatan Veda Praxis difokuskan pada pembentukan kerangka tata kelola yang kokoh, menerjemahkan prinsip-prinsip AI ke dalam kebijakan dan proses operasional yang konkret, serta melakukan penilaian kesiapan organisasi untuk memastikan adopsi AI selaras dengan tujuan bisnis, profil risiko yang ada, dan ketentuan regulasi yang berlaku. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa AI harus dikelola secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat maksimal sekaligus meminimalkan potensi risiko.
Standar ISO/IEC 42001:2023 merupakan pedoman global yang dirancang khusus untuk mengatur sistem manajemen AI. Standar ini mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari tata kelola AI yang komprehensif, manajemen risiko yang proaktif, hingga prinsip transparansi dan akuntabilitas yang fundamental. Dalam konteks sektor perbankan yang sangat bergantung pada data dan pengambilan keputusan yang akurat, standar ini menjadi semakin relevan. Pemanfaatan AI dalam perbankan telah merambah ke berbagai lini, termasuk dalam proses pengambilan keputusan kredit, pengelolaan risiko operasional, deteksi dan pencegahan *fraud*, hingga peningkatan kualitas layanan nasabah. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap ISO/IEC 42001:2023 bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bukti nyata komitmen sebuah organisasi terhadap praktik AI yang aman, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
BCA: Pionir dalam Sertifikasi Manajemen AI di Asia Tenggara
Pencapaian BCA sebagai organisasi pertama di Indonesia dan bank pertama di Asia Tenggara yang meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 merupakan tonggak sejarah yang signifikan. Lebih jauh lagi, statusnya sebagai salah satu dari 100 organisasi pertama di dunia yang berhasil mendapatkan sertifikasi ini menempatkannya di garda terdepan dalam penerapan standar global untuk manajemen AI. Sertifikasi ini diserahkan secara resmi pada Jumat, 6 Februari 2026, dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Menara BCA. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan BCA, termasuk Direktur Lianawaty Suwono, Senior EVP Group Strategic Information Technology David Formula, EVP Enterprise IT Architecture, Data Management, Service Quality Group Lily Wongso, serta CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir. Kehadiran para petinggi ini menunjukkan betapa pentingnya pencapaian ini bagi BCA dan industri secara keseluruhan.
Dalam proses sertifikasi ISO 42001, Veda Praxis bekerja secara sinergis dengan tim BCA untuk memastikan bahwa kerangka tata kelola AI yang dikembangkan terintegrasi secara utuh dengan tata kelola perusahaan dan sistem manajemen risiko yang telah berjalan. Pendekatan kolaboratif ini bertujuan untuk memperkuat struktur akuntabilitas, memberikan kejelasan yang lebih besar mengenai tanggung jawab dalam penggunaan AI, serta menempatkan pemanfaatan AI sebagai bagian integral dari proses bisnis dan pengambilan keputusan strategis, bukan sekadar sebagai pemenuhan persyaratan administratif semata. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat teknologi, tetapi juga menjadi elemen strategis yang mendukung pencapaian tujuan bisnis BCA secara efektif dan efisien.
Membangun Kepercayaan Nasabah Melalui Perlindungan Data dan Tata Kelola AI
Pada kesempatan yang sama dengan penyerahan sertifikasi ISO 42001, BCA juga berhasil meraih sertifikasi ISO 27701:2019 untuk *Privacy Information Management System* (PIMS). Standar internasional ini berfokus pada pengelolaan privasi dan perlindungan data pribadi. Perolehan kedua sertifikasi ini secara bersamaan menunjukkan komitmen BCA yang holistik dalam menjaga keamanan dan kepercayaan nasabah di tengah pesatnya transformasi digital yang sedang berlangsung. Dalam era di mana data pribadi menjadi aset yang sangat berharga dan rentan terhadap penyalahgunaan, kepemilikan sertifikasi PIMS menjadi bukti nyata upaya BCA untuk melindungi informasi sensitif nasabah secara maksimal.
Lianawaty Suwono, Direktur BCA, menegaskan bahwa kepercayaan nasabah merupakan fondasi utama bagi keberhasilan yang telah diraih oleh BCA. “Sertifikasi ISO privasi data dan kelola AI ini menjadi bukti komitmen kami dalam menjaga kepercayaan dan keamanan data nasabah, sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab,” ujar Lianawaty. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan AI, harus selalu berjalan seiring dengan upaya perlindungan data dan privasi pengguna. Kepercayaan nasabah tidak dapat dibangun hanya dengan menawarkan produk dan layanan yang inovatif, tetapi juga dengan menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keamanan dan integritas data mereka.
AI Governance: Kunci Inovasi yang Bertanggung Jawab dan Beretika
Pencapaian BCA ini merupakan tonggak penting bagi industri jasa keuangan, terutama di kawasan Asia Tenggara. Seiring dengan semakin besarnya pengaruh AI dalam proses pengambilan keputusan dan penyediaan layanan publik, isu tata kelola AI (AI Governance) bertransformasi dari sekadar isu teknis menjadi isu strategis yang krusial. “Semoga sertifikasi ini dapat menjadi katalis bagi penguatan praktik penggunaan AI yang bertanggung jawab dan beretika, baik di tingkat industri, nasional, maupun kawasan Asia Tenggara. Kami bangga dapat mendampingi BCA dalam langkah penting ini,” ujar Syahraki Syahrir dari Veda Praxis. Pernyataan ini menunjukkan harapan bahwa keberhasilan BCA dapat mendorong organisasi lain untuk mengadopsi praktik tata kelola AI yang serupa, menciptakan ekosistem AI yang lebih aman dan terpercaya.
Penerapan AI Governance yang efektif sangat penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap teknologi AI. Hal ini juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang dan menjamin penggunaan teknologi secara inklusif dan bertanggung jawab. Meskipun demikian, implementasi AI Governance tidak lepas dari tantangan, termasuk kompleksitas teknis, kebutuhan akan sumber daya yang kompeten, dan perubahan regulasi yang dinamis. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh BCA, dengan komitmen yang kuat dan kemitraan strategis, tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi. Pencapaian BCA dalam meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 tidak hanya menandai langkah penting bagi penguatan tata kelola AI di kawasan, tetapi juga memberikan arah yang jelas bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN dalam membangun praktik tata kelola AI yang bertanggung jawab, beretika, dan berpusat pada manusia, yang pada akhirnya akan menjadi fondasi bagi inovasi yang berkelanjutan dan terpercaya.

















