Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara resmi telah menginisiasi langkah strategis melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya preventif menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang kerap melanda ibu kota pada awal tahun. Langkah ini diambil bukan sebagai upaya untuk meniadakan atau menghentikan siklus hujan secara total, melainkan sebuah intervensi teknologi untuk mengalihkan konsentrasi curah hujan agar jatuh di wilayah perairan sebelum mencapai daratan Jakarta. Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menegaskan bahwa secara fundamental, manusia tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan fenomena alam seperti hujan. Namun, dengan kemajuan ilmu pengetahuan meteorologi, otoritas terkait dapat melakukan manajemen distribusi hujan dengan cara mengalihkan awan-awan potensial yang membawa massa air besar ke lokasi yang lebih aman, yakni di atas permukaan laut, guna meminimalisir risiko banjir dan genangan di kawasan permukiman padat penduduk.
Strategi Mitigasi Berbasis Sains: Mengalihkan Presipitasi di Wilayah Perairan
Dalam keterangannya pada Sabtu, 17 Januari 2026, Mohammad Yohan menjelaskan secara mendalam mengenai mekanisme kerja OMC yang mengedepankan prinsip-prinsip ilmiah. Operasi ini menargetkan sel-sel awan hujan yang terpantau radar sedang bergerak menuju wilayah daratan Jawa Barat dan Jakarta. Dengan menggunakan armada pesawat yang telah dimodifikasi, tim ahli melakukan penyemaian garam pada awan-awan tersebut saat posisinya masih berada di atas perairan Selat Sunda. Proses ini bertujuan untuk mempercepat terjadinya presipitasi atau proses jatuhnya hujan lebih awal dari waktu alaminya. Dengan demikian, energi dan kandungan air yang dibawa oleh awan tersebut akan luruh di laut, sehingga ketika sisa awan tersebut bergerak masuk ke wilayah daratan, intensitas hujan yang dihasilkan sudah jauh berkurang atau bahkan sudah habis sama sekali. Strategi ini dianggap paling efektif untuk melindungi infrastruktur vital dan mobilitas warga Jakarta dari potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Seluruh rangkaian operasional OMC ini tidak berjalan secara mandiri, melainkan melalui koordinasi ketat dan perhitungan meteorologis yang presisi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Penentuan titik koordinat penyemaian didasarkan pada analisis data satelit yang menunjukkan pergerakan angin dan pertumbuhan awan kumulonimbus. Yohan mencontohkan operasi yang baru saja dilaksanakan di kawasan Selat Sunda, di mana wilayah tersebut merupakan jalur masuk utama massa udara basah yang berpotensi memicu hujan lebat di Jakarta. Dengan meluruhkan potensi hujan di sana, BPBD DKI Jakarta berhasil menciptakan semacam “pagar pelindung” atmosfer yang mengurangi beban drainase kota. Selain itu, Yohan memastikan bahwa OMC tidak memberikan dampak negatif terhadap ekosistem lingkungan sekitar karena pelaksanaannya mematuhi kaidah ilmiah yang ketat serta menggunakan bahan semai yang ramah lingkungan, sehingga keseimbangan alam tetap terjaga meskipun dilakukan intervensi cuaca.
Detail Teknis dan Operasional: Mobilisasi Alutsista dan Logistik Semai
Pelaksanaan OMC yang dimulai pada Jumat, 16 Januari 2026, merupakan operasi terpadu yang melibatkan kekuatan penuh dari TNI Angkatan Udara. Operasi ini dipusatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dengan mengerahkan pesawat angkut ringan jenis CASA 212 A-2105 milik TNI AU yang telah dikonfigurasi khusus untuk misi penyemaian awan. Pada hari pertama pelaksanaan, tim gabungan telah berhasil menyemai sebanyak 1,6 ton atau sekitar 1.600 kilogram garam jenis natrium klorida (NaCl) ke dalam atmosfer. Operasi ini direncanakan akan berlangsung secara kontinu selama lima hari berturut-turut, mulai dari tanggal 16 hingga 20 Januari 2026, tergantung pada perkembangan dinamika cuaca di lapangan. Pengerahan logistik dalam jumlah besar ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam memitigasi dampak cuaca ekstrem yang seringkali menjadi pemicu utama bencana banjir di wilayah megapolitan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Isnawa Adji, memberikan rincian teknis mengenai jalannya operasi pada hari pertama yang terbagi dalam dua sorti penerbangan. Sorti pertama lepas landas pada pukul 13.28 WIB dan menyelesaikan misinya pada pukul 14.48 WIB, dengan menyasar ketinggian jelajah antara 8.000 hingga 12.000 kaki. Dalam sorti pembuka ini, sebanyak 800 kilogram NaCl disemai secara merata pada sel awan yang sedang tumbuh di atas Selat Sunda. Tak lama berselang, sorti kedua dilaksanakan pada pukul 15.40 hingga 17.30 WIB dengan target ketinggian yang lebih spesifik di angka 9.000 kaki, membawa muatan bahan semai dengan volume yang sama, yakni 800 kilogram. Penentuan ketinggian ini sangat krusial karena harus tepat berada di lapisan awan yang memiliki kandungan air optimal agar proses nukleasi atau pembentukan tetesan hujan dapat berlangsung secara efektif dan cepat.
| Detail Operasional | Sorti 1 | Sorti 2 |
|---|---|---|
| Waktu Pelaksanaan | 13.28 – 14.48 WIB | 15.40 – 17.30 WIB |
| Ketinggian Penyemaian | 8.000 – 12.000 Kaki | 9.000 Kaki |
| Bahan Semai (NaCl) | 800 Kilogram | 800 Kilogram |
| Lokasi Target | Perairan Selat Sunda | Perairan Selat Sunda |
Sinergi Lintas Sektoral dan Keamanan Lingkungan dalam Rekayasa Cuaca
Keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca ini sangat bergantung pada sinergi lintas sektoral yang harmonis antara penyedia data, eksekutor lapangan, dan koordinator logistik. BPBD DKI Jakarta berperan sebagai garda terdepan dalam memantau dampak di daratan, sementara BMKG menyediakan panduan navigasi meteorologi yang menjadi dasar penentuan waktu dan lokasi penyemaian. TNI AU, dengan kapabilitas penerbangannya, memastikan bahan semai tersalurkan tepat sasaran di tengah kondisi atmosfer yang seringkali turbulen. Isnawa Adji menekankan bahwa fokus utama penyemaian di Selat Sunda adalah sebuah langkah mitigasi dini yang sangat strategis. Dengan mengendalikan pertumbuhan awan sebelum mereka memasuki koridor angin yang mengarah ke Jakarta, potensi banjir bandang akibat luapan sungai maupun genangan akibat drainase yang meluap dapat ditekan secara signifikan, memberikan rasa aman bagi jutaan warga yang beraktivitas di ibu kota.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai dampak lingkungan dari penggunaan garam dalam jumlah besar di atmosfer, para ahli dari BPBD dan BMKG menegaskan bahwa prosedur ini sepenuhnya aman. NaCl atau garam dapur yang digunakan adalah senyawa alami yang juga terdapat di lautan dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi. Ketika garam ini disemai di awan dan jatuh bersama hujan ke laut, ia tidak akan mengubah salinitas air laut secara signifikan atau merusak kualitas udara. Justru, teknologi ini merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap perubahan iklim yang menyebabkan pola cuaca menjadi semakin tidak menentu dan ekstrem. Dengan pengawasan yang ketat dan evaluasi harian selama masa operasi lima hari tersebut, pemerintah berharap dapat melewati puncak musim hujan tahun 2026 dengan tingkat kerugian materiil dan jiwa yang seminimal mungkin, sekaligus membuktikan bahwa manajemen bencana berbasis teknologi adalah kunci utama dalam pengelolaan wilayah perkotaan yang rentan seperti Jakarta.


















