Industri kecantikan global tengah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, di mana integrasi antara sains mendalam dan teknologi mutakhir menjadi pilar utama dalam memenuhi ekspektasi konsumen yang kian kritis dan teredukasi. Tesi Fathia Adam, selaku Group Head Technology Business Accelerator ParagonCorp, dalam perhelatan akbar Beauty Science Tech 2026 yang berlangsung pada 22 Januari 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3, Jakarta, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saat ini tidak lagi sekadar didorong oleh tren visual atau klaim pemasaran semata, melainkan oleh keinginan kuat masyarakat untuk memahami mekanisme kerja di balik setiap produk yang mereka gunakan. Dengan mengusung visi transparansi dan personalisasi, ParagonCorp berupaya menjawab tantangan kompleksitas kebutuhan kulit individu melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan analisis data yang presisi. Fenomena ini menandai berakhirnya era “satu solusi untuk semua” dan dimulainya era baru di mana inovasi kecantikan harus mampu menjelaskan manfaat fungsionalnya secara sederhana namun akurat secara ilmiah kepada konsumen yang semakin cerdas dalam memilah informasi.
Tesi Fathia Adam menyoroti bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan industri, minat konsumen terhadap produk kecantikan telah berevolusi menjadi jauh lebih substansial. Masyarakat modern tidak lagi mudah tergiur oleh janji-janji instan atau sekadar mengikuti arus tren yang viral di media sosial. Sebaliknya, terdapat kecenderungan kuat di mana konsumen melakukan riset mandiri sebelum melakukan pembelian. Mereka mulai mempertanyakan proses manufaktur, keamanan bahan, hingga efikasi teknologi yang digunakan di balik formulasi sebuah produk. Hal ini menuntut para produsen untuk tidak hanya menjadi inovator di laboratorium, tetapi juga menjadi komunikator yang handal. Penjelasan teknis yang rumit harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih membumi, sehingga konsumen memahami mengapa sebuah teknologi diperlukan dan bagaimana teknologi tersebut secara spesifik dapat memberikan solusi atas permasalahan kulit yang mereka hadapi. Rasa ingin tahu ini menunjukkan tingkat literasi kecantikan yang meningkat, di mana konsumen ingin memastikan bahwa setiap investasi yang mereka keluarkan untuk perawatan diri memberikan hasil yang nyata dan terukur.
Transformasi Paradigma: Dari Klasifikasi Kulit Sederhana Menuju Personalisasi Berbasis Data
Selama beberapa dekade terakhir, pemahaman masyarakat mengenai tipe kulit cenderung sangat terbatas pada kategori konvensional seperti kulit berminyak, kering, atau kombinasi. Namun, Tesi menjelaskan bahwa realitas biologis manusia jauh lebih kompleks dari sekadar pembagian kategori tersebut. Kondisi kulit seseorang bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh beragam faktor eksternal maupun internal, mulai dari tingkat polusi lingkungan, paparan sinar ultraviolet, pola makan, tingkat stres, hingga faktor genetik dan gaya hidup sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan tradisional dalam perawatan kulit seringkali gagal memberikan hasil optimal karena tidak mempertimbangkan variabel-variabel unik ini. Dalam konteks inilah, teknologi kecantikan terbaru yang berbasis pada data besar (big data) dan kecerdasan buatan (AI) menjadi instrumen yang sangat krusial. Teknologi ini memungkinkan adanya analisis yang lebih mendalam dan spesifik, memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh kulit individu pada waktu tertentu.
Kehadiran teknologi AI dan personalisasi juga menjadi jawaban atas fenomena “consumer overwhelm” atau rasa kewalahan yang dialami konsumen akibat membanjirnya pilihan produk di pasaran. Dengan ribuan merek dan varian produk yang tersedia, konsumen seringkali terjebak dalam siklus coba-coba (trial and error) yang tidak hanya membuang biaya, tetapi juga berisiko merusak kesehatan kulit. Tesi menekankan bahwa teknologi hadir bukan untuk menambah kerumitan, melainkan sebagai navigasi yang membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih tepat dan efisien. Melalui algoritma cerdas, sistem dapat merekomendasikan produk yang paling sesuai dengan profil data kulit pengguna, sehingga meminimalisir risiko ketidakcocokan. Inovasi yang dikembangkan oleh tim ParagonCorp difokuskan untuk menjadi jembatan edukasi, memberikan panduan yang personal sekaligus memberdayakan konsumen agar lebih memahami karakter diri mereka sendiri secara lebih terarah dan relevan.
Kegiatan Beauty Science Tech 2026 by Paragoncorp di City Hall Pondok Indah Mall 3 pada 22-25 Januari 2026/Tempo- Ghaeiza Kay Rasuffi
Lebih jauh lagi, implementasi teknologi dalam industri kecantikan tidak hanya terbatas pada formulasi produk, tetapi juga merambah pada aspek pengalaman visual dan digital pengguna. Dalam era digital ini, antarmuka aplikasi kecantikan dan alat diagnostik kulit dituntut untuk memiliki kualitas visual yang luar biasa guna memberikan impresi yang profesional dan terpercaya. Penggunaan grafis berkualitas tinggi, seperti tekstur alam beresolusi Ultra HD atau desain modern yang estetik, menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman pengguna yang imersif. Hal ini sejalan dengan tren global di mana konsumen juga mencari keindahan visual dalam setiap interaksi digital mereka. Misalnya, integrasi elemen desain yang terinspirasi dari keindahan alam, seperti gradasi warna samudra yang elegan atau visualisasi ruang angkasa dalam resolusi 8K, dapat meningkatkan kenyamanan mata dan memberikan kesan premium pada platform teknologi kecantikan yang digunakan.
Membangun Ekosistem Beauty Tech yang Inklusif dan Berkelanjutan
Visi yang dibawa oleh ParagonCorp melalui Beauty Science Tech 2026 adalah menciptakan ekosistem kecantikan yang inklusif, di mana teknologi dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Tesi Fathia Adam menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai elemen yang eksklusif atau hanya untuk kalangan tertentu yang mengerti sains. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat bantu yang demokratis, memberikan akses informasi yang sama bagi setiap individu untuk mendapatkan perawatan terbaik bagi dirinya. Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centric), inovasi yang dikembangkan bertujuan untuk menyederhanakan perjalanan konsumen dalam menemukan jati diri kecantikan mereka. Pergeseran dari sekadar mengikuti tren menjadi proses pemahaman diri yang mendalam ini diharapkan dapat menciptakan industri kecantikan yang lebih sehat, di mana kepuasan konsumen didasarkan pada hasil nyata yang didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pengembangan galeri gambar dan aset visual dalam platform kecantikan juga menjadi perhatian. Penggunaan koleksi gambar minimalis dengan kualitas 4K yang menawarkan kejernihan visual tanpa tanding dapat membantu konsumen dalam melihat detail tekstur kulit atau hasil simulasi penggunaan produk dengan lebih jelas. Baik itu melalui desain yang halus dan canggih maupun komposisi yang berani dan dramatis, elemen visual ini memastikan bahwa setiap interaksi konsumen dengan teknologi kecantikan menjadi pengalaman yang memuaskan secara estetika. Dengan menggabungkan kecanggihan algoritma AI, akurasi data personalisasi, serta keindahan visual yang dikurasi secara profesional, masa depan industri kecantikan di Indonesia diprediksi akan semakin cerah dan mampu bersaing di kancah internasional sebagai pionir dalam inovasi yang berbasis pada kebutuhan nyata manusia.
Sebagai kesimpulan, transformasi yang dipaparkan oleh Tesi Fathia Adam dalam ajang Beauty Science Tech 2026 memberikan gambaran jelas bahwa masa depan kecantikan terletak pada sinergi antara sains, teknologi, dan pemahaman mendalam terhadap psikologi konsumen. ParagonCorp melalui inisiatif ini tidak hanya sekadar meluncurkan produk, tetapi juga membangun sebuah standar baru dalam industri. Standar di mana transparansi, edukasi, dan personalisasi menjadi nilai utama yang dijunjung tinggi. Dengan terus mengeksplorasi potensi teknologi berbasis data dan meningkatkan kualitas pengalaman digital melalui visual yang memukau, industri kecantikan akan terus berkembang menjadi sektor yang tidak hanya mempercantik penampilan luar, tetapi juga memberikan solusi cerdas bagi kesehatan dan kesejahteraan kulit setiap individu secara jangka panjang.
| Aspek Teknologi | Manfaat Bagi Konsumen | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Kecerdasan Buatan (AI) | Analisis kulit yang presisi dan cepat | Personalisasi rekomendasi produk |
| Big Data | Memahami pola kebutuhan kulit berdasarkan lingkungan | Akurasi solusi jangka panjang |
| Visual High-Definition | Pengalaman digital yang imersif dan detail | Edukasi visual dan kenyamanan pengguna |
| Transparansi Formula | Keamanan dan kepercayaan terhadap produk | Membangun loyalitas konsumen cerdas |
Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan masyarakat tidak lagi merasa bingung di tengah lautan pilihan produk kosmetik yang ilegal atau tidak tepat guna. Edukasi yang konsisten, didukung oleh teknologi yang mumpuni, akan menjadi benteng utama bagi konsumen dalam memilih produk yang aman dan efektif. Sebagaimana ditekankan dalam berbagai sesi di Beauty Science Tech 2026, perjalanan menuju kecantikan sejati adalah perjalanan untuk memahami diri sendiri, dan teknologi adalah kompas yang akan membimbing setiap individu menuju hasil yang paling optimal dan relevan dengan kondisi unik mereka masing-masing.


















