Indonesia mengambil langkah monumental dalam upayanya menguasai teknologi semikonduktor global, sebuah pilar krusial dalam transformasi digital dan kemandirian teknologi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian kerangka kerja sama antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan raksasa teknologi Inggris, Arm Limited, di London. Peristiwa bersejarah ini, yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, menandai dimulainya babak baru dalam pengembangan sumber daya manusia dan penguasaan kekayaan intelektual di sektor yang sangat menentukan masa depan industri global. Kesepakatan ini tidak hanya berfokus pada pelatihan ribuan insinyur Indonesia, tetapi juga pada pengembangan desain chip nasional yang akan menopang berbagai sektor strategis, dari otomotif hingga komputasi kuantum, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Membangun Kedaulatan Teknologi Melalui Penguasaan Desain Semikonduktor
Penandatanganan perjanjian kerangka kerja sama antara BPI Danantara dan Arm Limited, yang berlangsung di London pada Senin, 23 Februari 2025, bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah sebuah deklarasi niat yang kuat dari Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai nilai industri semikonduktor global. Arm Limited, sebagai pemimpin dunia dalam desain chip, memegang peranan sentral dalam ekosistem ini. Perusahaan Inggris ini dikenal luas karena lisensi desain arsitektur prosesornya yang diadopsi oleh hampir semua produsen chip terkemuka di dunia, termasuk Apple, Qualcomm, dan Samsung. Penguasaan Arm atas pasar desain chip, yang mencapai sekitar 96% untuk sektor otomotif global dan hampir 94% untuk pusat data serta pengembangan kecerdasan buatan (AI), menegaskan signifikansi kemitraan ini bagi Indonesia.
Dalam keterangan pers yang dirilis oleh Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Selasa, 24 Februari, Rosan, salah satu pihak yang terlibat dalam kesepakatan, mengungkapkan detail penting mengenai program pelatihan. “Ada 15 ribu engineer kita yang akan dilatih oleh Arm, baik dengan mengirimkan mereka ke sini ataupun nanti pengajar mereka akan datang ke Indonesia dengan modul-modulnya,” ujarnya. Angka 15.000 insinyur ini menunjukkan skala ambisi Indonesia untuk menciptakan ekosistem talenta yang kuat dan mumpuni di bidang semikonduktor. Pelatihan ini mencakup berbagai tingkatan keahlian, mulai dari dasar hingga tingkat lanjut, yang dirancang untuk membekali para insinyur Indonesia dengan pengetahuan dan keterampilan terkini dalam desain chip. Model pelatihan yang fleksibel, baik melalui pengiriman peserta ke Inggris maupun kedatangan instruktur ke Indonesia, memastikan jangkauan dan efektivitas program.
Fokus pada Kekayaan Intelektual Strategis dan Diversifikasi Sektor
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis yang akan memposisikan Indonesia untuk menguasai teknologi semikonduktor secara mendalam. Fokus utama pengembangan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga merambah pada penciptaan kekayaan intelektual (IP) nasional. “Pengembangan enam desain chip nasional nantinya akan difokuskan pada bidang intellectual property (IP) strategis,” ungkap Airlangga. Hal ini berarti Indonesia tidak hanya akan mampu memproduksi atau menggunakan chip, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merancang dan memiliki desain chip itu sendiri, yang merupakan aset strategis dalam industri teknologi.
Diversifikasi sektor menjadi kunci dalam strategi pengembangan IP ini. Airlangga memaparkan bahwa pengembangan IP tersebut dapat diarahkan ke berbagai sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi dan relevansi strategis bagi Indonesia. Sektor-sektor yang menjadi prioritas meliputi teknologi otomotif, yang terus berkembang pesat dengan tren kendaraan listrik dan otonom; internet of things (IoT), yang menjadi tulang punggung revolusi industri 4.0; pusat data, yang kian vital seiring dengan ledakan data digital; serta peralatan rumah tangga yang semakin cerdas dan terhubung. Lebih jauh lagi, Indonesia juga membuka pintu untuk eksplorasi teknologi masa depan yang sangat menjanjikan, seperti kendaraan otonom, yang memerlukan chip berkinerja tinggi dan keandalan ekstrem, serta komputasi kuantum, yang berpotensi merevolusi berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks kepemilikan kekayaan intelektual, Airlangga menegaskan pentingnya menjaga agar hak kepemilikan tetap berada di tangan Indonesia. “Pembahasan lanjutan mengenai pilihan IP akan dilakukan bersama Danantara agar kepemilikan kekayaan intelektual tetap berada di tangan Indonesia,” jelasnya. Pendekatan ini sangat krusial untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mendapatkan manfaat teknologi, tetapi juga membangun aset strategis jangka panjang yang dapat memberikan keuntungan ekonomi dan kedaulatan teknologi. Arm, sebagai perusahaan yang menguasai pasar semikonduktor global, terutama pada sisi desain chip yang berada di hulu industri, menjadi mitra ideal untuk mewujudkan ambisi ini. Penguasaan Arm atas teknologi chip untuk sektor otomotif global (sekitar 96%) dan pusat data serta AI (hampir 94%) memberikan gambaran betapa pentingnya posisi strategis Indonesia dalam ekosistem ini.
Lebih lanjut, Airlangga mengulang kembali target ambisius terkait pelatihan insinyur, sejalan dengan pernyataan Rosan. “Indonesia menargetkan pelatihan terhadap sekitar 15 ribu insinyur dalam skema kerja sama dengan Arm,” katanya. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini dirancang untuk berkelanjutan, mencakup pengembangan generasi semikonduktor berikutnya. Tujuannya adalah untuk membangun kapabilitas berkelanjutan di bidang semikonduktor dan desain chip di Indonesia. “Dengan kerja sama ini diharapkan Indonesia bisa melakukan pelatihan terhadap 15 ribu engineers kita di dalam ekosistem Arm, agar mereka bisa menguasai teknologi chip design,” ujar Airlangga. Komitmen jangka panjang ini mencerminkan visi Indonesia untuk tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga menjadi pemimpin di masa depan dalam industri semikonduktor.
Keseluruhan inisiatif ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. “Kerja sama yang terjalin kali ini adalah tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat penguasaan teknologi nasional secara mandiri dalam membangun ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional,” ungkap Airlangga. Penguasaan teknologi semikonduktor dipandang sebagai fondasi penting untuk mencapai ketahanan di berbagai sektor vital. Dengan memiliki kemampuan desain dan produksi chip yang kuat, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada negara lain, meningkatkan efisiensi dalam sektor pangan melalui teknologi pertanian presisi, dan mendukung pengembangan energi terbarukan serta infrastruktur energi yang lebih efisien. Visi Indonesia Emas 2045, yang menitikberatkan pada kemandirian dan kemajuan teknologi, semakin mendekat dengan langkah-langkah strategis seperti ini.
















